Prestasi Akademis Penting Tapi Bukan Segalanya

Berikut ini adalah arsip artikel mengenai Prestasi Akademis Penting Tapi Bukan Segalanya. Mudah-mudahan bisa kita jadikan sebagai tambahan referensi terkait dengan masalah pendidikan.

Prestasi Akademis Penting Tapi Bukan Segalanya
Prestasi Akademis Penting Tapi Bukan Segalanya 

Prestasi Akademis Penting Tapi Bukan Segalanya 

Hingga kini, orangtua dan sekolah, masih banyak yang hanya mengejar prestasi akademis untuk anak-anak dan siswanya. Memang, prestasi akademis penting, namun bukan segala-galanya. 

Ayah dan Bunda apa yang akan Anda jawab jika muncul pertanyaan, mana yang lebih penting antara pres­tasi akademis atau prestasi nonakademis? Mampukah ayah dan bunda menjawabnya.

Pakar pendidikan Munif Chatib me­miliki jawaban sendiri. Menurutnya, kemampuan akademis dan kemampuan nonakademis harus berjalan beriringan. ”Akademis memang diperlukan anak-­anak kita. Namun yang menjadi permasalahannya adalah kebanyakan sekolah menempatkan aka­demis di atas segalanya. Masalahnya adalah kedudukannya,” jelasnya.

Sebelum lebih jauh membahas ke­dudukan akademis dan nonakademis baiknya dilihat dulu apa pengertian dari masing­masing. Menurut para ahli, akademis adalah kemampuan yang dapat diukur secara pasti karena ilmu pengetahuan itu sendiri bersifat pasti dan dapat diuji kebenarannya. Biasanya berkaitan dengan kegiatan formal yang diadakan di institusi atau lembaga tertentu seperti sekolah dan universitas.

Kemampuan akademis seseorang diidentikan dengan kecerdasan otak kiri karena berhubungan dengan logika. Ukurannya bisa berupa nilai atau sering disebut prestasi akademik. 

Sedangkan nonakademis adalah sesuatu di luar hal­hal yang bersifat ilmiah dan tidak terpaku pada satu teori tertentu. Yaitu berupa kegiatan non­ formal dimana kita bisa mendapatkan kemampuan­kemampuan dari mana saja dan tidak harus dari lembaga ins­ titusi tertentu.

Kemampuan nonakademis diiden­tikkan dengan kecerdasan otak kanan yang lebih mengandalkan rasa, kreativitas, emosi, dan imajinasi. Berbeda dengan akademis, kemampuan nonakademis seseorang sulit diukur secara pasti karena tidak ada salah dan benar di dalamnya. Contoh kemampuan nonakademis antara lain seni berkomunikasi, memiliki kepri­badian yang kuat, kemandirian, dan kecakapan memimpin.

Melihat definisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kemam­puan akademis dan nonakademis merupakan dua hal yang sama­sama penting dioptimalkan dalam diri seseorang, karena sangat berguna dalam kehidupan. Sebab kemampuan akademis yang mumpuni tanpa diikuti kemampuan nonakademis yang baik, tidak bisa menjamin keberhasilan seseorang.

Salah Jurusan

Berdasarkan pengalaman pribadi, Munif mengaku saat lulus SMU tidak tahu apa minatnya dan bahkan tidak paham harus mengambil jurusan apa saat ku­liah. Padahal ia termasuk siswa dengan nilai yang membanggakan.

Pada akhirnya Munif terpaksa men­jalani kuliah jurusan hukum, hal yang bukan minatnya. Hasilnya, begitu lu­lus kuliah kemudian bekerja sebagai pengacara, semua kasus yang ditanga­ninya tidak ada yang menang satupun. Akhirnya ia mengundurkan diri dan menerima tawaran sebagai pengajar.

”Intinya adalah apabila seseorang menjalani hal yang bukan minat dan passion­nya maka ia tidak akan bisa profesional,” tegas Munif.

Pengalaman pribadi lainnya adalah Munif sempat mengalami kesulitan menemukan sekolah yang sesuai un­tuk putrinya yang berkebutuhan khu­sus. Mulai dari TK, SD hingga SMP. 

”Merujuk pada riset berdasarkan multiple inteligent theory, ternyata anak saya mengalami gangguan parsial. Tapi sekolah masih saja melihat sisi kognitif. Dia juga disleksia dan kesulit­an juga dengan angka­-angka. Tapi dia bagus di menggambar,” jelas Munif.

Kini, sang putri telah lulus dari Universitas Surabaya jurusan Desain Fashion dan Produk Lifestyle (DFP) dengan predikat cumlaude.

Dari dua alasan tersebut, yaitu anak pintar tapi tidak tahu mau kemana dan kedua adalah ada anak berkebutuhan khusus yang tidak dilihat sisi passion­nya, sekolah yang ada saat ini seakan mencetak pola yang sama, dari anak berbeda­beda lalu dicetak menjadi anak yang serupa. Pengalaman terse­ but akhirnya memunculkan niat ketika bisa membangun sekolah, tidak boleh murid sampai tidak tahu lulus SMA mau kemana. 

”Karena itu saya merancang, mera­mu mata pelajaran sendiri, namanya desain cita-­cita. Ini berkaitan dengan bakat dan minat. Jadi dia lulus masuk ke jurusan yang memang passion­nya,” papar Munif.

Keterampilan dan Pengetahuan

Empat tahun lalu keinginan tersebut terwujud. Munif berhasil mendirikan sekolah model, School of Human dengan konsep agent of change. Ada tiga hal penting yang diterapkan di sekolah inklusi tersebut yaitu:

1. Bagaimana inputnya

Tidak ada tes akademis ataupun ke­ mampuan untuk calon murid. Sebab tujuan sekolah ini dibangun adalah membaikkan anak yang nakal dan me­ mintarkan anak yang bodoh.

2. The best procces
Bagaimana proses belajar berlangsung dengan strategi mengajar yang baik dan menarik.

3. Output
School of Human menggunakan authentic assessment (penilaian otentik) yaitu serupa dengan K13 yang telah ditentukan pemerintah namun ditam­bah portfolio. Jadi saat terima rapor, orangtua murid ditunjukkan penca­paian anak­-anaknya dalam hal kete­rampilan berupa portofolio.

Munif menegaskan bahwa di sini tidak mengagungkan akademis semata dimana peserta didik dibentuk untuk berkompetisi pada hal tunggal, yaitu kognitif, pengetahuan yang dilihat dari nilai-­nilai.
”Padahal ada dua hal yang sama penting yaitu keterampilan dan knowledge. Keterampilan sendiri dibagi tiga, yaitu karya, perform seperti anak ber­diskusi, tampil membaca puisi, main musik, dan ketiga project. Ini keterkai­tannya dengan unsur eksperimen. Di School of Human dari keterampilan muncullah portfolio,” papar penulis buku Sekolahnya Manusia itu.

Untuk knowledge, merupakan un­sur penting. Karena dari hal inilah bagaimana cara menjawab permasa­ lahan atau disebut juga problem solving itu hadir. Munif menegaskan bahwa akade­mis dan nonakademis dimana di dalamnya terdiri dari bakat, minat dan passion memang harus berjalan seiringan. Apabila hanya salah satu yang dioptimalkan dan diberi kesempatan sementara yang satu lagi tidak, nanti kita hanya akan melihat anak itu ber­dasarkan ranking. Padahal ranking itu bersifat vertikal. Hal ini terjadi jika hanya fokus ke akademis saja.

”Tapi kalau kita ini melihat pada passion, keterampilan dan kecerdasan dilayani serta dikembangkan maka kemampuan tiap anak didik akan berbeda-­beda dan beragam. Saran saya, jangan memandang rendah sebuah ekskul (ekstra kulikuler, red) karena itulah pembuka bakat dan minat anak. Mata pelajaran hanya pelengkap,” imbuh Munif.

Oleh sebab itu, School of Human memberikan pendekatan pada kurikulum passion based learning. Jadi anak memilih mata pelajaran sesuai passionnya.


Penentu Minat dan Bakat Anak

Ayah dan Bunda sudah tahu apa bakat, minat maupun passion buah hati Anda? Mungkin sebagian akan me­ngatakan, ”Ya, kami sudah tahu” atau ada yang mengatakan, “kami belum tahu, karena belum terlihat”.

Di sisi lain, orangtua mendaftarkan anaknya ke sebuah sekolah cenderung hanya melihat apakah sekolah tujuan mereka mampu melahirkan lulusan dengan nilai akademik yang bagus. Padahal setiap anak memiliki bakat, mi­nat, dan passion masing­-masing. Ketiga unsur ini yang nantinya akan memengaruhi kemampuan pola pikir mereka.

Disampaikan oleh pakar pendi­dikan Munif Chatib, bakat adalah aktivitas yang disukai anak bersumber dari internal anak dan itu merupakan bawaan sejak lahir. Sedangkan minat adalah aktivitas yang disukai tapi sum­bernya eksternal. Mungkin awalnya ti­dak suka namun dengan ada tantangan dari luar berubah menjadi suka. ”Nah minat ini yang jadi wilayah orang­ tua dan guru untuk menemukan dan membimbingnya,” tambahnya.

Jika minat dan bakat digabungkan maka akan menjadi passion. Lantas bagaimana memantik bakat dan minat anak-­anak? Orangtua dan sekolah me­ mang harus bersinergi.

Orangtua harus jeli melihat apa yang jadi bakat dan minat anak. Selanjutnya, memberi dukungan untuk mengembangkan bagaimanapun kon­disinya. Sebagai contoh, si anak suka main bola lalu disesuaikan dengan kemampuan finansial keluarga bisa didukung untuk bermain bola lebih bagus dengan berbagai cara.

Orangtua juga berperan untuk memunculkan minat itu sendiri. Mi­salnya, orangtua suka menulis maka itu bisa ditularkan ke anak. Untuk itu orangtua harus selalu kreatif untuk bisa memantik minat anak.

Munif menyarankan, salah satu cara untuk memantik minat dan bakat adalah dengan tidak memandang rendah ekstrakurikuler yang ada di sekolah. ”Di sinilah peran orangtua harus jeli untuk memilih sekolah sejak awal.”

Langkah Mudah Memilih Sekolah yang Tepat untuk Anak

Di masa penerimaan siswa baru, setiap sekolah selalu berlomba-lomba menyatakan sebagai yang terbaik. Seringkali itu membuat kita sebagai orangtua kesulitan memilih yang terbaik untuk anak kita.
Berikut langkah mudah yang bisa Ayah-Bunda lakukan agar sekolah yang dipilih tepat untuk anak- anak:

1. Perhatikan ekstrakurikuler
Perhatikan betul soal ekstrakurikuler di sekolah yang akan dipilih. Tanyakan ada berapa macam ekstrakurikulernya dan apa saja prestasi yang telah dicapai. Sebab, bila ekstrakurikuler saja dihargai keberadaannya dan fokus maka itu hal bagus. Karena ekstra kurikuler adalah pintu munculnya bakat dan minat anak.


2. Cara penerimaan murid
Bagaimana cara penerimaan murid, apakah dengan berbagai tes? Jika ya, berarti sekolah itu hanya menekankan pada the best input, bukan the best process. Padahal sebaiknya sekolah itu harus menekankan pada the best process.

3. Perhatikan sarana sekolah
Bukan hanya lapangan futsal, basket atau perpustakaan saja tapi yang terpenting adalah lihat toiletnya. Toilet merupakan sarana penting yang berhubungan dengan kualitas manajemen sekolah.

4. Lihat bentuk rapor sekolah
Baiknya rapor sekolah tidak hanya berisi hal kognitif saja, melainkan memperhatikan pengetahuan lain, sikap, dan keterampilan.

Sumber artikel:
Majalah Sahabat Keluarga Edisi 12 (Desember 2019) - Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga Direktorat Jenderal PAUD dan DIKMAS Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Download Majalah Sahabat Keluarga Edisi 12 Desember 2019.pdf ]

Demikian yang bisa kami sampaikan arsip artikel mengenai Prestasi Akademis Penting Tapi Bukan Segalanya. Semoga bisa bermanfaat.

Belum ada Komentar untuk "Prestasi Akademis Penting Tapi Bukan Segalanya "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel