Orientasi Pembelajaran Abad 21 - Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam)

Kontributor : On Jumat, September 21, 2018

Berikut ini adalah arsip berkas mengenai Orientasi Pembelajaran Abad 21 dalam buku berjudul Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam). Download file dalam format .pdf.

Orientasi Pembelajaran Abad 21 - Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam)
Orientasi Pembelajaran Abad 21 - Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam)

Orientasi Pembelajaran Abad 21 - Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam)

Orientasi Pembelajaran Abad 21 - Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam)

Ciri menonjol pembelajaran abad-21 salah satunya adalah semakin bertautnya dunia ilmu dan teknologi, sehingga sinergi di antaranya menjadi semakin cepat. Teknologi informasi dan komunikasi atau ICT yang berkembang sangat pesat pada Dasawarsa terakhir ini membawa dampak yang luar biasa pada berbagai sektor kehidupan kita seperti bisnis, hiburan dan pendidikan. Pengaruh pada bidang pendidikan sangat jelas kita rasakan. Kita bisa melihat bagaimana ICT mempengaruhi para siswa belajar dengan sumber informasi yang begitu melimpah serta para guru mengubah cara mengajarnya. Kini kita juga bisa melihat bagaimana ICT mempengaruhi cara siswa maupun guru dalam berhubungan sosial, berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman-teman mereka. Tantangan yang dihadapi para guru tentu tidak semakin ringan, karena siswa diharapkan bisa bersaing secara global yang bercirikan ICT. Guru saat ini tidak lagi sebagai pusat sumber belajar dan penyampai informasi utama, tetapi lebih dari itu yakni mampu berperan sebagai fasilitator, pendamping, pembimbing, dan sekaligus sebagai partner dalam mengembangkan skill dan pengetahuan. Potensi pemanfaatan ICT untuk meningkatkan akses pendidikan, meningkatkan efesiensi, serta kualitas pembelajaran dan pengajaran. 

Pembahasan lebih mendalam tentang orientasi pembelajaran abad 21, diantaranya menyangkut.
  1. Orientasi Baru Dunia Pendidikan
  2. Paradigma Pendidikan Abad-21
  3. Karakteristik Sekolah
  4. Pembelajaran Berbasis Blended Learning
  5. Mengembangkan Kecakapan Siswa
  6. Desain Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi
  7. Pembelajaran Secara Tatap Muka dan Virtual
  8. Kompetensi Profesi Guru berbasis ICT

Orientasi Baru Dunia Pendidikan
Pendidikan yang ideal hakikatnya selalu bersifat antisipatif dan prepatoristik, yakni selalu mengacu ke masa depan, dan selalu mempersiapkan generasi muda untuk kehidupan masa depan yang jauh lebih baik, bermutu, dan bermakna. Sungguhpun demikian, apa dan bagaimana pendidikan ideal dengan sifatnya yang antisipatif dan prepatoristik seperti itu, berbeda bagi setiap bangsa dalam melihat dan menghadapi masa depannya. Bagi bangsa Indonesia, kondisi, tantangan, dan masalah masa depan yang harus dihadapi senantiasa berkaitan dengan pengembangan kualitas dan kemandirian manusia Indonesia yang memungkinkannya mampu dan proaktif menjawab tantangan globalisasi, baik di bidang sosial, budaya, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Sebagian tenaga didik dan tenaga kependidikan sekarang pun sudah sangat mengenal dunia ini. Dengan diterapkan model pembelajaran berbasis multimedia ini akan membantu siswa dan mahasiswa agar lebih melek lagi dengan dunia informasi teknologi karena tidak semua peserta didik kenal betul dengan dunia ini. Banyaknya harapan yang belum terpenuhi dan tingkat kecemasan yang tinggi, menuntut adanya pembekalan bagi lembaga pendidikan agar terjadi akselerasi ke arah pembelajaran masyarakat. Akselerasi pembelajaran masyarakat tersebut menuntut kesiapan sekolah, baik secara internal maupun eksternal.

Guru diharapkan dapat memanfaatkan ICT secara optimal untuk memfasilitasi aktivitas pembelajaran yang inovatif. Strategi dan metode pembelajaran yang berpusat pada siswa menjadi sangat cocok guna mendorong pengembangan pengetahuan dan skill siswa. Menurut Wagner (2008), dalam dunia global ini siswa tidak cukup dengan hanya mengetahui informasi dan mengingat fakta, tetapi mereka harus bisa berfikir kritis, dan menyelesaikan permasalahan, serta memiliki skill untuk berkomunikasi dan bekerja sama. Disamping itu, siswa harus mampu beradaptasi, mempunyai inisiatif, mampu mengakses dan menganalisis informasi serta mempunyai keingintahuan tinggi menggunakan ICT dan mengintegrasikannya dalam aktivitas pengajaran, guru diharapkan dapat mengantarkan para siswa memenuhi kompetensi tersebut.

Untuk mengoptimalkan kompetensi siswa tersebut diperlukan sistem pembelajaran yang terstruktur dengan baik. Upaya penggabungan model pembelajaran tatap muka di kelas dengan model pembelajaran online ini dikenal dengan istilah blended learning. Tujuan blended learning untuk mendapatkan kualitas pembelajaran yang baik dimana metode pembelajaran tatap muka (face to face) memungkinkan untuk dilakukan pembelajaran interaktif, sedangkan metode online learning dapat memberikan materi secara online tanpa batas ruang dan waktu, namun masih memungkinkan mendapatkan bimbingan dan arahan untuk dicapai pembelajaran yang maksimal (Hadi, 2012). 

Berdasarkan gambar diatas, menunjukkan bahwa terdapat banyak kegiatan dalam pendidikan dan pengajaran yang bisa dilakukan guru dengan bantuan ICT, yaitu diantaranya adalah administrasi, komunikasi, pengembangan sumber belajar, pembuatan rencana pembelajaran, penyampaian bahan ajar, evaluasi, aktivitas dalam dan luar kelas, belajar mandiri, hingga pengembangan profesi guru. Akan tetapi pemanfaatan ICT dalam pembelajaran oleh guru dan siswa secara optimal memang tidaklah mudah. Paling tidak ada tiga kondisi yang harus dipenuhi, yakni:
  1. guru dan siswa harus mempunyai akses yang mudah ke perangkat teknologi termasuk koneksi Internet,
  2. tersedianya konten digital (bahan ajar) yang mudah dipahami guru dan siswa,
  3. guru harus punya pengetahuan dan ketrampilan menggunakan teknologi dan sumber daya guna membantu siswa mencapai standar akademik. 

Paradigma Pendidikan Abad-21
Di abad ke 21 ini, pendidikan menjadi semakin penting untuk menjamin peserta didik memiliki keterampilan belajar dan berinovasi, ketrampilan menggunakan teknologi dan media informasi, serta dapat bekerja, dan bertahan dengan menggunakan keterampilan untuk hidup (life skills). Terkait dengan Paradigma Pendidikan di Abad-21, BNSP merumuskan 16 prinsip pembelajaran yang harus dipenuhi dalam proses pendidikan abad ke-21, yaitu:
  1. dari berpusat pada guru menuju berpusat pada siswa;
  2. dari satu arah menuju interaktif;
  3. dari isolasi menuju lingkungan jejaring;
  4. dari pasif menuju aktif menyelidiki; 
  5. dari maya/abstrak menuju konteks dunia nyata;
  6. dari pribadi menuju pembelajaran berbasis tim;
  7. dari luas menuju perilaku khas memberdayakan kaidah keterikatan;
  8. dari stimulasi rasa tunggal menuju stimulasi ke segala penjuru;
  9. dari alat tunggal menuju alat multimedia; 
  10. dari hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif;
  11. dari produksi massa menuju kebutuhan pelanggan; 
  12. dari usaha sadar tunggal menuju jamak; 
  13. dari satu ilmu dan teknologi bergeser menuju pengetahuan disiplin jamak;
  14. dari kontrol terpusat menuju otonomi dan kepercayaan; 
  15. dari pemikiran faktual menuju kritis, dan;
  16. dari penyampaian pengetahuan menuju pertukaran pengetahuan. (BSNP, 2010).
Tiga konsep pendidikan abad 21 telah diadaptasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk mengembangkan kurikulum baru untuk Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tiga konsep tersebut diadaptasi untuk mengembangkan pendidikan menuju Indonesia Kreatif tahun 2045. Adaptasi dilakukan untuk mencapai kesesuaian konsep kapasitas peserta didik dan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. Ketiga ketrampilan tersebut dirangkum dalam skema pelangi keterampilan-pengetahuan abad 21 (Trilling dan Fadel, 2009).

Dalam konteks pendidikan, 3R adalah singkatan dari reading, writing dan (a) rithmatic, diambil lafal “R” yang kuat dari setiap kata. Dari subjek reading dan writing, muncul gagasan pendidikan modern yaitu literasi yang digunakan sebagai pembelajaran untuk memahami gagasan melalui media kata-kata. Perkembangan teknologi informasi sudah sedemikian pesatnya, terutama di pusat perkotaan. Seperti kita ketahui bersama adanya kebijakan dalam rangka mengintegrasikan informasi ke dalam pendidikan merupakan suatu terobosan yang diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Namun, sejauh ini pengembangan teknologi informasi terkonsentrasi di sekolah pusat kota, sedangkan sekolah di pusat desa dan di ujung desa masih sebatas retorika. Walaupun komitmen pemerintah menyatakan akan melakukan kebijakan internet masuk desa.

Kenyataan yang ada saat ini, kita masih mendapati besarnya kesenjangan pendidikan antara sekolah pusat kota, sekolah pinggir kota, dan sekolah pusat desa, serta sekolah di ujung desa. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kesenjangan ini, salah satunya adalah infrastruktur sekolah yang belum memadai standar, fasilitas perangkat keras dan perangkat lunak teknologi informasi yang belum merata (komputer, jaringan internet, disamping itu distribusi kualifikasi guru dalam memahami dan menguasai teknologi informasi yang belum merata)

Pertukaran informasi menjadi semakin cepat dan instan, namun lembaga pendidikan masih menggunakan sistem tradisional dalam proses pembelajarannya. Sekolah dan perguruan tinggi seharusnya telah meninggalkan sistem tradisional sejak diketemukannya media komunikasi berupa multimedia. Karena sifat teknologi informasi (internet) yang dapat dihubungi setiap saat. Artinya siswa dan mahasiswa dapat memanfaatkan program-program pendidikan yang disediakan di jaringan internet kapan saja sesuai dengan waktu luang mereka sehingga kendala ruang dan waktu yang mereka hadapi untuk mencari sumber belajar dapat teratasi. Dengan perkembangan pesat di bidang teknologi telekomunikasi, multimedia dan informasi maka pembelajaran dengan mendengarkan ceramah, mencatat di atas kertas sudah tentu ketinggalan jaman. Untuk menjawab tantangan ini diperlukan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat (Mukhtar, 2012). 

Perkembangan ICT yang begitu pesat dan kemudahan mengaksesnya mengharuskan guru memanfaatkan berbagai keunggulan ICT tersebut secara inovatif dalam aktivitas pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. Dengan Perancangan yang baik dan inovatif, ICT Dapat menjadikan materi pembelajaran menjadii lebih menarik, tidak membosankan, mudah dipahami, dan dapat dipelajari kapan saja dan dari mana saja. Blended learning yang merupakan kombinasi ICT (multimedia, e-learning), tatap muka (diskusi, ceramah), dan mandiri (penugasan, Proyek, lab) dirasa bentuk yang paling mungkin diimplementasikan di Indonesia Mengingat masih terbatasnya infrastuktur.

Pembelajaran Berbasis Blended Learning
E-learning adalah sebuah proses pembelajaran yang berbasis elektronik. Salah satu media yang digunakan adalah jaringan komputer. Sistem e-learning ini tidak memiliki batasan akses. Inilah yang memungkinkan perkuliahan bisa dilakukan lebih banyak waktu, kapanpun mahasiswa bisa mengakses sistem ini. Aktifitas perkuliahan ditawarkan untuk bisa melayani seperti perkuliahan biasa. Ada penyampaian materi berbentuk teks maupun hasil penyimpanan suara yang bisa di download, selain itu juga ada forum diskusi, bisa juga seorang dosen memberikan nilai, tugas dan pengumuman kepada mahasiswa.

Jika dikaji secara terminologis maka blended e-learning menekankan pada penggunaan internet seperti pendapat Rosenberg (2001) bahwa blended e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan Campbell (2002) dan Kamarga (2002) yang intinya menekankan penggunaan internet dalam pendidikan sebagai hakikat blended e-learning, termasuk untuk pendidikan guru/dosen. Blended learning telah didefinisikan oleh Ciso Sistem (dalam Rusman, 2011:244) yaitu:

“As the combition of the characteristic from both traditional learning and blended e-learning environment. It merges aspects of blended e-learning as such as: web based instruction, streaming video, audio synchronous and asynchronous communication, etc: with traditional “face to face learning” learning”.

Blended learning merupakan istilah yang berasal dari bahasa inggris, yang terdiri dari dua suku kata, blended dan learning. Blended merupakan campuran, kombinasi yang baik. Sedangkan learning memiliki makna umum belajar, dengan demikian sepintas mengandung makna pola pembelajaran yang mengandung unsur pencampuran, atau penggabungan antara satu pola dengan pola yang lainnya. Berikut ini pengertian blended learning dari beberapa sumber.
  1. Thorne (2003), Blended learning adalah perpaduan dari teknologi multimedia, CD ROM, video streaming, kelas virtual, voicemail, email dan telefon conference, animasi teks online dan video-streaming. Semua ini dikombinasi dengan bentuk tradisional pelatihan di kelas. Blended learning menjadi solusi yang paling tepat untuk proses pembelajaran yang sesuai tidak hanya dengan kebutuhan pembelajaran akan tetapi juga gaya si pembelajar.
  2. Harding, Kaczynski dan Wood (2005), Blended learning merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan pembelajaran tradisonal tatap muka dan pembelajaran jarak jauh yang menggunakan sumber belajar online dan beragam pilihan komunikasi yang dapat digunakan oleh guru dan siswa Pelaksanaan pendekatan ini memungkinkan penggunaan sumber belajar online, terutama yang berbasis web, dengan tanpa meninggalkan kegiatan tatap muka.
  3. Wilson & Smilanich (2005) menyimpulkan bahwa Blended learning adalah penggunaan solusi pelatihan yang paling efektif, diterapkan dalam cara yang terkoordinasi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.
  4. MacDonald (2008), istilah blended learning biasanya berasosiasi dengan memasukkan media online pada program pembelajaran, sementara pada saat yang sama tetap mempertahankan kontak tatap muka dan pendekatan tradisional yang lain untuk mendukung siswa. Istilah ini juga digunakan pada media asynchronous seperti email, forum, blogs atau wikis digabungkan dengan teknologi, teks atau audio sinkronus.

Penerapan blended learning tidak terjadi secara begitu saja. Tapi, terlebih dulu harus ada pertimbangan karakteristik tujuan pembelajaran yang ingin kita capai, aktifitas pembelajaran yang relevan serta memilih dan menentukan aktifitas mana yang relevan dengan konvensional dan aktifitas mana yang relevan untuk online learning. Tujuan dari blended learning adalah untuk mendapatkan pembelajaran yang baik dimana metode pembelajaran tatap muka memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran secara interaktif, sedangkan metode pembelajaran online dapat memberikan materi secara online tanpa batasan ruang dan waktu sehingga dapat dicapai pembelajaran yang maksimal. Tidak ada aturan baku tentang pembelajaran secara blended, oleh karena itu dapat disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Dalam penelitian ini ditentukan blended learning yang digunakan adalah kombinasi pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online.

Blended learning diwujudkan dalam lingkungan belajar mengajar terdapat integrasi dari berbagai modus pengiriman, model pengajaran dan gaya belajar sebagai hasil dari strategis dan pendekatan sistematis penggunaan teknologi yang dikombinasikan dengan interaksi dalam model tatap muka. (Debra Bath and John Bourke: 2013). Blended learning terbukti efektif mengintegrasikan TIK ke dalam desain pengajaran dan pembelajaran. Dalam banyak kasus "blending" efisien sebagai desain pengajaran dan pembelajaran untuk memberikan pengalaman yang lebih baik bagi siswa. Hal ini dikarenakan blending dapat melibatkan campuran model pengiriman, pendekatan dan gaya belajar siswa. Kemajuan teknologi memberikan peluang untuk guru dalam merancang dan meningkatkan perannya dan siswa memperoleh pengalaman kognitif melalui lingkungan belajarnya.

Mengajar atau “teaching” adalah membantu peserta didik memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berpikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana belajar (Joyce dan Well, 1996). Sedangkan pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan peserta didik. Secara implisit dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode didasarkan pada kondisi pembelajaran yang ada. Kegiatan-kegiatan tersebut pada dasarnya merupakan inti dari perencanaan pembelajaran. Konsep pembelajaran adalah “bagaimana membelajarkan peserta didik”, dan bukan pada “apa yang dipelajari peserta didik”. Dengan demikian pembelajaran menempatkan peserta didik sebagai subjek bukan sebagai objek. Oleh karena itu agar pembelajaran dapat mencapai hasil yang optimal guru perlu memahami karakteristik peserta didik.

Mengembangkan Kecakapan Siswa
Sekurang-kurangnya terdapat dua macam kecakapan kognitif siswa yang penting dikembangkan oleh seorang pendidik terhadap siswanya, yakni; 1) strategi belajar memahami isi materi pelajaran, 2) strategi memahami arti penting isi materi pelajaran dan aplikasinya serta menyerap pesan-pesan moral yang terkandung dalam materi pelajaran tersebut. Tanpa pengembangan dua macam kecakapan kognitif ini, agaknya siswa sulit diharapkan mampu mengembangkan ranah afektif dan psikomotornya sendiri (Muhibbinsyah, 2010).

Siswa dengan menggunakan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk mencari, mengeksplorasi, menganalisis, dan saling tukar informasi secara kreatif dan bertanggungjawab. Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi akan mengembangkan sikap inisiatif dan kemampuan belajar mandiri. Pada kondisi yang demikian siswa memiliki inisiatif sendiri dan motivasi intrinsik, menganalisis kebutuhan dan merumuskan tujuan, memilih dan menerapkan strategi penyelesaian masalah, memilih sumber belajar yang sesuai, serta mengevaluasi diri terhadap performansinya.

Pengaturan diri siswa dalam belajar digambarkan sebagai derajat tingkatan secara metakognitif, secara motivasional, dan secara perilaku berperan aktif dalam belajar siswa sendiri (Zimmerman, 1989). Siswa memiliki kemampuan mengatur diri (self-regulated) menerapkan berbagai strategi kognitif dan metakognitif untuk mencapai tujuan belajar (Corno & Mandinach, 1983). Siswa juga menerapkan strategi manajemen sumber daya untuk memilih atau mengatur aspek lingkungan fisik untuk mendukung belajar mereka dan untuk mengatur waktu mereka secara efektif. Sebagai tambahan, mereka lebih mungkin mencari teman sebaya atau bantuan guru jika mereka menemukan kesulitan belajar.

Kaitan antara pengaturan diri dalam belajar dan penggunaan ICT dalam pembelajaran, sangat ditentukan oleh faktor kemandirian dalam kegiatan belajar, sehingga guru tidak lagi bertindak sebagai pemberi pengetahuan melainkan sebagai fasilitator. Dalam hal ini siswa dapat menentukan sendiri apa yang akan dipelajarinya dan kapan mereka akan mempelajarinya secara mendalam. Merekapun diberi kebebasan untuk membuat kesimpulan/intisari dari apa yang telah dipelajarinya. 

Bahasan tentang teknologi, tak lepas dari kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan berbagai kemungkinan penerapannya, khususnya pada pembelajaran. Kekuatan TIK pada pembelajaran, akan melahirkan konsep e-learning, manfaat e-learning, dan bahan-bahan pembelajaran untuk e-learning. E-learning termasuk model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Dengan model pembelajaran ini, peserta didik dituntut mandiri dan bertanggung jawab terhadap proses pembelajarannya, sebab ia dapat belajar di mana saja, kapan saja, yang penting tersedia alatnya. E-learning menuntut keaktifan peserta didik. Peserta didik akan memiliki kekayaan informasi, sebab ia dapat mengakses informasi dari mana saja yang berhubungan dengan materi pembelajarannya.

Model pengembangan TIK dalam pembelajaran dapat dilakukan dalam empat tahapan, yaitu emerging, applying, infusing, dan transforming (Majumdar dalam Budi Murtiyasa (2012). Emerging adalah tahap dimana semua insan pendidikan menjadi memiliki perhatian terhadap TIK. Hal ini ditandai dengan kebutuhan akan dukungan terhadap performa kerja. Applying adalah tahapan dimana para insan pendidikan mulai belajar menggunakan TIK. Pada tahapan ini kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tradisional dengan TIK mulai dirasakan sebagai suatu kebutuhan. Infusing adalah tahap dimana para insan pendidikan mulai mengetahui bagaimana dan kapan menggunakan TIK. Ini ditunjukkan dengan kemampuan menyediakan fasilitas belajar berbasis TIK bagi para peserta didik Akhirnya tahap transforming adalah secara spesifik dapat menggunakan TIK untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran yang dihadapinya. Dengan TIK dapat diciptakan lingkungan belajar yang inovatif, sehingga merangsang peserta didik untuk berpikir dan berkreasi untuk memecahkan masalah.

Keberhasilan pengembangan ranah kognitif tidak hanya akan membuahkan hasil pada kecakapan kognitif saja, melainkan dapat menghasilkan kecakapan ranah afektif. Sebagai contoh seorang guru agama yang piawai dalam mengembangkan kecakapan kognitif dengan cara akan berdampak positif terhadap ranah afektif para siswa. Dalam hal ini, pemahaman yang mendalam terhadap arti penting materi pelajaran agama yang disajikan guru serta preferensi kognitif yang mementingkan kecakapan ranah afektif para siswa. Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiaannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media- media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut.

Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Penggunaan komputer dalam pendidikan dapat menggabungkan unsur inovasi, kreativitas dan hiburan, menjadikan peserta didik memiliki rasa senang, tidak jenuh menerima pelajaran dan memudahkan tenaga pendidik dalam mempersiapkan materi pembelajaran. Apabila media teknologi ini tersedia, maka dengan mudah siswa dapat memfokuskan pengambilan keputusan, refleksi, penalaran, dan problem solving. Hal ini akan mendorong daya pikir kritis siswa dan berkeasi dengan bebas. Keberhasilan pengembangan ranah kognitif juga akan berdampak positif pada perkembangan ranah psikomotor. Kecakapan psikomotor adalah segala amal jasmaniah yang konkret dan mudah diamati, baik kuantitasnya maupun kualitasnya, karena sifatnya yang terbuka. Namun kecakapan psikomotor tidak terlepas dari kecakapan afektif. Jadi, kecakapan psikomotor siswa merupakan manifestasi wawasan pengetahuan dan kesadaran serta sikap mentalnya.

Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi
Sejarah Teknologi Informasi dan Komunikasi, TIK (bahasa Inggris: Information and Communication Technologies /ICT). TIK mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Oleh karena itu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah dua buah konsep yang tidak terpisahkan. Jadi Teknologi Informasi dan Komunikasi mengandung pengertian luas yaitu segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media. 

Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi, adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global. Pemanfaatan teknologi informasi dalam bidang pendidikan merupakan kelaziman untuk membantu menyediakan komputer dan jaringan yang menghubungkan rumah siswa dengan ruang kelas, guru, dan administrator sekolah. Semuanya dihubungkan ke Internet, dan para guru dilatih menggunakan komputer pribadi.

Menghadapi era globalisasi dan kompetisi sebagai konsekuensi tak terhindarkan dari proses itu menuntut peningkatan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM). Persaingan era global telah dipenuhi segala teknologi canggih. Kita tahu bahwa kemajuan pendidikan step by step, sedangkan lajunya perkembangan teknologi jump by jump. Hampir semua bidang pendidikan harus bisa memberdayakan dan memanfaatkan kemajuan teknologi dalam upaya menghasilkan SDM yang berkualitas dan mampu bersaing dalam pencaturan global. 

Fenomena globalisasi yang ditandai dengan kekuatan konvergensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mestinya dijadikan faktor mendasar menstranformasikan lembaga pendidikan. Pentingnya lembaga pendidikan membangun sistem yang mendukung terwujudnya lingkungan pembelajaran generasi baru alias Next Generation Learning Environment, yaitu dengan cara pemanfaatan teknologi TIK terkini untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, adminisrasi serta interaksi dan kolaborasi antar guru, siswa, orang tua, komunitas dan sekolah yang lebih efektif dan murah.

Tugas yang besar bagi lembaga pendidikan di Indonesia untuk melakukan upaya-upaya terobosan dan progresif untuk meningkatkan kualitas tersebut. Sebab jika tidak, maka pengembangan SDM bangsa ini akan terus tertinggal. Kepentingan ini semakin mendesak mengingat dalam waktu yang tidak lama lagi, institusi pendidikan dari luar negeri dimungkinkan untuk diselenggarakan di Indonesia. Hal ini merupakan tantangan besar bagi institusi pendidikan dalam negeri untuk segera berbenah. Perkembangan teknologi informasi telah mengarah ke teknologi Web yang ditandai dengan berkembangnya sistem berbasis jejaring social (social networking) juga diwarnai teknologi yang memungkinkan berjalannya aplikasi web seperti aplikasi desktop, berkembangnya teknologi multimedia baik audio dan video streaming dan lain sebagainya.

Pemanfaatan teknologi informasi dalam bidang pendidikan sudah merupakan suatu keharusan untuk memfasilitasi dan mempermudah proses pembelajaran. 

Seperti menggunakan komputer atau notebook/netbook, liquid, crystal display (LCD), interconnection-networking (internet), Compact Disk (CD), flasdisk, dimana pemanfaatannya tersebut dapat membantu proses kegiatan belajar mengajar. Kemajuan teknologi informasi memang membawa dampak positif bagi dunia pendidikan. Teknologi informasi khususnya teknologi komputer dan internet, baik dalam hal perangkat keras maupun lunaknya, memberikan banyak tawaran dan pilihan bagi dunia pendidikan untuk menunjang proses pembelajaran peserta didik. Keunggulan yang ditawarkan bukan saja terletak pada faktor kecepatan untuk mendapatkan informasi namun juga fasilitas multimedia yang dapat membuat belajar lebih menarik, visual dan interaktif.

Sejalan dengan perkembangan teknologi internet banyak kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi ini. Untuk selanjutnya pembelajaran melalui jalur internet kita sebut sebagai pembelajaran berbasis web. Harus diakui bahwa pembelajaran berbasis web ini dapat terlaksana karena pengembangan yang pesat di tiga bidang yaitu bidang pembelajaran jarak jauh, pembelajaran dengan menggunakan teknlogi komputer dan perkembangan yang sangat pesat dalam teknologi internet.

Pembelajaran jarak jauh mempunyai sejarah yang sudah sangat lama. Pembelajaran jarak jauh dimulai dan dikenal masyarakat dunia sekitar pertengahan tahun 1800-an di Amerika Serikat, Perancis dan beberapa negara Eropa lainnya (Moore & Kearsley, 1996). Pada umumnya pembelajaran jarak jauh dilakukan melalui korespondensi menggunakan media kertas dan jasa pos. Namun kemudian kemajuan teknologi komputer berkembang sangat pesat dan ini membawa dampak luar biasa dalam memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk mengakses informasi untuk pembelajaran dengan lebih mudah, menarik, visual dan interaktif.

Berbagai istilah pembelajaran dengan memanfaatkan komputer mulai dari komputer-aided instruction (CAI), komputer based training (CBT) sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sedangkan pembelajaran berbasis web mulai digunakan setelah teknologi internet berkembang pesat. Melalui internet banyak informasi yang dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Pengaksesan informasi menjadi relatif lebih cepat, murah dan mudah. Teknologi internet memberikan kemudahan bagi siapa saja untuk mendapatkan informasi apa saja dari mana saja dan kapan saja dengan mudah dan cepat. Informasi yang tersedia di berbagai pusat data di berbagai komputer di dunia, selama komputer-komputer tersebut saling terhubung dalam jaringan internet, dapat kita akses dari mana saja. Ini merupakan salah satu keuntungan belajar melalui media internet.

Pembelajaran Secara Tatap Muka dan Virtual
Sekalipun teknologi web memungkinkan pembelajaran dilakukan virtual secara penuh namun kesempatan itu tidak dapat dilakukan. Interaksi selama pembelajaran secara tatap muka masih tetap dibutuhkan. Ada tiga alasan mengapa forum tatap muka masih dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran ini. Tiga alasan tersebut adalah:
  1. perlunya forum untuk menjelaskan maksud dan mekanisme belajar yang akan dilalui bersama secara langsung dengan semua peserta didik,
  2. perlunya memberikan pemahaman sekaligus pengalaman belajar dengan mengerjakan tugas secara kelompok dan kolaboratif pada setiap peserta didik. Karena model pembelajaran yang dirancang menuntut kerja kelompok maka peserta didik perlu memiliki kompetensi dalam berkomunikasi,
  3. perlunya memberikan pelatihan menggunakan komputer yang akan digunakan sebagai media komunikasi berbasis web kepada setiap peserta didik.

Pada sesi tatap muka guru menyampaikan pokok-pokok bahasan penting. Ceramah singkat dengan mengundang peserta didik untuk berpartisipasi langsung dalam diskusi sangat baik untuk dilakukan. Ini tentu saja membangun iklim partisipatoris dalam kelas. Mengerjakan tugas dalam kelompok maupun pribadi diberikan untuk melatih diri bekerja dalam kelompok. Sikap terbuka dan berani berekspresi merupakan sikap dasar dan penting yang dibutuhkan pada sesi diskusi virtual berikutnya.

Interaksi secara virtual dilakukan untuk mendiskusikan topik-topik penting untuk dipahami bersama- sama. Mereka diharapkan untuk saling menyampaikan pikiran maupun mengkritisi pendapat lain atas sebuah topik yang telah ditentukan oleh guru maupun dipilih oleh mereka sendiri. Kerja dalam kelompok dan kolaborasi dilakukan melalui media atau forum khusus didedikasikan untuk masing-masing kelompok virtual yang ada. Forum diskusi tersebut dinamakan konferensi. Konferensi yang digunakan oleh setiap kelompok bersifat tertutup (private conference), artinya konferensi tersebut hanya dapat diakses oleh anggota kelompok itu saja dan guru (jika dikehendaki). Namun di samping itu, antar sesama peserta didik berbeda kelompok juga dapat saling berkomunikasi melalui sebuah konferensi kelas yang bersifat terbuka (opened conference).

Semua peserta didik dapat mengakses konferensi terbuka ini tidak bergantung kelompok apa dia berasal. Ini sengaja dibuat dengan maksud agar setiap temuan, hasil kerja kelompok juga dapat dibagikan kepada kelompok lain. Kelompok lain dapat memberikan pendapat dan kritik atas pendapat kelompok lain melalui konferensi ini. 

Model jalur komunikasi dalam kerja kelompok dan kolaborasi dapat dilihat pada gambar 38. Diskusi dilakukan antar kelompok dan pihak guru (gambar 3a) maupun antar individu peserta didik dan guru. Penugasan atas nama kelompok didiskusikan antar anggota kelompok tersebut untuk kemudian disampaikan kepada kelompok lain. Selain diskusi, seseorang dapat menyampaikan pertanyaan kepada guru atau kepada sesama peserta didik. Semangat belajar dari dan untuk sesama merupakan warna kegiatan pendidikan ini.

Kompetensi Profesi Guru Berbasis ICT
Berdasarkan definisi yang diberikan oleh UNESCO Asia and Pacific Regional Bureau for Education and Commonwealth of Learning, bahwa TIK adalah teknologi yang digunakan untuk berkomunikasi dan untuk membuat, mengelola dan mendistribusikan informasi. Dari definisi yang luas, TIK termasuk komputer, internet, telepon, televisi, radio, dan peralatan audiovisual (UNESCO, 2008). Bondan S. Prakoso dan Rakhmat Januardy (2005) mengemukakan bahwa program TIK di lingkungan Kemendikbud dirancang, disusun, dan dilaksanakan agar dapat memberikan sebesar- besarnya manfaat bagi semua pihak, khususnya komunitas.

Banyak perubahan yang terjadi dalam pendidikan, dimana TIK merupakan salah satu kekuatan pendorongnya. Salah satu bentuk perubahan itu adalah meningkatnya akses ke TIK di kalangan siswa dan guru baik di rumah maupun di sekolah, tak terkecuali di Indonesia. Sebagaimana yang dilansir oleh Communication and Information Unit UNESCO Bangkok bahwa penggunaan TIK di lingkungan pendidikan di Indonesia yang telah teridentifikasi, yaitu: (1) penggunaan TIK yang paling dominan adalah untuk email; (2) TIK dimasukkan dalam kurikulum di beberapa sekolah; (3) pusat pelatihan swasta menawarkan kursus singkat terkait TIK (misalnya, MS Office, Desain web , animasi); (4) anggaran telah dialokasikan untuk fasilitas TIK dan koneksi internet di sekolah; dan (5) pelatihan komputer dasar disediakan untuk guru.

Keterampilan TIK adalah kompetensi pada bidang pembelajaran, yang mencerminkan pemerataan yang luas dalam keterampilan penggunaan TIK. Keterampilan TIK di adaptasi, ditransfer, dan digunakan sebagai alat untuk membantu transformasi pembelajaran dalam hubungannya dengan keterampilan penting lainnya seperti membaca, berhitung dan pemecahan masalah (Mceetya, 2005). Hal senada dikemukakan oleh CETF bahwa keterampilan TIK/digital adalah kemampuan untuk menggunakan peralatan komunikasi dan teknologi digital dan atau jaringan untuk mengakses, mengelola, mengintegrasikan, mengevaluasi, membuat dan mengkomunikasikan informasi sesuai fungsi nya dalam masyarakat berpengetahuan.

Dalam konteks Indonesia, UNESCO mengemukakan bahwa pada sejumlah sekolah di Indonesia TIK telah digunakan secara terpadu dalam pendidikan. Guru yang mempunyai kompetensi TIK ditunjuk sebagai koordinator TIK, yang bertanggung jawab atas pengelolaan penggunaan TIK di sekolah. Realitas yang ada adalah kebanyakan koordinator TIK tidak memiliki latar belakang pendidikan TIK. Oleh karena itu, melatih mereka dalam TIK yang berhubungan dengan keterampilan yang diperlukan. JIS (Jaringan Informasi Sekolah), sebuah program diprakarsai oleh Direktorat PSMK, bertujuan untuk memberikan pelatihan TIK bagi guru dalam jaringan.

Sebagaimana dikemukakan oleh Pelgrum, bahwa hasil survey yang dilakukan terhadap sekolah di 24 negara menunjukkan hambatan serius yang dirasakan oleh praktisi pendidikan dalam upaya mewujudkan tujuan mereka terkait TIK, antara lain:1) kurangnya jumlah komputer; (2) guru tidak memiliki pengetahuan/keterampilan; (3) kesulitan untuk mengintegrasikan dalam pembelajaran;(4) supervisi dari staf tidak cukup; dan (5) tidak cukup kesempatan mengikuti pelatihan. 

Rangkuman
  1. E-learning adalah sebuah proses pembelajaran yang berbasis elektronik. Salah satu media yang digunakan adalah jaringan komputer. Sistem e-learning ini tidak memiliki batasan akses. Inilah yang memungkinkan perkuliahan bisa dilakukan lebih banyak waktu, kapanpun mahasiswa bisa mengakses sistem ini.
  2. Pelaksanaan blended learning bertujuan untuk mendapatkan kualitas pembelajaran yang baik dimana metode pembelajaran tatap muka (face to face) memungkinkan untuk dilakukan pembelajaran interaktif, sedangkan metode online learning dapat memberikan materi secara online tanpa batas ruang dan waktu, namun masih memungkinkan mendapatkan bimbingan dan arahan untuk dicapai pembelajaran yang maksimal.
  3. Keterampilan TIK adalah kompetensi pada bidang pembelajaran, yang mencerminkan pemerataan yang luas dalam keterampilan penggunaan TIK. Keterampilan TIK diadaptasi, ditransfer, dan digunakan sebagai alat untuk membantu transformasi pembelajaran dalam hubungannya dengan keterampilan penting lainnya seperti membaca, berhitung dan pemecahan masalah.
  4. Paradigma Pendidikan di Abad-21 merumuskan 16 prinsip pembelajaran yang harus dipenuhi dalam proses pendidikan, yaitu: 1) dari berpusat pada guru menuju berpusat pada siswa; 2) dari satu arah menuju interaktif; 3) dari isolasi menuju lingkungan jejaring; 4) dari pasif menuju aktif menyelidiki; 5) dari maya/abstrak menuju konteks dunia nyata; 6) dari pribadi menuju pembelajaran berbasis tim; 7) dari luas menuju perilaku khas memberdayakan kaidah keterikatan; 8) dari stimulasi rasa tunggal menuju stimulasi ke segala penjuru; 9) dari alat tunggal menuju alat multimedia; 10) dari hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif; 11) dari produksi massa menuju kebutuhan pelanggan; 12) dari usaha sadar tunggal menuju jamak; 13) dari satu ilmu dan teknologi bergeser menuju pengetahuan disiplin jamak; 14) dari kontrol terpusat menuju otonomi dan kepercayaan; 15) dari pemikiran faktual menuju kritis, dan; 16) dari penyampaian pengetahuan menuju pertukaran pengetahuan.

    Download Berkas Mengenai Orientasi Pembelajaran Abad 21 - Buku Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam)

    Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Mengenai Orientasi Pembelajaran Abad 21 ini silahkan lihat file preview Buku Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam) atau download file pada link di bawah ini:

    Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam)



    Download File:
    Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam).pdf 

    Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Orientasi Pembelajaran Abad 21 - Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam). Semoga bisa bermanfaat.


    Lihat juga di bawah ini beberapa rekomendasi berkas penting lainnya:

    Tips: Klik Bagikan/Share sebelum Download

    Klik G+1 untuk merekomendasikan ke teman/rekan Anda

    Silahkan bagikan dan beritahukan atau rekomendasikan berkas ini ke teman atau rekan Anda melalui sosial media dengan menekan icon-icon di bawah ini. Terima Kasih.
    Next
    « Prev Post
    Previous
    Next Post »