Memupuk Semangat Toleransi Sejak Dini

Berikut ini adalah arsip artikel mengenai Memupuk Semangat Toleransi Sejak Dini. Mudah-mudahan bisa dijadikan sebagai tambahan referensi dan literasi terkait dengan pendidikan karakter anak.

Memupuk Semangat Toleransi Sejak Dini
Memupuk Semangat Toleransi Sejak Dini

Memupuk Semangat Toleransi Sejak Dini

Ketika lahir, pada umumnya, manusia langsung masuk ke dalam kelompok yang ber­nama keluarga. Kelompok yang memberikan manusia identitas otomatis sesuai dengan latar belakang orangtuanya. Misal dari agama A, dari suku B, negara C, sehingga otomatis anak­-anaknya juga akan menga dopsi pandangan dan nilai-­nilai seperti yang diajarkan oleh orangtua dan keturunan dari agama A, suku B dan negara C tersebut.

Dengan demikian keragaman tak bisa dihindarkan. Ada bermacam agama, suku, dan perbedaan jenis kelamin. Keragaman sendiri menurut psikolog sosial dari Universitas Pan­casila Vinaya, adalah variasi dari ber­bagai hal yang ada di masyarakat.

Kelompok agama saya, suku saya, dan kelamin saya, lanjut Vinaya, di dalam psikologi sosial disebut dengan istilah in group (bagian dari kelompok saya). Sedangkan orang di luar kelom­pok saya disebut sebagai out group (bukan bagian dari kelompok saya).

Manusia memiliki kecenderungan untuk menilai in group lebih baik ka­ rena memiliki kebutuhan akan harga diri (self esteem). Sehingga muncul anggapan, jika kelompoknya baik, maka dirinya juga baik.

Hal seperti ini, perasaan kelompok lebih baik dari kelompok lain, bisa memicu adanya konflik. Terlebih bagi bangsa Indonesia yang memang penuh keragaman. Bukan tidak mungkin bila dibiarkan akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Untuk itulah dibutuhkan kesadaran bersama bahwa perbedaan bukan un­tuk dipersoalkan dan diperuncing. Tetapi justru dipahami sebagai kekayaan dan dorongan untuk saling mengenal, memahami, serta bekerja sama.

”Meskipun berbeda­-beda, kita ha­rus menyadari bahwa untuk menjadi sebuah bangsa besar, kita harus bekerja sama dengan setiap kelompok yang ada di masyarakat Indonesia,” tegas Vinaya.

Tentu tidak mudah dan butuh waktu untuk menyadarkan bahwa keragaman adalah fitrah. Lebih dari itu, yang tak kalah penting, menghadirkan kesadaran bahwa pihak di luar kelompoknya adalah setara. Memiliki hak dan kewajiban yang sama. Tak ada yang berhak mengklaim dirinya se­bagai yang paling baik dan benar.

Vinaya menyarankan, pemahaman tentang keragaman termasuk bagaimana menyikapinya harus diberikan kepada anak­anak sedini mungkin. Sebab hal ini merupakan bagian dari penanaman nilai­nilai baik dan anak-anak diberi pemahaman sesuai usia. Bisa diawali dengan membiasakan dalam lingkungan sehari­-hari. Seperti di lingkungan tempat tinggal dan juga di sekolah.

Di lingkungan rumah anak-­anak bisa dikenalkan dengan melihat te­tangga maupun teman bermainnya yang berbeda agama, suku dan ras. Mereka diajarkan untuk bermain ber­sama tanpa melihat adanya perbedaan.

Keterlibatan Sekolah Mengenalkan Keragaman

Di lingkungan sekolah, pihak sekolah bisa me­lakukan berbagai cara yang menarik untuk me­ genalkan keragaman ke­pada para murid. Hal tersebut penting dilakukan dengan harapan apabila sudah mengenal maka mereka akan dengan mudah menghargai dan men­ghormati keragaman.

Contoh menarik di Sekolah Dasar Negeri Menteng 01 atau dikenal de­ngan SDN Besuki. Semua murid mendapat kesempatan yang sama tanpa memandang agama, suku maupun ras.

Kepala Sekolah SDN Besuki Slamet Syarif mengatakan, setiap pagi sebe­lum masuk ke kelas, semua murid berdoa bersama. Yang memimpin doa adalah murid yang dipilih secara ber­gantian dari beragam agama dan ke­ percayaan. Mereka diberi kesempatan yang sama.

”Misal hari Selasa giliran murid beragama Islam yang memimpin, lalu hari Rabu murid yang Kristen, Kamis murid yang beragama Hindu, dan Jumat kembali lagi ke Islam. Mereka ikut mendengar seperti apa orang yang beragama lain berdoa, tidak harus mengaminkan tapi cukup menunduk, mendengarkan, dan menghargai,” jelas Slamet.

Selain itu, SDN Besuki memiliki nota kesepahaman dengan komuni­tas bernama Koko Jali, yaitu wirau­sahawan sosial di Indonesia yang berfokus pada penanganan tur yang berspesialisasi pada masalah “Kebhi­nekaan”, nasionalisme, kebudayaan, lingkungan, dan sosial. Saat ini merupakan tahun kedua. Aktivitasnya, Koko Jali menghadirkan tokoh dari berbagai agama ke sekolah tersebut dan menampilkan profil masing­ masing agama.

”Kurang lebih selama 10 menit. Se­lain menjelaskan secara singkat, anak­ anak diperbolehkan bertanya apa saja. Senang melihat antusiasme anak-­anak yang bertanya macam­-macam dengan kepolosannya,” ungkap Slamet.

Kegiatan tersebut berlangsung satu kali di tiap semester. Slamet meyakinkan ini adalah program yang bagus untuk anak-­anak untuk bekal mereka bisa memahami keragaman dan kemudian menghormati keragam­an itu sendiri. Sehingga kelak tidak ada lagi keributan hanya karena berbeda.

Memahami Keragaman Dimulai dari Guru

Sekolah menginginkan anak didiknya menjadi pribadi yang memiliki rasa menghargai dan saling menghormati akan perbedaan dan keragaman, sebaiknya memulainya dari dalam sekolah itu sendiri. Artinya, tenaga pengajar bukan hanya menjelaskan dan memberi pengetahuan kepada anak murid saja berdasarkan teori melainkan mencontohkan langsung kepada anak-anak. Bagaimana dirinya sebagai pengajar tidak memberi perlakukan berbeda terhadap anak didik.

Oleh karena itu diperlukan penyatuan visi, misi, dan tujuan yang baik sejak awal proses perekrutan tenaga pengajar. Hal ini telah dilakukan Sekolah Umum Surya Bangsa di Tangerang.

”Sejak dari proses perekrutan guru, selalu disampaikan bahwa kami ini sekolah umum. Bahwa untuk guru muslim harus siap membantu perayaan agama lain di sini, begitu juga sebaliknya,” jelas Susi Afrianti, Kepala Sekolah Surya Bangsa Puri Beta, Tangerang.

Dalam kelas pun, saat kegiatan belajar mengajar, guru harus adil. Misalnya, saat membentuk sebuah kelompok maka guru tidak boleh memilihkan satu kelompok dengan murid yang sama seperti sama suku-nya, agama-nya, maupun ras-nya. ”Justru makin beragam kelompok tersebut makin bagus. Jadi semua itu berawal dari SDM-nya dulu,” tegasnya.

Selain mengenalkan keberagaman dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, adapula kegiatan merayakan hari besar keagamaan. Siswa dan siswi di sekolah Surya Bangsa beragam. Tidak hanya beragam suku tapi juga beragam bangsa dan keturunan, yaitu dari China, India, dan Afrika.

Perayaan yang dihelat adalah halal bi halal yang dilakukan setelah Idul Fitri dan ini dihadiri oleh semua orangtua murid tanpa melihat apa agama dan kepercayaannya. ”Kami juga merayakan Natal dan perayaan Tahun Baru China atau Imlek. Dahulu yang hadir hanya agama itu saja tapi sekarang agama lain sudah mau dating,” ungkap Susi.

Menurut Susi, semua diawali dengan bisa saling mengenal dan akhirnya bisa memahami. Sebab di kelas sendiri tidak ada mata pelajaran khusus tentang keragaman. Jika sampai ada kasus perun- dungan karena isu keragaman, hal itu masih bisa diatasi dengan baik karena dari awal tenaga pengajar sudah dibekali dan diingatkan bahwa sekolah tersebut adalah sekolah umum.

”Kita sangat menjaga sekali perbedaan. Terutama soal fisik, kan biasanya jadi bahan olok-olok ya. Maka saya mengingatkan selalu kepada guru-guru untuk mengantisipasi hal itu agar murid-murid merasa aman di sekolah,” terang Susi.

Selain itu, murid juga diajari bahasa asing, seperti bahasa Inggris dan bahasa Mandarin. Khusus bahasa Inggris, menjadi bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar sehari-hari diselingi bahasa Indonesia.

Menurut Susi, pengenalan keragaman bahasa menjadi cara lain untuk anak-anak agar bisa mengetahui bahwa keragaman bukan hanya fisik melainkan juga bahasa. Sisi lain, bahasa itu selalu menarik untuk anak-anak.

Contoh kasus, sekolah ini kerap mendapat murid pindahan dari berbagai negara. Hal ini menjadi tantangan sekaligus bisa dimanfaatkan untuk melatih para murid memupuk rasa menghargai dan menghormati teman.

”Justru jadi kesempatan untuk anak-anak belajar dan dijadikan media untuk latihan, dan memberi semangat belajar bahasa asing. Kita ingin perbedaan bahasa jangan jadi halangan untuk berkomunikasi karena bisa dibantu dengan gesture,” tutup Susi.

Sumber artikel:
Majalah Sahabat Keluarga Edisi 12 (Desember 2019) - Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga Direktorat Jenderal PAUD dan DIKMAS Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.Download Majalah Sahabat Keluarga Edisi 12 Desember 2019.pdf ]


Demikian yang bisa kami sampaikan artikel mengenai Memupuk Semangat Toleransi Sejak Dini. Semoga bisa bermanfaat.

Belum ada Komentar untuk "Memupuk Semangat Toleransi Sejak Dini"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel