Model Silabus Tematik Terpadu Kurikulum 2013 SD MI Revisi 2018

Kontributor : On Rabu, Januari 02, 2019

Berikut ini adalah arsip berkas Model Silabus Tematik Terpadu Kurikulum 2013 SD MI Revisi 2018. Download file buku dalam format .pdf. Buku ini diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar - Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2018.

Model Silabus Tematik Terpadu Kurikulum 2013 SD MI Revisi 2018
Model Silabus Tematik Terpadu Kurikulum 2013 SD MI Revisi 2018

Model Silabus Tematik Terpadu Kurikulum 2013 SD MI Revisi 2018

Berikut ini kutipan teks/keterangan dari isi berkas Model Silabus Tematik Terpadu Kurikulum 2013 SD MI Revisi 2018:

A. Rasional
Ahli pendidikan Piaget membagi tahap perkembangan kognitif dalam 4 tahapan, yaitu tahap sensorimotor, tahap pra-operasional, operasional konkret, dan operasional formal. Usia sekolah dasar umumnya 7 sampai 12 tahun masuk pada tahap operasional konkret dimana anak belum bisa rnemaharni problem abstrak, segala sesuatu akan bermakna bila dikaitkan dengan objek konkret (nyata) yang mereka ternui sehari-hari. Untuk itu pembelajaran yang cocok di SD rnenggunakan pendekatan tematik. Pembelajaran ternatik merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai rnata pelajaran dalam berbagai terna. Shoemaker (1989) mendefinisikan kurikulum terintegrasi (tematik) sebagai "... pendidikan yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga melintasi garis­ garis batas mata pelajaran, membawa bersama beragam aspek kurikulum ke dalam asosiasi yang bermakna agar terfokus kepada bidang-bidang studi yang luas. Ia memandang belajar dan mengajar secara holistik dan merefleksikan dunia nyata, yang interaktif.

Pembelajaran dengan pendekatan tematik ini mencakup kompetensi mata pelajaran yaitu: PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Seni Budaya dan Prakarya, dan Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Sedangkan mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tidak termasuk mata pelajaran dalam tematik. Pembelajaran tematik dilaksanakan di semua kelas di SD baik di kelas 1-111 (kelas rendah) maupun kelas IV-VI (kelas tinggi). Di kelas rendah belum ada mata pelajaran IPA dan IPS yang berdiri sendiri namun muatan IPA dan IPS diintegrasikan ke dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Untuk mata pelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan dilakukan secara tematik hanya sampai dengan kelas III, untuk kelas IV, V, dan VI diajarkan sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri.

Integrasi kurikulum sebagai suatu pengelolaan pembelajaran sekitar problem dan isu di masyarakat, sehingga diperlukan kolaborasi oleh guru dan siswa tanpa memandang pada mata pelajaran. Pembelajaran tematik terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Penentuan tema yang dijadikan sebagai ide besar dari pembelajaran yang menghubungkan konsep dan kompetensi yang ingin dicapai oleh siswa.

Pendekatan ini dimaksudkan agar siswa tidak belajar secara parsial sehingga pembelajaran dapat memberikan makna yang utuh pada siswa seperti yang tercermin pada berbagai tema yang tersedia. Terna yang pilih sedapat mungkin didekatkan dengan hal-hal yang dialami siswa. Pembelajaran tematik disusun berdasarkan berbagai proses integrasi yaitu integrasi intradisipliner, multi-disipliner inter-disipliner, dan trans-disipliner. Muatan-muatan yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran merujuk pada aktivitas besar yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia, yaitu kemaritiman, agraris, dan niaga/jasa.

Oleh karena itu, kontekstual pendidikan perlu dipersiapkan pada peserta didik agar dapat hidup di masa depan dan beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah melalui kemampuan berfikir kritis/memecahkan masalah, kreativitas, komunikasi dan kolaborasi. Selain itu peserta didik juga disiapkan dengan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan sebagai suatu keterampilan dalam kehidupan sehari-hari sebagai aplikasi dari kemampuan baca tulis, berhitung, literasi sains, literasi informasi teknologi dan komunikasi, literasi keuangan, dan literasi budaya dan kewarganegaraan. Terpenting dari semua itu, pendidikan diarahkan untuk membangun kecintaan sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merepresentasikan kebhinekaan agama, suku bangsa, bahasa, sosial, ekonomi, dan budaya masyakarat Indonesia. Peserta didik juga diharapkan menjadi warga negara yang bertanggung jawab dengan memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara Indonesia yang juga dibatasi oleh hak dan kewajiban warga negara lainnya. Untuk itu pembelajaran diarahkan untuk membangun empati, demokratis, dan memberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapat serta menerima pendapat orang lain.

Silabus tematik yang dikembangkan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan merupakan suatu model, satuan pendidikan dapat mengembangkan silabus tematik dengan mengambil tema yang disesuaikan dengan karakteristik satuan pendidikan. Satuan pendidikan juga dapat langsung menggunakan model silabus ini atau dapat juga dengan mengadaptasi sesuai karakteristik satuan pendidikan. Selain itu, bagi guru yang ingin menyusun sendiri pembelajaran tematik terpadu dapat menggunakan Silabus Mata Pelajaran di SD /MI yang terpisah dari dokumen ini.

B. Penguatan Pendidikan Karakter dan Ruh Pendidikan Nasional Indonesia
Pemerintah Indonesia terus berupaya melakukan penataan kembali atau transformasi Pendidikan Nasional Indonesia secara masif. Salah satunya adalah mengembalikan karakter sebagai ruh pendidikan nasional Indonesia yang diselenggarakan melalui Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). PPK merupakan suatu gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan dukungan pelibatan publik dan kerjasama antara sekolah, keluarga, dan masyakarat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Nilai-nilai yang dapat dikuatkan adalah lima nilai utama Religiusitas, Nasionalisme, Kemandirian, Gotong Royong, dan Integritas. Nilai Religiusitas, diantaranya meliputi beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, taat beribadah, bersyukur, berdoa sebelum dan sesudah beraktivitas, dan toleransi. Nilai Nasionalisme, diantaranya terdiri dari cinta tanah air, semangat kebangsaan, menghargai kebhinekaan, menghayati lagu nasional dan lagu daerah, cinta produk Indonesia, cinta damai, rela berkorban, dan taat hukum. Nilai Kemandirian, diantaranya mencakup disiplin, percaya diri, rasa ingin tahu, tangguh, bekerja keras, mandiri, kreatif-inovatif, dan pembelajar sepanjang hayat. Nilai Gotong Royong, diantaranya terwujud melalui suka menolong, bekerjasarna, peduli sesarna, peduli lingkungan, kebersihan dan kerapian, kekeluargaan, dan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Nilai Integritas, diantaranya meliputi jujur, rendah hati, santun, tanggung jawab, keteladanan, komitmen moral, cinta kebenaran, menepati janji, dan anti korupsi. Nilai -nilai tersebut ditanamkan dan dipraktikkan melalui sistem pendidikan nasional agar diketahui, dipahami, dihayati dan diterapkan di seluruh sendi kehidupan di sekolah, keluarga dan masyarakat.

PPK memiliki tujuan, antara lain:
  • Membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia tahun 2045 dengan dengan jiwa pancasila dan pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan;
  • Mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik dengan dukungan pelibatan publik yang dilakukan melalui pendidikan jalur formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan keberagaman budaya Indonesia;
  • Merevitalisasi dan memperkuat potensi dan kompetensi pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik, masyarakat, dan lingkungan keluarga dalam mengimplementasikan PPK.

Gerakan PPK diimplementasikan terintegrasi dalam Kurikulum 2013 dengan strategi:

1. Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Kelas
a. Mengintegrasikan proses pembelajaran di dalam kelas melalui isi kurikulum dalam mata pelajaran, baik itu secara tematik maupun terintegrasi dalam mata pelajaran.
b. Memperkuat manajemen kelas, pemilihan metode pembelajaran, dan evaluasi pengajaran.
c. Mengembangkan muatan lokal sesuai dengan kebutuhandaerah.

2. Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah
a. Menekankan pada pembiasaan nilai-nilai utama dalamkeseharian sekolah.
b. Menonjolkan keteladanan orang dewasa di lingkungan pendidikan.
c. Melibatkan seluruh ekosistem pendidikan di sekolah.
d. Mengembangkan dan memberi ruang yang luas pada segenap potensi siswa melalui kegiatan ko-kurikuler dan ekstra-kurikuler.
e. Memberdayakan manajemendan tata kelolasekolah.
f. Mempertimbangkan norma, peraturan, dan tradisi sekolah.

3. Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat
a. Memperkuat peranan Komite Sekolah dan orang tua sebagai pemangku kepentingan utama pendidikan.
b. Melibatkan dan memberdayakan potensi lingkungan sebagai sumber pembelajaran seperti keberadaan dan dukungan pegiat seni dan budaya, tokoh masyarakat, dunia usaha, dan dunia industri.
c. Mensinergikan implementasi PPK dengan berbagai program yang ada dalam lingkup akadernisi, pegiat pendidikan, dan LSM.
d. Mensinkronkan program dan kegiatan melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, kementerian dan lembaga pemerintahan, dan masyarakatpada umumnya.

C. Karakteristik Mata Pelajaran di SD
Kurikulum 2013 memiliki tujauan khusus untuk mempersiapkan generasi baru dan penerus bangsa yang memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan berrnasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. Untuk itu, perancangan Kurikulum 20 13 perlu memperhatikan kebutuhan siswa saat ini dan di masa depan yang dinamis ditengah pengaruh globalisasi dan kemajemukan masyarakat Indonesia. Selain itu, Kurikulum 20 13 dirancang untuk memperkuat karakter peserta didik yang meliputi lima nilai utama relijiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas.

Memperhatikan konteks global dan kemajemukan masyarakat Indonesia itu, misi dan orientasi kurikulum 20 13 diterjemahkan dalam praktik pendidikan dengan tujuan khusus agar siswa memiliki kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan masyarakat di masa kini dan di masa mendatang. Kompetensi yang dimaksud meliputi tiga kompetensi, yaitu: (1) menguasai pengetahuan; (2) memiliki keterampilan atau kemampuan menerapkan pengetahuan; (3) menumbuhkan sikap spiritual dan etika sosial yang tinggi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial, dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching) yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah, dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi siswa. Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter siswa lebih lanjut. Mata pelajaran yang diajarkan secara tematik di SD adalah:

1. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) membentuk siswa menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air yang dijiwai oleh 4 (empat) substansi inti kebangsaan yaitu (1) Pancasila, sebagai dasar negara; (2) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai hukum dasar yang menjadi landasan konstitusional kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; (3) Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagai bentuk final Negara Republik Indonesia yang melindungi segenap bangsa dan tanah tumpah darah Indonesia; (4) Bhinneka Tunggal Ika, sebagai wujud komitmen keberagaman kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang utuh dan kohesif secara nasional. Pembelajaran PPKn dilakukan dalam rangka mencapai kompetensi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Pengembangan kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial dilaksanakan melalui Pembelajaran langsung (direct teaching).

Mata pelajaran kewarganegaraan diarahkan untuk mengembangkan potensi peserta didik dalam bersikap sebagai warganegara termasuk keteguhan, komitmen, dan tanggung jawab. Sikap sebagai warganegara itu terbentuk dari pengetahuan kewarganegaraan yang yang dipraktikkan dengan berpartisipasi menjalankan hak dan kewajiban sebagai warga negara.

2. Bahasa Indonesia
Ruang lingkup bahasa Indonesia di SD adalah menggunakan bahasa secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis, menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan. Selain itu, siswa di SD dapat menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial, memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Pembelajaran bahasa Indonesia dilakukan dalam rangka mencapai kompetensi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Pengembangan kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial dilaksanakan melalui Pembelajaran tidak langsung (indirect teaching).

Mata pelajaran Bahasa Indonesia menggunakan teks-teks dengan muatan atau berisi materi IPA dan IPS pada kelas I s.d III. Pemilihan teks-teks dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, mudah dipaharni, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik (kontekstual). Penekanan mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk memberikan kemampuan berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan secara efektif. Kemampuan berkomunikasi ini mensyaratkan peserta didik untuk mencari informasi di sekitarnya, melalui membaca buku, membaca koran, mendengarkan berita, menonton video, dan lainnya.

3. Matematika
Ruang Lingkup Matematika SD ada tiga yaitu bilangan (bilangan cacah, bulat, prima, pecahan, kelipatan dan faktor, pangkat dan akar sederhana), geometri dan pengukuran (bangun datar dan bangun ruang, hubungan antar garis, pengukuran (berat, panjang, luas, volume, sudut, waktu, kecepatan, dan debit, letak dan koordinat suatu benda), serta statistika (menyajikan dan menafsirkan data tunggal) dalam penyeleaian masalah kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran matematika di SD diarahkan untuk mendorong siswa mencari tahu dari berbagai sumber, mampu merumuskan masalah bukan hanya menyelesaikan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu, pembelajaran diarahkan untuk melatih siswa berpikir logis dan kreatif bukan sekedar berpikir mekanistis serta mampu bekerja sama dan berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Pembelajaran matematika dilakukan dalam rangka mencapai kompetensi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Pengembangan kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial dilaksanakan melalui Pembelajaran tidak langsung (indirect teaching).

Mata pelajaran Matematika pada kelas tinggi (kelas IV, V dan VI) dibelajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri.

4. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
Ruang lingkup materi mata pelajaran IPA SD mencakup enam lingkup sains yaitu kerja ilmiah dan keselamatan kerja, makhluk hidup dan sistem kehidupan (bagian tubuh manusia dan perawatannya, makhluk hidup di sekitarnya, tumbuhan, hewan, dan manusia, energi dan perubahannya gaya dan gerak, sumber energi, bunyi, cahaya, sumber daya alam, suhu dan kalor, rangkaian listrik dan magnet), materi dan perubahannya (ciri benda, penggolongan materi perubahan wujud), bumi dan alam semesta (rorasi dan revolusi bumi, cuaca dan musim, dan sistem tata surya), serta sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat (dampak perubahan musim terhadap kegiatan sehari-hari, lingkungan dan kesehatan, dan sumber daya alam). Ilmu Pengetahuan Alam di SD/MI kelas I, II, dan III (kelas rendah) muatan sains diintegrasikan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, sedangkan di Kelas IV, V, dan VI (kelas tinggi) Ilmu Alam menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri tetapi pembelajarannya menerapkan pembelajaran tematik terpadu. Pembelajaran di SD dilakukan secara terpadu antar mata pelajaran yang diikat oleh tema tertentu. Kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial, dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching) yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah, dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi siswa. Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter siswa lebih lanjut.

5. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Ruang lingkup materi IPS di Sekolah Dasar, diawali dari pengenalan lingkungan dan masyarakat terdekat, mulai kabupaten, provinsi, nasional dan internasional. Antara satu wilayah dengan wilayah lainnya memiliki koneksi. Lingkungan internasional di lingkup SD dibatasi pada pengenalan lingkungan ASEAN. Mata pelajaran IPS bertujuan untuk menghasilkan warganegara yang religius, [ujur, demokratis, kreatif, kritis, senang membaca, memiliki kemampuan belajar, rasa ingin tahu, peduli dengan lingkungan sosial dan fisik, berkontribusi terhadap pengembangan kehidupan sosial dan budaya, serta berkomunikasi secara produktif. Ruang lingkup JPS terdiri atas pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang dikembangkan dari masyarakat dan disiplin ilmu sosial. Penguasaan keempat konten ini dilakukan dalam proses belajar yang terintegrasi melalui proses kajian terhadap konten pengetahuan.

Pada jenjang Sekolah Dasar kelas I, II dan III muatan IPS diintegrasikan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, sedangkan untuk kelas IV sampai kelas VI, IPS menjadi mata pelajaran tersendiri tetapi pembelajarannya dilakukan secara tematik terpadu dengan mata pelajaran lainnya. Kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial, dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching) yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah, dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi siswa. Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter siswa lebih lanjut.

6. Seni Budaya dan Prakarya (SBdP)
Di Sekolah Dasar pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya bersifat rekreatif melalui eksperimentasi, keberanian mengutarakan pendapat serta dapat dilaksanakan secara terpadu maupun single subject. Terpadu dalam bentuk mencipta karya seni yang dikaitkan dengan pengetahuan lain dan rasionalisasi penciptaannya, di dalamnya memuat sikap (perilaku, apresiatif, toleransi dan bertanggung jawab penuh), keterampilan (bersifat fragmatis, aplicable, dan teknologis-sistemis), pengetahuan (kemampuan merekronstruksi dan mengungkapkan kembali ide dan gagasan secara sistematis).

Ruang lingkup SBdP di SD meliputi dinamika gerak, karya dekoratif, menampilkan pola irama dan membuat karya dari bahan alam, berkarya seni estetis melalui kegiatan apresiasi dan kreasi berupa gambar cerita dan reklame, interval nada, tari kreasi daerah, membuat kolase, topeng dan patung dengan memperhatikan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya serta cinta tanah air. Kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial, dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching) yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah, dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi siswa.

7. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK)
Pembelajaran berbagai aktivitas di dalam PJOK pada satuan pendidikan SD diarahkan untuk mencapai kompetensi dalam penyempurnaan dan pemantapan pola gerak dasar, pengembangan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat pada kelas rendah (kelas I-III) melalui berbagai permainan sederhana dan tradisional, aktivitas senam, aktivitas gerak berirama, aktivitas air, dan materi kesehatan, sedangkan pada kelas tinggi (kelas IV-VI) pengembangan pola gerak dasar menuju kesiapan gerak spesifik, pengembangan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui permainan bola besar, permainan bola kecil, atletik, beladiri, senam, gerak berirama, aktivitas air, dan materi kesehatan.

Kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial, dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching) yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah, dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi siswa.

Mata pelajaran PJOK pada kelas tinggi (kelas IV, V dan VI) dibelajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri.

D. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Tematik Terpadu
Pembelajaran tematik terpadu memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:
  1. Peserta didik mencari tahu, bukan diberi tahu.
  2. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan kompetensi melalui tema yang paling dekat dengan kehidupan peserta didik.
  3. Terdapat tema yang menjadi pemersatu sejumlah kompetensi dasar yang berkaitan dengan berbagai konsep, keterampilan dan sikap.
  4. Sumber belajar tidak terbatas pada buku.
  5. Siswa dapat bekerja secara mandiri maupun berkelompok sesuai dengan karakteristik kegiatan yang dilakukan.
  6. Guru harus merencanakan dan melaksanakan pembelajaran agar dapat mengakomodasi siswa yang memiliki perbedaan tingkat kecerdasan, pengalaman, dan ketertarikan terhadap suatu topik.
  7. Kompetensi Dasar mata pelajaran yang tidak dapat dipadukan dapat diajarkan tersendiri.
  8. Memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences) dari hal-hal yang konkret menuju ke abstrak.
  9. Pembelajaran tematik yang dirancang dalam silabus bukan merupakan urutan Pembelajaran, melainkan bentuk Pembelajaran untuk mencapai Kompetensi Dasar guru dapat melakukan penyesuaikan.

E. Pengembangan Silabus Tematik
Silabus tematik di SD dikembangkan menggunakan model jaring laba-laba (webbed). Pembelajaran terpadu model jaring laba-laba (webbed) dikembangkan dengan memadukan beberapa mata pelajaran yang diikat dalam suatu tema. Pengembangan silabus dilakukan merujuk silabus mata pelajaran, untuk Materi Pokok menyesuaikan dengan kompetensi dasar setiap mata pelajaran. Sedangkan Pembelajaran merupakan gabungan Pembelajaran untuk satu tema/subtema untuk seluruh kompetensi dasar dari muatan mata pelajaran yang diikat dalam tema/subtema tersebut.

Langkah-langkah yang dilakukan dalam mengembangkan silabus tematik model ini adalah:
  1. Mengidentifikasi materi pelajaran dari setiap kompetensi dasar yang ingin dicapai dari semua mata pelajaran yang akan diintegrasikan.
  2. Mengidentifikasi tema-tema yang menarik bagi siswa, lalu memilih beberapa tema yang akan dijadikan sebagai tema pembelajaran.
  3. Memetakan materi pelajaran untuk setiap tema/subtema yang sesuai. Pemetaan materi perlu juga memperhatikan keruntutan dari materi untuk setiap mata pelajaran dan tingkat kesulitan dari materi tersebut agar mendapatkan alokasi waktu yang cukup.
  4. Merancang Pembelajaran berdasarkan pemetaan materi pelajaran yang telah dilakukan.
  5. Mendesain penilaian yang akan dilakukan untuk proses pembelajaran yang telah dirancang berdasarkan tema atau sub tema yang telah diajarkan.
  6. Melaporkan hasil penilaian sesuai dengan kompetensi mata pelajaran yang telah dicapai. Hasil penilaian ini akan dijadikan dasar bagi pendidik untuk melakukan evaluasi pembelajaran. Hasil evaluasi ini digunakan untuk mengidentifikasi tema dan Materi Pokok kembali.

F. Pembelajaran dan Penilaian

1. Pembelajaran
Pembelajaran tematik lebih menekankan pada praktik pengetahuan berbentuk tema yang dekat dengan aktivitas siswa sehari-hari. Melalui pembelajaran tematik ini, siswa diharapkan dapat memahami fenomena atau aktivitas sehari-hari secara lebih konkret. Melalui praktik pengetahuan itu diharapkan akan tumbuh sikap religiusitas dan etika sosial dalam hal tanggung jawab siswa dalam memahami fenomena dan aktivitas siswa.

Pembelajaran tematik, di Sekolah Dasar menekankan pada proses pembelajaran yang tidak semata melakukan aktivitas, tetapi bagaimana merancang pembelajaran yang juga mengaktifkan kreativitas dan berfikir kreatif siswa serta memperkuat karakternya.

Satu hal penting ditekankan dari proses pembelajaran ini adalah bahwa pembelajaran yang dijalankan tidak hanya memperkenalkan pengetahuan mata pelajaran dalam konsepsi-konsepsi atau teori-teorinya yang bersifat hafalan. Melainkan, lebih menekankan dimensi afeksi, atau kepedulian dan keterikatan siswa terhadap hal-hal nyata yang dialami siswa untuk dapat beraktivitas secara mandiri dan menjaga hak orang lain di sekitarnya.

Proses pembelajaran yang menekankan pada praktik pengetahuan mata pelajaran yang dijalin dalam tema ini membutuhkan pendekatan pembelajaran khusus. Peran guru sangat penting untuk mendorong tumbuhnya rasa ingin tahu siswa dan sikap terbuka serta kritis dan responsif terhadap aktivitas sehari-hari, Salah satu pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan orientasi kurikulum yaitu pendekatan proses keilmuan atau saintifik melalui tahapan proses pembelajaran berikut; mengamati, menanya, mengumpulkan inforrnasi, menalar atau mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Namun dernikian, tidak menutup kemungkinan guru untuk mengembangkan pendekatan lain yang berkesesuaian dengan proses pembelajaran siswa aktif kreatif dan berfikir kritis. 

Untuk mendukung proses pembelajaran ini, model-model pembelajaran yang sesuai perlu dikembangkan dan dipraktikkan dalam proses pembelajaran. Setidaknya terdapat tiga (3) model pembelajaran yang layak untuk dipertimbangkan, yaitu:

a. Model pembelajaran berbasis keingintahuan (inquire-based learning), tidak
hanya menekankan perolehan atau penemuan jawaban-jawaban atas keingintahuan siswa saja. Melainkan, lebih dari itu, juga mendorong aktivitas siswa melakukan penelusuran, pencarian (searching), penernuan, penelitian dan pengembangan studi atau kajian dan analisis lebih lanjut.

b. Model pembelajaran berbasis pemecahan masalah (problem solving-based learning), secara khusus diselenggarakan berbasis masalah di masyarakat. Berpijak pada masalah-masalah yang ada, siswa didorong untuk mengamati, meneliti dan mengkaji serta memecahkan masalah-masalah tersebut sehingga memperkaya pemahaman dan pengetahuan mereka. Selain bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan khusus terkait dengan masalah yang ada, model ini juga dikembangkan untuk menumbuhkan kepedulian dan rasa tanggung jawab siswa terhadap pemecahan masalah sehari-hari, 

c. Model pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), merupakan proses pembelajaran yang menjadikan kegiatan proyek sebagai obyek studi sekaligus sarana belajar. Sebagai obyek studi, dilakukan ketika kegiatan proyek dijadikan sumber pengetahuan dalam proses belajar. Tahapan-tahapan kegiatan dalam proyek, mulai dari penentuan masalah, perencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi, serta identifikasi hasil-hasil yang dicapai dan rekomendasi untuk kegiatan proyek berikutnya. Di sini dilihat sebagai siklus aktivitas sosial yang bisa dijadikan sumber pengetahuan dalam proses pembelajaran.

Model-model pembelajaran di atas merupakan model pembelajaran yang diharapkan dapat menginspirasi guru dalam mendesain pembelajaran. Guru juga dapat mencari dan menggunakan model pembelajaran lain yang dirasa lebih sesuai dan mampu mengoptimalkan peserta didik.

2. Penilaian
Penilaian Hasil Belajar adalah proses pengumpulan informasi/bukti tentang capaian pembelajaran siswa dalam ranah sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan dilakukan secara terencana dan sistematis, selama dan/atau setelah proses belajar, pada satu kompetensi, satu semester, satu tahun untuk suatu muatan/mata pelajaran. Menurut Permendikbud No. 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan, penilaian hasil belajar oleh Pendidik dilakukan untuk memantau proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.

Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan dalam bentuk tes, pengarnatan, penugasan perseorangan atau kelornpok, dan bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik. Penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan dapat dilakukan sebagai berikut.
a. Penilaian aspek sikap dilakukan melalui observasijpengamatan dan teknik penilaian lain yang relevan, dan pelaporannya menjadi tanggungjawab wali kelas atau guru kelas.
b. Penilaian aspek pengetahuan dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, dan penugasan sesuai dengan kompetensi yang dinilai.
c. Penilaian keterampilan dilakukan melalui praktik, produk, proyek, portofolio, dan/atau teknik lain sesuai dengan kompetensi yang dinilai;

Penilaian pada panduan ini difokuskan pada penilaian proses yang dilakukan oleh guru selama atau setelah proses pembelajaran. Penilaian ini dirancang dalam silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Berikut adalah contoh­ contoh penilaian untuk mata pelajaran dengan memperhatikan karakteristik utama dari mata pelajaran tersebut.

a. Penilaian untuk mata pelajaran PPKn
Fokus mata pelajaran adalah mengembangkan potensi peserta didik dalam bersikap sebagai warganegara termasuk keteguhan, komitmen, dan tanggung jawab. Untuk itu penilaian sikap merupakan penilaian utama dalam mata pelajaran ini, selain pengetahuan dan keterampilan. Sebagai contoh untuk menilai sikap spiritual dan sosial untuk peserta didik kelas I, untuk KD:

1.2 Menunjukkan sikap patuh aturan agama yang dianut dalam kehidupan sehari-hari di rumah
2.2 Melaksanakan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di rumah Untuk menilai kedua KD tersebut, guru dapat menggunakan penilaian diri yang dilakukan oleh peserta didik dengan konfirmasi kepada orang tua (karena KD ini berhubungan dengan prilaku anak di rumah yang tidak dapat langsung diamati dan dinilai oleh guru).

b. Penilaian untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia
Fokus mata pelajaran adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk dapat menggunakan bahasa secara efektif dan efisien sesuai etika yang berlaku sebagai sebagai media penerima dan penyampai ilmu pengetahuan. Untuk itu penilaian sikap dan keterampilan berbahasa merupakan penilaian utama dalam mata pelajaran ini, selain pengetahuan. Sikap penting dalam berbahasa karena pengucapan kata tertentu dengan sikap yang tidak pas bisa membuat makna yang berbeda bagi orang diajak bicara.

Sebagai contoh untuk menilai sikap dan keterampilan berbahasa untuk peserta didik kelas II, untuk KD:
3.5 Mencermati puisi anak dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah melalui teks tulis dan lisan.
4.5 Membacakan teks puisi anak tentang alam dan lingkungan dalam bahasa Indonesia dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat sebagai bentuk ungkapan diri.

Untuk menilai kedua KD tersebut, guru dapat menggunakan penilaian unjuk kerja. Peserta didik diminta untuk membacakan puisi yang dipilihnya di depan kelas. Kriteria penilaian unjuk kerja selain untuk menilai keterampilan berbahasa juga untuk menilai sikap pada saat berbahasa.

c. Penilaian untuk mata pelajaran Matematika
Penilaian mata pelajaran Matematika pada tingkat SD/MI dilakukan secara tersendiri walaupun pembelajarannya tematik terpadu. Bentuk instrumen penilaian disesuaikan dengan konteks pembelajaran dan berorientasi pada hal­ hal konkrit yang dapat ditemukan di lingkungan sekitar siswa, terutama pada kelas awal (kelas I sampai dengan kelas Ill).

Guru diharapkan menggunakan berbagai metode dan teknik penilaian. Pembuatan instrumen penilaian dalam mata pelajaran Matematika SD /MI pada aspek pengetahuan dan keterampilan perlu mempertimbangkan kecakapan matematika yang meliputi empat aspek sebagai berikut:

1. Penilaian pemahaman
Pada aspek ini yang dinilai adalah kemampuan siswa dalam mendeskripsikan konsep, membandingkan, mengurutkan bilangan, menentukan hasil operasi matematika (menggunakan algoritma standar), dan mengidentifikasi sifat-sifat operasi dalam matematika yang dikaitkan dengan benda/kejadian di lingkungan sekitar.

2. Penilaian penyajian dan penafsiran
Pada aspek ini yang dinilai terutama adalah kemampuan siswa dalam membaca dan menafsirkan tabel dan diagram, menyajikan data sederhana dalam bentuk tabel, gambar dan diagram, dan melukiskan bangun-bangun geometri.

3. Penilaian penalaran
Pada aspek ini yang dinilai adalah kemampuan siswa dalam mengidentifikasi contoh dan bukan contoh, menduga dan memeriksa kebenaran suatu pernyataan, mengubah kalimat matematika ke bentuk kalimat matematika lainnya yang setara, dan menyusun algoritma proses pengerjaan/pemecahan masalah matematika.

4. Penilaian pemecahan masalah
Pada aspek ini yang dinilai adalah kemampuan siswa menggunakan matematika dalam penyelesaian masalah yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran diarahkan untuk melatih siswa berpikir logis dan kreatif bukan sekedar berpikir mekanistis serta mampu bekerja sama dan berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Untuk itu penilaian kemampuan berpikir kritis merupakan penilaian utama dalam mata pelajaran ini.

Penilaian sikap spiritual dan sikap sosial merupakan penilaian yang perlu dilakukan guru melalui pengamatan pada setiap pembelajaran, sehingga guru perlu memiliki catatan penilaian sikap yang secara berkala akan dilihat perkembangannya bagi masing-masing siswa. Jika sikap yang diharapkan belum berkembang maka guru perlu melakukan pendekatan untuk mengembangkan sikap yang dimaksud bagi siswanya.

d. Penilaian untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
Fokus mata pelajaran IPA SD mencakup enam lingkup sains yaitu kerja ilmiah dan keselamatan kerja, makhluk hidup dan sistem kehidupan, energi dan perubahannya, materi dan perubahannya, bumi dan alam semesta, serta sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat. Oleh karena itu kemampuan penalaran tingkat tinggi merupakan penilaian utama dalam mata pelajaran ini. Contoh penilaian pengetahuan pada KD berikut:
3.3 memahami macam-macam gaya, antara lain gaya otot, gaya listrik, gaya magnet, gaya gravitasi, dan gaya gesekan;
4.3 mendemonstrasikan manfaat gaya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya gaya otot, gaya listrik, gaya magnet, gaya gravitasi, dan gaya gesekan.

e. Penilaian untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Mata pelajaran JPS bertujuan untuk menghasilkan warganegara yang religius, jujur, demokratis, kreatif, kritis, senang membaca, memiliki kemampuan belajar, rasa ingin tahu, peduli dengan lingkungan sosial dan fisik, berkontribusi terhadap pengembangan kehidupan sosial dan budaya, serta berkomunikasi secara produktif. Penekanan penilaian untuk mata pelajaran IPS pada kemampuan kritis peserta didik dalam mengamati perubahan sosial di sekitarnya dan pengenalan lingkungan sekitar.

Berikut contoh penilaian untuk KD 3.1. dan 4.1. pada Kelas IV
3.1 Mengidentifikasi karakteristik ruang dan pemanfaatan sumber daya alam untuk kesejahteraan masyarakat dari tingkat kota/kabupaten sampai tingkat provinsi
4.1 Menyajikan hasil identifikasi karakteristik ruang dan pemanfaatan sumber daya alam untuk kesejahteraan masyarakat dari tingkat kota/kabupaten sampai tingkat provinsi

Untuk mengetahui pencapaian KD di atas, guru dapat melakukan penilaian dengan memberikan penugasan kepada peserta didik untuk mengumpulkan bahan bacaan yang berhubungan dengan potensi alam di Kabupaten/Kota tempat tinggalnya. Setelah itu peserta didik diminta untuk membuat semacam pemetaan daerah di Kabupaten/kotanya berdasarkan kepadatan penduduk, aktivitas ekonomi (pertanian, perikanan, perdagangan, industri, pariwisata, dll), dan tempat-tempat penting (Rumah Sakit, Kantor Polisi, Kantor Bupati/Walikota).

f. Penilaian untuk mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP)
Sifat mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya yang rekreatif dan eksperimentatif sehingga fokus pembelajaran SBdP mencipta karya seni yang dikaitkan dengan pengetahuan lain dan rasionalisasi berfikir pada penciptaan karya, yang didalamnya mencakup sikap (perilaku, apresiatif, toleransi dan tanggung jawab), keterampilan (bersifat fragmatis, aplicable dan teknologis­ sistemis), dan pengetahuan (kemampuan merekronstruksi, mengungkapkan kembali ide dan gagasan secara sistematis).

Hasil pembelajaran SBdP yang berupa produk/karya sangat cocok menggunakan penilaian proyek. Berikut ini contoh penilaian proyek mata pelajaran SBdP untuk peserta didik kelas III dengan KD:
3.4 Mengetahui teknik potong, lipat, dan sambung
4.4 Membuat karya dengan teknik potong, lipat, dan sambung

Untuk menilai kedua KD tersebut, guru dapat menugaskan peserta didik untuk membuat suatu proyek kerajinan-SBdP berupa karya kerajinan wadah alat tulis dengan teknik, lipat dan sambung yang berkaitan dengan tema. 

g. Penilaian untuk mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK)
Aktivitas pembelajaran di dalam PJOK di SD bertujuan untuk mencapai kompetensi pada pengembangan pola gerak dasar menuju kesiapan gerak spesifik, pengembangan kebugaran jasmani dan pola hidup sehat melalui berbagai permainan dan gerak olahraga, serta menerapkan hidup sehat. Di dalam pembelajaran permainan dan gerak olahraga secara tidak langsung peserta didik dapat mencapai kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial.

Berikut ini contoh penilaian unjuk kerja pada aktivitas pembelajaran PJOK untuk peserta didik Kelas IV dengan KD:
3.3 Memahami variasi gerak jalan, lari, lompat, dan lempar melalui permainan/olahraga yang dimodifikasik dan atau olahraga tradisional
4.3 Mempraktikkan variasi pola dasar jalan, lari, lompat, dan lempar melalui permainan/olahraga yang dimodifikasi dan atau olahraga tradisional Untuk menilai kedua KD tersebut, guru dapat menggunakan penilaian unjuk kerja pada permainan tradisional boyboyan asal Jawa Barat, yang secara garis besar tahapan kegiatannya sbb:

  • Membentuk dua kelompok (kelompok jaga dan kelompok main)
  • Kelompok main bertugas merubuhkan tumpukan genting dengan cara melemparkan bola, untuk kemudian disusun kembali dengan menyusun strategi dan cara berlari
  • Kelompok jaga bertugas menjaga kelompok main agar tidak berhasil menumpuk genting dengan cara menyusun strategi dan melempar bola mengenai lawan.
  • Pemenangnya adalah yang mampu menyusun genting kembali tanpa terkena lemparan bola dari lawan.

G. Kontektualisasi Pembelajaran
Pembelajaran pada silabus ini hanya merupakan model. Pembelajaran pada silabus ini dapat disesuaikan dan diperkaya dengan konteks daerah atau satuan pendidikan, serta konteks global untuk mencapai kualitas optimal hasil belajar siswa tetap berada pada budayanya, mengenal dan mencintai alam dan sosial di sekitarnya, dengan perspektif global sekaligus menjadi pewaris bangsa sehingga akan menjadi generasi tangguh dan berbudaya Indonesia.

Berlandaskan prinsip ini, pembelajaran tematik perlu dikontekstualkan dengan tema-tema yang dekat dengan lingkungan siswa, mengenal keragaman masyarakat, dan daerah maritim, agribisbis, dan jasa/niaga sehingga siswa mampu beradaptasi dengan perubahan sosial yang berlangsung di masyarakat. Selain itu siswa akan memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, juga diharapkan memberikan kontribusi pada perkembangan dan kemajuan masyarakat.

    Download Model Silabus Tematik Terpadu Kurikulum 2013 SD MI Revisi 2018

    Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Model Silabus Tematik Terpadu Kurikulum 2013 SD MI Revisi 2018 ini silahkan lihat pada file preview dan download file pada link di bawah ini:

    Model Silabus Tematik Terpadu Kurikulum 2013 SD MI Revisi 2018



    Download File:
    Model Silabus K13 Tematik Terpadu SD MI 2018.pdf

    Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file buku Model Silabus Tematik Terpadu Kurikulum 2013 SD MI Revisi 2018. Semoga bisa bermanfaat.


    Tips: Bagikan/Share sebelum Download

    Silahkan bagikan dan beritahukan atau rekomendasikan berkas ini ke teman atau rekan Anda melalui sosial media dengan menekan icon-icon di bawah ini. Terima Kasih.
    Next
    « Prev Post
    Previous
    Next Post »