Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan

Kontributor : On Rabu, September 26, 2018

Berikut ini adalah arsip berkas Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan. Download file dalam format PDF.

Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan
Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan

Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan

Berikut ini kutipan teks/keterangan dari isi Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan.

Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan - Dr. Tita Rosita, M.Pd.

Dalam era otonomi daerah, pendidikan merupakan urusan wajib pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang membutuhkan peran serta aktif masyarakat. Dalam kaitan tersebut pendidikan memiliki program yang harus diselenggarakan secara berkesinambungan dengan memberdayakan seluruh sumber-sumber yang dimiliki oleh organisasi pendidikan. Mengingat pendidikan adalah kegiatan yang dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambungan serta melibatkan berbagai sumber daya dan kepentingan berbagai pihak maka penyelenggaraan pendidikan perlu direncanakan dengan baik.

Sebagaimana kita pahami bersama, pendidikan sebagai upaya untuk mempercepat pengembangan sumber daya manusia agar mampu menjalankan tugasnya dan sampai saat ini, pendidikan masih disepakati sebagai salah satu faktor yang sangat penting dalam membangun kehidupan manusia di masa akan datang. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh proses pendidikan yang berperan sebagai sarana untuk membentuk manusia seutuhnya dan menumbuh kembangkan potensi yang ada sesuai dengan UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 yaitu bahwa penyelenggaraan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Di samping itu, pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri. 

Pendekatan manajemen perencanaan yang terukur dan terarah di bidang pendidikan merupakan upaya strategis yang memungkinkan pendidikan dapat terselenggara dengan baik dan mencapai tujuan yang dicita-citakan. Perencanaan pendidikan memfokuskan perhatian pada langkah-langkah tertentu yang diambil oleh penyelenggara pendidikan untuk menjamin bahwa pendidikan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu dan ukuran keberhasilan yang sudah ditentukan.

Sebagai bagian dari penyelenggaraan pendidikan, langkah perencanaan sangatlah penting, apalagi bidang yang direncanakan adalah bidang yang sangat subtansial yaitu pendidikan, yang merupakan langkah awal dalam pembentukan karakter sumber daya manusia. Dari pandangan ini, berarti diperlukan perencanaan terpadu secara horizontal [antarsektor] dan vertikal [antarjenjang – bottom-up dan top-down planning], pendidikan harus berorientasi pada peserta didik dan pendidikan harus bersifat multikultural serta pendidikan dengan perspektif global” (Fasli Jalal dalam Sanaky, 2003 dalam hooglemp.blogspot.com/ diunduh 4 Desember 2011).

Sejalan dengan perkembangan kemajuan teknologi, khususnya di bidang informasi, perencanaan bidang pendidikan juga harus mengantisipasi perubahan kondisi seperti saat ini. Dalam kaitan ini perencanaan pendidikan harus lebih kreatif dalam beradaptasi dan berkembang sesuai dengan perkembangan dan kemajuan teknologi. Dengan kondisi perkembangan tersebut serta meningkatnya aspirasi masyarakat terhadap keberhasilan penyelenggaraan pendidikan maka pendidikan selalu dituntut untuk cepat tanggap atas perubahan yang terjadi dan melakukan upaya yang tepat secara normatif sesuai dengan harapan masyarakat.

Dalam konteks masyarakat Indonesia, nilai-nilai, norma sosial, keunggulan ilmu pengetahuan dan kebangsaan senantiasa merupakan amanat yang harus disampaikan dalam pendidikan dari generasi ke generasi. Lebih dari itu, masyarakat secara umum juga mengharapkan hasil pendidikan bukan hanya berupa lulusan yang memiliki nilai akademik yang baik namun juga lulusan yang dapat diterima di masyarakat dan dapat memberikan sumbangan nyata bagi kemajuan bangsa. Dengan demikian, tugas pendidikan sangat berat dan kompleks sehingga peran perencanaan sangat penting untuk memberikan petunjuk tentang arah dan tindakan yang harus ditempuh oleh penyelenggaraan pendidikan guna mencapai tujuan pendidikan tersebut.

Terkait dengan pemberdayaan sumber-sumber dalam penyelenggaraan pendidikan maka salah satu sumber yang sangat penting adalah sumber daya ekonomi termasuk di dalamnya sumber daya berupa biaya. Dalam kaitan ini, aspek ekonomi dalam pendidikan dipandang sebagai sumber daya kemajuan ekonomi suatu masyarakat, begitu juga sebaliknya, kemajuan pendidikan memerlukan dukungan ekonomi yang kuat (Sudomo, 1989). Bahkan pendidikan itu dalam bidang ekonomi dianggap sebagai human capital (Cohn, 1979; Becker 1975; Psacharopoulus, 1987; John, dkk, 1975; Bloug,

1970), di samping juga sebagai investasi yang essensial bagi pertumbuhan ekonomi (Vembriarto, 1993). Para ahli ekonomi berpendapat bahwa pengeluaran untuk pendidikan, pelatihan, pelayanan kesehatan merupakan investasi dalam bentuk human capital. Ahli ekonomi menyebutnya sebagai human capital karena manusia tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan, keterampilan, kesehatan dan nilai-nilai yang dianutnya (Becker, 2008).

Dalam konteks penyelenggaraan pendidikan, faktor biaya memegang peranan yang sangat penting dalam pembangunan pendidikan. Pentingnya pembiayaan pendidikan antara lain ditunjukkan dengan proses politik pada saat penentuan besarnya anggaran pendidikan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja dan Negara (APBN). Di samping itu, masalah alokasi pembiayaan juga diprioritaskan pada upaya meningkatkan mutu pendidikan, pemerataan, efisiensi, dan relevansi pendidikan. Secara nyata, semua upaya dalam perbaikan kualitas pendidikan pemikiran ini akan selalu dikaitkan dengan aspek biaya. Bahkan Undang-Undang telah mengamanatkan bahwa pembiayaan untuk sektor pendidikan harus mencapai 20% dari APBN. Dengan demikian, biaya pendidikan merupakan faktor input yang sangat penting dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan menjalankan fungsi pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Merujuk pada dua bidang kajian dalam manajemen pendidikan yaitu perencanaan dan pembiayaan pendidikan maka dibutuhkan suatu pemahaman yang menyeluruh dan terstruktur tentang bagaimana peranan dan fungsi perencanaan pendidikan serta peranan dan fungsi pembiayaan pendidikan. Modul ini merupakan pengantar dalam memahami berbagai kajian lain yang terkait dengan dua hal tersebut. Pada modul ini akan dibahas peranan dan fungsi perencanaan dalam manajemen pendidikan.

Setelah mempelajari modul ini Anda diharapkan dapat memahami dan menjelaskan peranan dan fungsi perencanaan pendidikan serta pembiayaan pendidikan dalam konteks manajemen pendidikan.

Adapun kompetensi khusus yang diharapkan dapat Anda capai setelah mempelajari modul ini yaitu: 
  1. menjelaskan pengertian manajemen pendidikan,
  2. menjelaskan unsur-unsur dalam manajemen pendidikan,
  3. menjelaskan peranan perencanaan dalam manajemen pendidikan,
  4. menjelaskan fungsi perencanaan dalam manajemen pendidikan,
  5. mengidentifikasi peranan perencanaan dalam konteks Manajemen Pendidikan dan Unsur Uang/Money sebagai sumber daya organisasi,
  6. menyusun perencanaan berdasarkan pendekatan 5 W dan 1 H, dan
  7. menghitung kebutuhan biaya pendidikan terkait dengan direct cost dan opportunity cost.

Peranan dan Fungsi Perencanaan Pembiayaan Dalam Manajemen Pendidikan
Konsep manajemen ilmiah Taylor menekankan pentingnya struktur dan desain dalam penyelesaian tugas organisasi. Penelitiannya memberi andil bagi pengembangan teknik manajemen dalam standarisasi kerja, perencanaan tugas, studi waktu dan gerak, piece rate, dan penghematan biaya dan terbentuknya bidang studi seperti pengawasan, teknik industri, manajemen industri, dan manajemen personal. Taylor mendeskripsikan manajemen ilmiah adalah ”penggunaan metode ilmiah untuk menentukan cara terbaik dalam menyelesaikan suatu pekerjaan”.

Dalam kaitannya dengan penyelenggaraan manajemen pendidikan prinsip-prinsip manajemen ilmiah hal yang juga menjadi dasar dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan. Fungsi-fungsi manajemen pendidikan antara lain yakni:
a. Fungsi Perencanaan (Planning)
b. Fungsi Pengorganisasian (Organizing)
c. Fungsi Pengarahan (Actuating)
d. Fungsi Pengawasan (Controlling)

Fungsi perencanaan adalah sebagai pedoman pelaksanaan dan pengendalian, sebagai alat bagi pengembangan quality assurance, menghindari pemborosan sumber daya dan sebagai upaya untuk memenuhi accountability kelembagaan. Jadi, hal yang terpenting di dalam menyusun suatu rencana adalah berhubungan dengan masa depan, seperangkat kegiatan, proses yang sistematis, dan hasil serta tujuan tertentu Tilaar (1997). Berdasarkan pendapat tersebut maka dengan melakukan perencanaan yang baik misalnya dengan memperhitungkan biaya yang dibutuhkan untuk suatu kegiatan dengan cermat maka upaya untuk mencapai efisiensi biaya dapat dicapai. Di samping itu, upaya tersebut juga menghindarkan pemborosan. Fungsi perencanaan sebagai akuntabilitas lembaga menunjukkan bahwa dengan adanya perencanaan maka pelaksanaan kegiatan dapat lebih dipertanggungjawabkan karena kegiatan tersebut dilakukan atas dasar perhitungan yang rinci, kesepakatan, dan memiliki kejelasan batasan dalam pelaksanaannya.

Suatu perencanaan strategis diawali dengan adanya penentuan misi atau tujuan yang dilanjutkan dengan analisis lingkungan internal dan eksternal. Perencanaan strategis pada dasarnya merupakan falsafah, yaitu suatu sikap, a way of life, suatu proses berpikir dan suatu aktivitas intelektual (Steiner dalam J. Salusu 2002). Dengan demikian, rencana strategis merupakan pendekatan perencanaan yang bersifat situasional karena didasarkan pada kebutuhan, kondisi empiris dan tantangan yang dihadapi oleh organisasi. Keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan adalah informasi yang lengkap tentang kondisi internal dan eksternal organisasi.

Pendidikan merupakan salah satu faktor penting untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Peningkatan kualitas pendidikan diharapkan dapat menghasilkan manfaat berupa peningkatan kualitas SDM. Di sisi lain, prioritas alokasi pembiayaan pendidikan seyogianya diorientasikan untuk mengatasi permasalahan dalam hal aksebilitas dan daya tampung. Oleh karena itu, dalam mengukur efektivitas pembiayaan pendidikan, terdapat sejumlah prasyarat yang perlu dipenuhi agar alokasi anggaran yang tersedia dapat terarah penggunaannya. 

Menurut Adam Smith, Human Capital yang berupa kemampuan dan kecakapan yang diperoleh melalui Pendidikan, belajar sendiri, belajar sambil bekerja memerlukan biaya yang dikeluarkan oleh yang bersangkutan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya dan pembiayaan pendidikan sekolah hal ini dipengaruhi oleh:
  1. Kenaikan harga (rising prices)
  2. Perubahan relatif dalam gaji guru (teacher’s sallaries)
  3. Perubahan dalam populasi dan kenaikannya prosentasi anak di sekolah negeri
  4. Meningkatnya standar pendidikan (educational standards)
  5. Meningkatnya usia anak yang meninggalkan sekolah
  6. Meningkatnya tuntutan terhadap pendidikan lebih tinggi (higher education)
Jenis- jenis pembiayaan pendidikan antara lain adalah:
  1. Biaya Langsung dan Tidak langsung (Direct and Indirect Cost)
  2. Biaya Rutin dan Biaya Pembangunan (Recurrent and Capital Cost)
  3. Biaya Pribadi dan Biaya Masyarakat (Private and Social Cost)
  4. Monetary Cost dan Non Monetery Cost

Manajemen ilmiah merupakan manajemen yang berbagi dengan teori administrasi dan teori birokrasi yang menekankan pada sisi logika, perintah dan hierarki dalam organisasi. Frederick Winslow Taylor merupakan pendukung paling berpengaruh dalam perkembangan ilmu ini dengan menyumbangkan banyak pemikiran mengenai manajemen ilmiah, misalnya dalam Manajemen Ilmiah (1974), yang pertama dipublikasikan pada tahun 1911 dan studi di pabrik mesin Bethlehem Steel Corporation. Frank dan Lillian Gilbreth kemudian meneruskan perjuangan Taylor dan mereka menyempurnakan studi waktu dan gerak dalam ilmu pengetahuan yang menggunakan analisis gambar gerak untuk mengevaluasi kinerja pegawai.

Fungsi perencanaan adalah sebagai pedoman pelaksanaan dan pengendalian, sebagai alat bagi pengembangan quality assurance, menghindari pemborosan sumber daya, menghindari pemborosan sumber daya, dan sebagai upaya untuk memenuhi accountability kelembagaan.

Perencanaan merupakan tindakan menetapkan terlebih dahulu apa yang akan dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, apa yang harus dikerjakan dan siapa yang akan mengerjakannya. Untuk dalam menyusun sebuah perencanaan yang baik, seorang pemimpin harus benar-benar tanggap terhadap kondisi lingkungan sekitarnya dan bisa memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang mungkin muncul di masa yang akan datang. Lebih lanjut Roger A. Kauffman (1972) menjelaskan bahwa Perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dan menetapkan jalan serta sumber yang diperlukan untuk seefisien dan seefektif mungkin.

Yang harus dirumuskan dalam penyusunan dokumen perencanaan sederhana adalah memuat:
a. What : nama kegiatan yang akan dikerjakan.
b. Why : alasan mengapa pekerjaan itu harus dilakukan/ latar belakang pelaksanaan.
c. Who : siapa saja/apa saja yang dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
d. When : Kapan pekerjaan tersebut dikerjakan 
e. Where : Di mana pekerjaan itu dilakukan.
f. How : Bagaimana cara mengerjakannya/ prosedur pelaksanaannya.

Untuk dapat tercapai tujuan pendidikan yang optimal, maka hal yang paling penting adalah mengelola biaya dengan baik sesuai dengan kebutuhan dana yang diperlukan. Administrasi pembiayaan minimal mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Penyaluran anggaran perlu dilakukan secara strategis dan integratif antara stakeholder agar mewujudkan kondisi ini, perlu dibangun rasa saling percaya, baik internal pemerintah maupun antara pemerintah dengan masyarakat dan masyarakat dengan masyarakat itu sendiri dapat ditumbuhkan. Keterbukaan, partisipasi, akuntabilitas dalam penyelenggaraan pendidikan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan menjadi kata- kata kunci untuk mewujudkan efektivitas pembiayaan pendidikan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya dan pembiayaan pendidikan sekolah hal ini dipengaruhi oleh:
a. Kenaikan harga (rising prices).
b. Perubahan relatif dalam gaji guru (teacher’s sallaries).
c. Perubahan dalam populasi dan kenaikannya prosentasi anak di sekolah negeri.
d. Meningkatnya standar pendidikan (educational standards). 
e. Meningkatnya usia anak yang meninggalkan sekolah.
f. Meningkatnya tuntutan terhadap pendidikan lebih tinggi (higher education).

Jenis- jenis pembiayaan pendidikan antara lain adalah:
a. Biaya Langsung dan Tidak langsung (Direct and Indirect Cost).
b. Biaya Rutin dan Biaya Pembangunan (Recurrent and Capital Cost).
c. Biaya Pribadi dan Biaya Masyarakat (Private and Social Cost).
d. Monetary Cost dan Non Monetery Cost.

    Download Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan

    Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan ini silahkan lihat file preview dan download pada link di bawah ini:

    Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan



    Download File:
    Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan - Dr. Tita Rosita, M.Pd..pdf

    Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan. Semoga bisa bermanfaat.

    Modul Wawasan Seni dan Pendidikan Kesenian di TK (Taman Kanak-Kanak)

    Kontributor : On Selasa, September 25, 2018

    Berikut ini adalah arsip berkas Modul Wawasan Seni dan Pendidikan Kesenian di TK (Taman Kanak-Kanak). Download file dalam format PDF.

    Modul Wawasan Seni dan Pendidikan Kesenian di TK (Taman Kanak-Kanak)
    Modul Wawasan Seni dan Pendidikan Kesenian di TK (Taman Kanak-Kanak)

    Modul Wawasan Seni dan Pendidikan Kesenian di TK (Taman Kanak-Kanak)

    Berikut ini kutipan teks/keterangan dari Modul Wawasan Seni dan Pendidikan Kesenian di Taman Kanak-Kanak - Dra. Caecilia Tridjata S., M.Sn. dan Dra. Widia Pekerti, M.Pd.

    Modul ini merupakan modul pertama dari 12 modul mata kuliah Metode Pengembangan Seni. Isi modul ini merupakan dasar pengetahuan bagi Anda sebagai guru taman kanak-kanak (TK) yang mengajar kesenian dalam menelaah dan mempelajari sebelas modul lainnya yang meliputi pendidikan seni rupa, pendidikan musik, dan pendidikan tari.

    Anak usia 4-6 tahun merupakan bagian dari anak usia dini yang secara terminologi disebut sebagai anak usia prasekolah atau taman kanak-kanak. Sejumlah riset membuktikan bahwa perkembangan kecerdasan anak pada masa ini mengalami peningkatan dari 50% menjadi 80%. Hal ini menunjukkan pentingnya upaya pengembangan seluruh potensi anak di usia prasekolah karena pada usia tersebut anak mengalami masa peka, yaitu masa terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespons stimulus yang diberikan oleh lingkungan. Masa peka merupakan masa untuk meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan seluruh potensi anak, termasuk pula minat dan bakat dalam bidang seni.

    Keberhasilan pembelajaran kesenian dapat terwujud apabila kegiatan belajar mengajar dapat membangkitkan motivasi belajar dan bermakna bagi anak. Faktor pembangkit motivasi belajar yang efektif adalah keingintahuan dan keyakinan akan kemampuan diri. Setiap anak memiliki rasa ingin tahu. Sebagai guru yang baik, Anda perlu menyalurkan rasa ingin tahunya melalui cara belajar aktif dan kreatif yang menyenangkan sesuai minat dan kemampuan anak. Kebermaknaan kegiatan dan materi belajar lazimnya terkait dengan bakat, minat, dan pengetahuan yang dimiliki oleh anak. Kebermaknaan belajar pengetahuan, apresiasi, dan keterampilan kesenian tidak dapat terlepas dari usaha-usaha guru dalam menumbuhkan dan mengembangkan sensitivitas persepsi dan indriawi serta berbagai pengalaman kreatif yang mencakup pengalaman emosional, intelektual, estetik, dan perseptual melalui bahasa ungkap yang berbeda, seperti bahasa rupa, bahasa bunyi, dan gerak sesuai karakter perkembangan seni anak pada masa prasekolah.

    Agar pendidikan seni di TK bermakna dan bermanfaat bagi anak, diperlukan upaya penyampaian materi dan pelaksanaan kegiatan kesenian yang bersifat multidimensional, multilingual, multidisiplin, dan multikultural melalui pendekatan belajar dengan seni, belajar melalui seni, dan belajar tentang seni. Untuk mampu menyampaikan secara tepat pada anak usia prasekolah, Anda perlu mengenal serta memahami konsep seni secara utuh dan konsep pendidikan seni secara umum dan khususnya aplikasi di TK. 

    Setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan memiliki sejumlah kemampuan berikut.
    1. Mampu menjelaskan konsep seni secara utuh yang meliputi pembahasan tentang pengertian seni, sifat dasar seni, unsur-unsur karya seni, dan klasifikasi/ragam seni.
    2. Mampu menjelaskan konsep pendidikan seni yang meliputi pembahasan tentang seni dalam pendidikan, aspek pendidikan seni, dan model pembelajaran seni.
    3. Mampu menjelaskan pendidikan seni di TK yang meliputi pembahasan tentang konsep pendidikan seni di TK, fungsi pendidikan seni bagi anak TK, model pembelajaran di TK, dan pendekatan pembelajaran di TK. 

    Selanjutnya, berikut ini dicantumkan beberapa petunjuk yang akan memberi kemudahan belajar Anda.
    1. Bacalah pendahuluan modul ini dengan baik sehingga Anda memahami benar isi modul ini, manfaat mempelajarinya, serta bagaimana cara mengkajinya.
    2. Lanjutkan kajian Anda pada seluruh isi modul ini dengan membacanya sepintas.
    3. Temukan kata-kata kunci dan kata-kata yang Anda anggap sukar atau baru bagi Anda. Cari kata-kata sukar tersebut dalam glosarium atau kamus.
    4. Bacalah isi modul untuk kedua kalinya, bagian demi bagian dengan cermat dan teliti.
    5. Upayakan agar Anda benar-benar dapat memahami pengertian, konsep, dan teori dalam modul ini melalui dua cara, yakni melalui pemahaman atau persepsi Anda sendiri dan juga melalui tukar pendapat dengan sesama anak didik atau tutor.
    6. Amati baik-baik alat bantu modul berupa video.
    7. Kerjakan secara tuntas semua tugas, berupa latihan yang terdapat uraian dan tes formatif yang tercantum pada akhir setiap kegiatan belajar.
    8. Terapkan prinsip dan prosedur belajar dengan berbagai pendekatan, antara lain dengan bentuk imajiner, pengalaman mengamati/mengobservasi karya seni, serta menikmati pertunjukan musik/tari/sastra dan dialog interaktif dengan seniman/narasumber.

      Download Modul Wawasan Seni dan Pendidikan Kesenian di TK (Taman Kanak-Kanak)

      Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Modul Wawasan Seni dan Pendidikan Kesenian di TK (Taman Kanak-Kanak) ini silahkan lihat file preview dan download pada link di bawah ini:

      Modul Wawasan Seni dan Pendidikan Kesenian di TK (Taman Kanak-Kanak)



      Download File:
      Modul Wawasan Seni dan Pendidikan Kesenian di Taman Kanak-Kanak - Dra. Caecilia Tridjata S., M.Sn. dan Dra. Widia Pekerti, M.Pd..pdf

      Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Modul Wawasan Seni dan Pendidikan Kesenian di TK (Taman Kanak-Kanak). Semoga bisa bermanfaat.

      Soal Latihan Tes CPNS Lengkap dengan Materi Kunci Jawaban

      Kontributor : On Selasa, September 25, 2018

      Berikut ini adalah arsip berkas Soal Latihan Tes CPNS Lengkap dengan Materi Kunci Jawaban. Download file dalam format PDF. Mudah-mudahan bisa menjawab pencarian anda terkait dengan kumpulan soal tes CPNS 2018, soal tes CPNS 2018 pdf, contoh soal tes CPNS 2018, kisi kisi soal tes CPNS 2018, download soal CPNS 2018, soal tes CPNS pdf, contoh soal CPNS 2018 pdf, soal CPNS 2018 dan kunci jawaban dan lain-lain.

      Soal Test CPNS Lengkap dengan Materi Kunci Jawaban
      Soal Latihan Test CPNS Lengkap dengan Materi Kunci Jawaban

      Soal Latihan Tes CPNS Lengkap dengan Materi Kunci Jawaban

      Soal Latihan Tes CPNS Lengkap dengan Materi Kunci Jawaban ini mudah-mudahan bermanfaat bagi anda yang sedang mempersiapkan mengikuti Tes CPNS dan membutuhkan berkas soal latihan ujian CPNS yang akan datang.

      Berkas Soal Latihan Tes CPNS Lengkap dengan Materi Kunci Jawaban ini di dalamnya berisi materi-materi soal Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensi Umum (TIU), Tes Karakteristik Pribadi (TKP) dan materi lainnya.

        Download Soal Latihan Tes CPNS Lengkap dengan Materi Kunci Jawaban

        Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Soal Latihan Tes CPNS Lengkap dengan Materi Kunci Jawaban ini silahkan lihat file preview dan download pada link di bawah ini:

        Soal Latihan Tes CPNS Lengkap dengan Materi Kunci Jawaban



        Download File:
        Materi dan Soal CPNS Lengkap dengan Kunci Jawaban.pdf

        Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Soal Latihan Tes CPNS Lengkap dengan Materi Kunci Jawaban. Semoga bisa bermanfaat.

        Modul Pengelolaan Pendidikan

        Kontributor : On Senin, September 24, 2018

        Berikut ini adalah arsip berkas Modul Pengelolaan Pendidikan. Download file format PDF.

        Modul Pengelolaan Pendidikan
        Modul Pengelolaan Pendidikan

        Modul Pengelolaan Pendidikan

        Berikut ini kutipan teks/keterangan dari isi Modul Pengelolaan Pendidikan:

        Mata kuliah pengelolaan pendidikan merupakan mata kuliah yang akan membekali mahasiswa tentang konsep dasar pengelolaan dan organisasi pendidikan dalam perspektif sistem Pendidikan Nasional. Mengenalkan dan membahas komponen-komponen inti pengelolaan pendidikan, baik dari sudut pandang proses, fungsi maupun bidang-bidang garapan.

        Secara umum tujuan dari mata kuliah ini diharapkan agar mahasiswa memiliki wawasan dan pemahaman yang komprehensif tentang konsep teoritis dan praktek penyelenggaraan sistem manajemen pendidikan nasional, baik pada tingkat makro, meso maupun mikro, dan tujuan khususnya adalah agar mahasiswa dapat:
        1. menjelaskan konsep dasar Manajemen Sistem Pendidikan Nasional;
        2. menjelaskan Kepemimpinan Pendidikan;
        3. menjelaskan Supervisi Pendidikan;
        4. menjelaskan Sistem Informasi Pendidikan;
        5. menjelaskan Bidang Garapan Pengelolaan Pendidikan; dan
        6. menjelaskan Isu-isu Sentral dalam Pengelolaan Pendidikan.

        Manfaat/kegunaan dari mata kuliah ini adalah dapat menambah wawasan bagi mahasiswa tentang berbaga komponen dalam pengelolaan pendidikan, sehingga dapat dijadikan dasar untuk penerapan di lapangan dalam rangka melaksanakan pendidikan menuju tertib pengelolaan pendidikan.

        Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai serta bobot SKS mata kuliah pengelolaan pendidikan, materi kuliah ini disajikan dalam 6 Modul yang terdiri dari :

        Modul 1 Manajemen Sistem Pendidikan Nasional
        Modul 2 Kepemimpinan Pendidikan
        Modul 3 Supervisi Pendidikan
        Modul 4 S stem Informasi Pendidikan
        Modul 5 Bidang Garapan Pengelolaan Pendidikan
        Modul 6 Isu-su Sentral dalam Pengelolaan Pendidikan

          Download Modul Pengelolaan Pendidikan

          Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Modul Pengelolaan Pendidikan ini silahkan lihat pada file preview dan download pada link di bawah ini:

          Modul Pengelolaan Pendidikan



          Download File:
          Modul Pengelolaan Pendidikan - Dr. Asep Suryana, M.Pd. dan Suryadi, M.Pd..pdf

          Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Modul Pengelolaan Pendidikan. Semoga bisa bermanfaat.

          Pengembangan Model-Model Pembelajaran

          Kontributor : On Senin, September 24, 2018

          Berikut ini adalah arsip berkas mengenai Pengembangan Model-Model Pembelajaran. Download file dalam format PDF.

          Pengembangan Model-Model Pembelajaran
          Pengembangan Model-Model Pembelajaran


          Pengembangan Model-Model Pembelajaran

          Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran

          Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.

          Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

          Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin S. M: 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :
          1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
          2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
          3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
          4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
          Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
          1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
          2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
          3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
          4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan. 
          Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.

          Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something”. Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

          Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

          Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)

          Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. 

          Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Supriawan dan Surasega, 1990) menyebutkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.

          Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.

          Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. 

          Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.

          Teori-Teori Belajar
          Jika menelaah literatur psikologi, kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. Dalam tautan di bawah ini akan dikemukakan empat jenis teori belajar, yaitu: (A) teori behaviorisme; (B) teori belajar kognitif menurut Piaget; (C) teori pemrosesan informasi dari Gagne, dan (D) teori belajar gestalt.

            Download Berkas Mengenai Pengembangan Model-Model Pembelajaran

            Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas mengenai Pengembangan Model-Model Pembelajaran ini silahkan lihat pada file preview dan download pada link di bawah ini:

            Pengembangan Model-Model Pembelajaran



            Download File:
            Pengembangan Model-Model Pembelajaran - Dr. H. Kamin Sumardi, M.Pd.pdf

            Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Pengembangan Model-Model Pembelajaran. Semoga bisa bermanfaat.

            Buku Sosiologi Pendidikan

            Kontributor : On Minggu, September 23, 2018

            Berikut ini adalah arsip berkas Buku Sosiologi Pendidikan. Download file format PDF.

            Buku Sosiologi Pendidikan
            Buku Sosiologi Pendidikan

            Buku Sosiologi Pendidikan

            Berikut ini kutipan teks/keterangan dari isi Buku Sosiologi Pendidikan:

            Pengertian dan Pendekatan Sosiologi Pendidikan
            Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari perilaku manusia secara ilmiah, terutama interaksi sosial dalam kelompok. Umumnya ada tiga pendekatan dalam sosiologi yaitu interaksionisme simbolik, strukturalisme fungsional, dan teori konflik. Dalam perkembangannya pendekatan sosiologi dibagi menjadi dua yaitu pendekatan mikro sosiologi dan pendekatan makrososiologi. Pendekatan mikrososiologi menggunakan analisis pada interaksi manusia pada tingkat mikro, dengan analisis interaksionalisme simbolik. Pendekatan makrososiologi menggunakan analisis teori konflik dan teori strukturalisme fungsional.

            Sosiologi Pendidikan mengkaji struktur dan proses pendidikan di masyarakat baik secara khusus maupun umum. Secara khusus membahas aspek-aspek sosial dari pendidikan pada tingkat individu, keluarga, dan sekolah. Secara umum membahas berbagai ide, nilai, system ataupun lembaga sosial yang berpengaruh terhadap struktur dan dinamika proses pendidikan. Tujuan sosiologi pendidikan adalah tercapainya kompetensi professional guru pada aspek sosial maupun kepribadian dengan memberikan pembekalan bagi para guru/calon guru agar mampu mengetahui, memahami, menerapkan dan melaksanakan dimensi sosiologi dalam pendidikan, sehingga tercapai tujuan pendidikan nasional.

            Ruang Lingkup dan Penelitian Sosiologi Pendidikan
            Ruang lingkup sosiologi pendidikan adalah proses, pola, struktur dan dinamika yang terjadi dalam system pendidikan dan sistem-sistem di luar pendidikan yang berdampak terhadap pendidikan, baik secara makro maupun mikro-proses dan pola-pola yang terjadi dalam ssitem pendidikan, baik secara mikro maupun secara makro. Terdapat dua jenjang dalam membahas sosiologi pendidikan yaitu jenjang mikro yang mengkaji pada skala mikro yaitu pada interaksi sosial, seperti interaksi tatap muka sedangkan jenjang makro adalah kajian sosiologi dari perspektif yang lebih luas, mengkaji masyarakat secara umum. Sosiologi pendidikan berkembang dengan adanya penelitian-penelitian. Penelitian sosiologi pendidikan menggunakan prinsip-prinsip penelitian ilmiah dan menggunakan beberapa metode pengunpulan data seperti survey, observasi partisipatif, analisis sekunder, kajian dokumen, eksperimen, dan metode penelitian langkah tak mencolok.

              Download Buku Sosiologi Pendidikan

              Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Buku Sosiologi Pendidikan ini silahkan lihat pada file preview dan download pada link di bawah ini:

              Buku Sosiologi Pendidikan



              Download File:
              Buku Sosiologi Pendidikan - Purnama Syaepurohman, dkk.pdf

              Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Buku Sosiologi Pendidikan. Semoga bisa bermanfaat.

              Orientasi Pembelajaran Abad 21 - Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam)

              Kontributor : On Jumat, September 21, 2018

              Berikut ini adalah arsip berkas mengenai Orientasi Pembelajaran Abad 21 dalam buku berjudul Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam). Download file dalam format .pdf.

              Orientasi Pembelajaran Abad 21 - Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam)
              Orientasi Pembelajaran Abad 21 - Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam)

              Orientasi Pembelajaran Abad 21 - Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam)

              Orientasi Pembelajaran Abad 21 - Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam)

              Ciri menonjol pembelajaran abad-21 salah satunya adalah semakin bertautnya dunia ilmu dan teknologi, sehingga sinergi di antaranya menjadi semakin cepat. Teknologi informasi dan komunikasi atau ICT yang berkembang sangat pesat pada Dasawarsa terakhir ini membawa dampak yang luar biasa pada berbagai sektor kehidupan kita seperti bisnis, hiburan dan pendidikan. Pengaruh pada bidang pendidikan sangat jelas kita rasakan. Kita bisa melihat bagaimana ICT mempengaruhi para siswa belajar dengan sumber informasi yang begitu melimpah serta para guru mengubah cara mengajarnya. Kini kita juga bisa melihat bagaimana ICT mempengaruhi cara siswa maupun guru dalam berhubungan sosial, berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman-teman mereka. Tantangan yang dihadapi para guru tentu tidak semakin ringan, karena siswa diharapkan bisa bersaing secara global yang bercirikan ICT. Guru saat ini tidak lagi sebagai pusat sumber belajar dan penyampai informasi utama, tetapi lebih dari itu yakni mampu berperan sebagai fasilitator, pendamping, pembimbing, dan sekaligus sebagai partner dalam mengembangkan skill dan pengetahuan. Potensi pemanfaatan ICT untuk meningkatkan akses pendidikan, meningkatkan efesiensi, serta kualitas pembelajaran dan pengajaran. 

              Pembahasan lebih mendalam tentang orientasi pembelajaran abad 21, diantaranya menyangkut.
              1. Orientasi Baru Dunia Pendidikan
              2. Paradigma Pendidikan Abad-21
              3. Karakteristik Sekolah
              4. Pembelajaran Berbasis Blended Learning
              5. Mengembangkan Kecakapan Siswa
              6. Desain Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi
              7. Pembelajaran Secara Tatap Muka dan Virtual
              8. Kompetensi Profesi Guru berbasis ICT

              Orientasi Baru Dunia Pendidikan
              Pendidikan yang ideal hakikatnya selalu bersifat antisipatif dan prepatoristik, yakni selalu mengacu ke masa depan, dan selalu mempersiapkan generasi muda untuk kehidupan masa depan yang jauh lebih baik, bermutu, dan bermakna. Sungguhpun demikian, apa dan bagaimana pendidikan ideal dengan sifatnya yang antisipatif dan prepatoristik seperti itu, berbeda bagi setiap bangsa dalam melihat dan menghadapi masa depannya. Bagi bangsa Indonesia, kondisi, tantangan, dan masalah masa depan yang harus dihadapi senantiasa berkaitan dengan pengembangan kualitas dan kemandirian manusia Indonesia yang memungkinkannya mampu dan proaktif menjawab tantangan globalisasi, baik di bidang sosial, budaya, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

              Sebagian tenaga didik dan tenaga kependidikan sekarang pun sudah sangat mengenal dunia ini. Dengan diterapkan model pembelajaran berbasis multimedia ini akan membantu siswa dan mahasiswa agar lebih melek lagi dengan dunia informasi teknologi karena tidak semua peserta didik kenal betul dengan dunia ini. Banyaknya harapan yang belum terpenuhi dan tingkat kecemasan yang tinggi, menuntut adanya pembekalan bagi lembaga pendidikan agar terjadi akselerasi ke arah pembelajaran masyarakat. Akselerasi pembelajaran masyarakat tersebut menuntut kesiapan sekolah, baik secara internal maupun eksternal.

              Guru diharapkan dapat memanfaatkan ICT secara optimal untuk memfasilitasi aktivitas pembelajaran yang inovatif. Strategi dan metode pembelajaran yang berpusat pada siswa menjadi sangat cocok guna mendorong pengembangan pengetahuan dan skill siswa. Menurut Wagner (2008), dalam dunia global ini siswa tidak cukup dengan hanya mengetahui informasi dan mengingat fakta, tetapi mereka harus bisa berfikir kritis, dan menyelesaikan permasalahan, serta memiliki skill untuk berkomunikasi dan bekerja sama. Disamping itu, siswa harus mampu beradaptasi, mempunyai inisiatif, mampu mengakses dan menganalisis informasi serta mempunyai keingintahuan tinggi menggunakan ICT dan mengintegrasikannya dalam aktivitas pengajaran, guru diharapkan dapat mengantarkan para siswa memenuhi kompetensi tersebut.

              Untuk mengoptimalkan kompetensi siswa tersebut diperlukan sistem pembelajaran yang terstruktur dengan baik. Upaya penggabungan model pembelajaran tatap muka di kelas dengan model pembelajaran online ini dikenal dengan istilah blended learning. Tujuan blended learning untuk mendapatkan kualitas pembelajaran yang baik dimana metode pembelajaran tatap muka (face to face) memungkinkan untuk dilakukan pembelajaran interaktif, sedangkan metode online learning dapat memberikan materi secara online tanpa batas ruang dan waktu, namun masih memungkinkan mendapatkan bimbingan dan arahan untuk dicapai pembelajaran yang maksimal (Hadi, 2012). 

              Berdasarkan gambar diatas, menunjukkan bahwa terdapat banyak kegiatan dalam pendidikan dan pengajaran yang bisa dilakukan guru dengan bantuan ICT, yaitu diantaranya adalah administrasi, komunikasi, pengembangan sumber belajar, pembuatan rencana pembelajaran, penyampaian bahan ajar, evaluasi, aktivitas dalam dan luar kelas, belajar mandiri, hingga pengembangan profesi guru. Akan tetapi pemanfaatan ICT dalam pembelajaran oleh guru dan siswa secara optimal memang tidaklah mudah. Paling tidak ada tiga kondisi yang harus dipenuhi, yakni:
              1. guru dan siswa harus mempunyai akses yang mudah ke perangkat teknologi termasuk koneksi Internet,
              2. tersedianya konten digital (bahan ajar) yang mudah dipahami guru dan siswa,
              3. guru harus punya pengetahuan dan ketrampilan menggunakan teknologi dan sumber daya guna membantu siswa mencapai standar akademik. 

              Paradigma Pendidikan Abad-21
              Di abad ke 21 ini, pendidikan menjadi semakin penting untuk menjamin peserta didik memiliki keterampilan belajar dan berinovasi, ketrampilan menggunakan teknologi dan media informasi, serta dapat bekerja, dan bertahan dengan menggunakan keterampilan untuk hidup (life skills). Terkait dengan Paradigma Pendidikan di Abad-21, BNSP merumuskan 16 prinsip pembelajaran yang harus dipenuhi dalam proses pendidikan abad ke-21, yaitu:
              1. dari berpusat pada guru menuju berpusat pada siswa;
              2. dari satu arah menuju interaktif;
              3. dari isolasi menuju lingkungan jejaring;
              4. dari pasif menuju aktif menyelidiki; 
              5. dari maya/abstrak menuju konteks dunia nyata;
              6. dari pribadi menuju pembelajaran berbasis tim;
              7. dari luas menuju perilaku khas memberdayakan kaidah keterikatan;
              8. dari stimulasi rasa tunggal menuju stimulasi ke segala penjuru;
              9. dari alat tunggal menuju alat multimedia; 
              10. dari hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif;
              11. dari produksi massa menuju kebutuhan pelanggan; 
              12. dari usaha sadar tunggal menuju jamak; 
              13. dari satu ilmu dan teknologi bergeser menuju pengetahuan disiplin jamak;
              14. dari kontrol terpusat menuju otonomi dan kepercayaan; 
              15. dari pemikiran faktual menuju kritis, dan;
              16. dari penyampaian pengetahuan menuju pertukaran pengetahuan. (BSNP, 2010).
              Tiga konsep pendidikan abad 21 telah diadaptasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk mengembangkan kurikulum baru untuk Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tiga konsep tersebut diadaptasi untuk mengembangkan pendidikan menuju Indonesia Kreatif tahun 2045. Adaptasi dilakukan untuk mencapai kesesuaian konsep kapasitas peserta didik dan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. Ketiga ketrampilan tersebut dirangkum dalam skema pelangi keterampilan-pengetahuan abad 21 (Trilling dan Fadel, 2009).

              Dalam konteks pendidikan, 3R adalah singkatan dari reading, writing dan (a) rithmatic, diambil lafal “R” yang kuat dari setiap kata. Dari subjek reading dan writing, muncul gagasan pendidikan modern yaitu literasi yang digunakan sebagai pembelajaran untuk memahami gagasan melalui media kata-kata. Perkembangan teknologi informasi sudah sedemikian pesatnya, terutama di pusat perkotaan. Seperti kita ketahui bersama adanya kebijakan dalam rangka mengintegrasikan informasi ke dalam pendidikan merupakan suatu terobosan yang diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Namun, sejauh ini pengembangan teknologi informasi terkonsentrasi di sekolah pusat kota, sedangkan sekolah di pusat desa dan di ujung desa masih sebatas retorika. Walaupun komitmen pemerintah menyatakan akan melakukan kebijakan internet masuk desa.

              Kenyataan yang ada saat ini, kita masih mendapati besarnya kesenjangan pendidikan antara sekolah pusat kota, sekolah pinggir kota, dan sekolah pusat desa, serta sekolah di ujung desa. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kesenjangan ini, salah satunya adalah infrastruktur sekolah yang belum memadai standar, fasilitas perangkat keras dan perangkat lunak teknologi informasi yang belum merata (komputer, jaringan internet, disamping itu distribusi kualifikasi guru dalam memahami dan menguasai teknologi informasi yang belum merata)

              Pertukaran informasi menjadi semakin cepat dan instan, namun lembaga pendidikan masih menggunakan sistem tradisional dalam proses pembelajarannya. Sekolah dan perguruan tinggi seharusnya telah meninggalkan sistem tradisional sejak diketemukannya media komunikasi berupa multimedia. Karena sifat teknologi informasi (internet) yang dapat dihubungi setiap saat. Artinya siswa dan mahasiswa dapat memanfaatkan program-program pendidikan yang disediakan di jaringan internet kapan saja sesuai dengan waktu luang mereka sehingga kendala ruang dan waktu yang mereka hadapi untuk mencari sumber belajar dapat teratasi. Dengan perkembangan pesat di bidang teknologi telekomunikasi, multimedia dan informasi maka pembelajaran dengan mendengarkan ceramah, mencatat di atas kertas sudah tentu ketinggalan jaman. Untuk menjawab tantangan ini diperlukan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat (Mukhtar, 2012). 

              Perkembangan ICT yang begitu pesat dan kemudahan mengaksesnya mengharuskan guru memanfaatkan berbagai keunggulan ICT tersebut secara inovatif dalam aktivitas pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. Dengan Perancangan yang baik dan inovatif, ICT Dapat menjadikan materi pembelajaran menjadii lebih menarik, tidak membosankan, mudah dipahami, dan dapat dipelajari kapan saja dan dari mana saja. Blended learning yang merupakan kombinasi ICT (multimedia, e-learning), tatap muka (diskusi, ceramah), dan mandiri (penugasan, Proyek, lab) dirasa bentuk yang paling mungkin diimplementasikan di Indonesia Mengingat masih terbatasnya infrastuktur.

              Pembelajaran Berbasis Blended Learning
              E-learning adalah sebuah proses pembelajaran yang berbasis elektronik. Salah satu media yang digunakan adalah jaringan komputer. Sistem e-learning ini tidak memiliki batasan akses. Inilah yang memungkinkan perkuliahan bisa dilakukan lebih banyak waktu, kapanpun mahasiswa bisa mengakses sistem ini. Aktifitas perkuliahan ditawarkan untuk bisa melayani seperti perkuliahan biasa. Ada penyampaian materi berbentuk teks maupun hasil penyimpanan suara yang bisa di download, selain itu juga ada forum diskusi, bisa juga seorang dosen memberikan nilai, tugas dan pengumuman kepada mahasiswa.

              Jika dikaji secara terminologis maka blended e-learning menekankan pada penggunaan internet seperti pendapat Rosenberg (2001) bahwa blended e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan Campbell (2002) dan Kamarga (2002) yang intinya menekankan penggunaan internet dalam pendidikan sebagai hakikat blended e-learning, termasuk untuk pendidikan guru/dosen. Blended learning telah didefinisikan oleh Ciso Sistem (dalam Rusman, 2011:244) yaitu:

              “As the combition of the characteristic from both traditional learning and blended e-learning environment. It merges aspects of blended e-learning as such as: web based instruction, streaming video, audio synchronous and asynchronous communication, etc: with traditional “face to face learning” learning”.

              Blended learning merupakan istilah yang berasal dari bahasa inggris, yang terdiri dari dua suku kata, blended dan learning. Blended merupakan campuran, kombinasi yang baik. Sedangkan learning memiliki makna umum belajar, dengan demikian sepintas mengandung makna pola pembelajaran yang mengandung unsur pencampuran, atau penggabungan antara satu pola dengan pola yang lainnya. Berikut ini pengertian blended learning dari beberapa sumber.
              1. Thorne (2003), Blended learning adalah perpaduan dari teknologi multimedia, CD ROM, video streaming, kelas virtual, voicemail, email dan telefon conference, animasi teks online dan video-streaming. Semua ini dikombinasi dengan bentuk tradisional pelatihan di kelas. Blended learning menjadi solusi yang paling tepat untuk proses pembelajaran yang sesuai tidak hanya dengan kebutuhan pembelajaran akan tetapi juga gaya si pembelajar.
              2. Harding, Kaczynski dan Wood (2005), Blended learning merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan pembelajaran tradisonal tatap muka dan pembelajaran jarak jauh yang menggunakan sumber belajar online dan beragam pilihan komunikasi yang dapat digunakan oleh guru dan siswa Pelaksanaan pendekatan ini memungkinkan penggunaan sumber belajar online, terutama yang berbasis web, dengan tanpa meninggalkan kegiatan tatap muka.
              3. Wilson & Smilanich (2005) menyimpulkan bahwa Blended learning adalah penggunaan solusi pelatihan yang paling efektif, diterapkan dalam cara yang terkoordinasi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.
              4. MacDonald (2008), istilah blended learning biasanya berasosiasi dengan memasukkan media online pada program pembelajaran, sementara pada saat yang sama tetap mempertahankan kontak tatap muka dan pendekatan tradisional yang lain untuk mendukung siswa. Istilah ini juga digunakan pada media asynchronous seperti email, forum, blogs atau wikis digabungkan dengan teknologi, teks atau audio sinkronus.

              Penerapan blended learning tidak terjadi secara begitu saja. Tapi, terlebih dulu harus ada pertimbangan karakteristik tujuan pembelajaran yang ingin kita capai, aktifitas pembelajaran yang relevan serta memilih dan menentukan aktifitas mana yang relevan dengan konvensional dan aktifitas mana yang relevan untuk online learning. Tujuan dari blended learning adalah untuk mendapatkan pembelajaran yang baik dimana metode pembelajaran tatap muka memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran secara interaktif, sedangkan metode pembelajaran online dapat memberikan materi secara online tanpa batasan ruang dan waktu sehingga dapat dicapai pembelajaran yang maksimal. Tidak ada aturan baku tentang pembelajaran secara blended, oleh karena itu dapat disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Dalam penelitian ini ditentukan blended learning yang digunakan adalah kombinasi pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online.

              Blended learning diwujudkan dalam lingkungan belajar mengajar terdapat integrasi dari berbagai modus pengiriman, model pengajaran dan gaya belajar sebagai hasil dari strategis dan pendekatan sistematis penggunaan teknologi yang dikombinasikan dengan interaksi dalam model tatap muka. (Debra Bath and John Bourke: 2013). Blended learning terbukti efektif mengintegrasikan TIK ke dalam desain pengajaran dan pembelajaran. Dalam banyak kasus "blending" efisien sebagai desain pengajaran dan pembelajaran untuk memberikan pengalaman yang lebih baik bagi siswa. Hal ini dikarenakan blending dapat melibatkan campuran model pengiriman, pendekatan dan gaya belajar siswa. Kemajuan teknologi memberikan peluang untuk guru dalam merancang dan meningkatkan perannya dan siswa memperoleh pengalaman kognitif melalui lingkungan belajarnya.

              Mengajar atau “teaching” adalah membantu peserta didik memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berpikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana belajar (Joyce dan Well, 1996). Sedangkan pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan peserta didik. Secara implisit dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode didasarkan pada kondisi pembelajaran yang ada. Kegiatan-kegiatan tersebut pada dasarnya merupakan inti dari perencanaan pembelajaran. Konsep pembelajaran adalah “bagaimana membelajarkan peserta didik”, dan bukan pada “apa yang dipelajari peserta didik”. Dengan demikian pembelajaran menempatkan peserta didik sebagai subjek bukan sebagai objek. Oleh karena itu agar pembelajaran dapat mencapai hasil yang optimal guru perlu memahami karakteristik peserta didik.

              Mengembangkan Kecakapan Siswa
              Sekurang-kurangnya terdapat dua macam kecakapan kognitif siswa yang penting dikembangkan oleh seorang pendidik terhadap siswanya, yakni; 1) strategi belajar memahami isi materi pelajaran, 2) strategi memahami arti penting isi materi pelajaran dan aplikasinya serta menyerap pesan-pesan moral yang terkandung dalam materi pelajaran tersebut. Tanpa pengembangan dua macam kecakapan kognitif ini, agaknya siswa sulit diharapkan mampu mengembangkan ranah afektif dan psikomotornya sendiri (Muhibbinsyah, 2010).

              Siswa dengan menggunakan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk mencari, mengeksplorasi, menganalisis, dan saling tukar informasi secara kreatif dan bertanggungjawab. Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi akan mengembangkan sikap inisiatif dan kemampuan belajar mandiri. Pada kondisi yang demikian siswa memiliki inisiatif sendiri dan motivasi intrinsik, menganalisis kebutuhan dan merumuskan tujuan, memilih dan menerapkan strategi penyelesaian masalah, memilih sumber belajar yang sesuai, serta mengevaluasi diri terhadap performansinya.

              Pengaturan diri siswa dalam belajar digambarkan sebagai derajat tingkatan secara metakognitif, secara motivasional, dan secara perilaku berperan aktif dalam belajar siswa sendiri (Zimmerman, 1989). Siswa memiliki kemampuan mengatur diri (self-regulated) menerapkan berbagai strategi kognitif dan metakognitif untuk mencapai tujuan belajar (Corno & Mandinach, 1983). Siswa juga menerapkan strategi manajemen sumber daya untuk memilih atau mengatur aspek lingkungan fisik untuk mendukung belajar mereka dan untuk mengatur waktu mereka secara efektif. Sebagai tambahan, mereka lebih mungkin mencari teman sebaya atau bantuan guru jika mereka menemukan kesulitan belajar.

              Kaitan antara pengaturan diri dalam belajar dan penggunaan ICT dalam pembelajaran, sangat ditentukan oleh faktor kemandirian dalam kegiatan belajar, sehingga guru tidak lagi bertindak sebagai pemberi pengetahuan melainkan sebagai fasilitator. Dalam hal ini siswa dapat menentukan sendiri apa yang akan dipelajarinya dan kapan mereka akan mempelajarinya secara mendalam. Merekapun diberi kebebasan untuk membuat kesimpulan/intisari dari apa yang telah dipelajarinya. 

              Bahasan tentang teknologi, tak lepas dari kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan berbagai kemungkinan penerapannya, khususnya pada pembelajaran. Kekuatan TIK pada pembelajaran, akan melahirkan konsep e-learning, manfaat e-learning, dan bahan-bahan pembelajaran untuk e-learning. E-learning termasuk model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Dengan model pembelajaran ini, peserta didik dituntut mandiri dan bertanggung jawab terhadap proses pembelajarannya, sebab ia dapat belajar di mana saja, kapan saja, yang penting tersedia alatnya. E-learning menuntut keaktifan peserta didik. Peserta didik akan memiliki kekayaan informasi, sebab ia dapat mengakses informasi dari mana saja yang berhubungan dengan materi pembelajarannya.

              Model pengembangan TIK dalam pembelajaran dapat dilakukan dalam empat tahapan, yaitu emerging, applying, infusing, dan transforming (Majumdar dalam Budi Murtiyasa (2012). Emerging adalah tahap dimana semua insan pendidikan menjadi memiliki perhatian terhadap TIK. Hal ini ditandai dengan kebutuhan akan dukungan terhadap performa kerja. Applying adalah tahapan dimana para insan pendidikan mulai belajar menggunakan TIK. Pada tahapan ini kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tradisional dengan TIK mulai dirasakan sebagai suatu kebutuhan. Infusing adalah tahap dimana para insan pendidikan mulai mengetahui bagaimana dan kapan menggunakan TIK. Ini ditunjukkan dengan kemampuan menyediakan fasilitas belajar berbasis TIK bagi para peserta didik Akhirnya tahap transforming adalah secara spesifik dapat menggunakan TIK untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran yang dihadapinya. Dengan TIK dapat diciptakan lingkungan belajar yang inovatif, sehingga merangsang peserta didik untuk berpikir dan berkreasi untuk memecahkan masalah.

              Keberhasilan pengembangan ranah kognitif tidak hanya akan membuahkan hasil pada kecakapan kognitif saja, melainkan dapat menghasilkan kecakapan ranah afektif. Sebagai contoh seorang guru agama yang piawai dalam mengembangkan kecakapan kognitif dengan cara akan berdampak positif terhadap ranah afektif para siswa. Dalam hal ini, pemahaman yang mendalam terhadap arti penting materi pelajaran agama yang disajikan guru serta preferensi kognitif yang mementingkan kecakapan ranah afektif para siswa. Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiaannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial.

              Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media- media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut.

              Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Penggunaan komputer dalam pendidikan dapat menggabungkan unsur inovasi, kreativitas dan hiburan, menjadikan peserta didik memiliki rasa senang, tidak jenuh menerima pelajaran dan memudahkan tenaga pendidik dalam mempersiapkan materi pembelajaran. Apabila media teknologi ini tersedia, maka dengan mudah siswa dapat memfokuskan pengambilan keputusan, refleksi, penalaran, dan problem solving. Hal ini akan mendorong daya pikir kritis siswa dan berkeasi dengan bebas. Keberhasilan pengembangan ranah kognitif juga akan berdampak positif pada perkembangan ranah psikomotor. Kecakapan psikomotor adalah segala amal jasmaniah yang konkret dan mudah diamati, baik kuantitasnya maupun kualitasnya, karena sifatnya yang terbuka. Namun kecakapan psikomotor tidak terlepas dari kecakapan afektif. Jadi, kecakapan psikomotor siswa merupakan manifestasi wawasan pengetahuan dan kesadaran serta sikap mentalnya.

              Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi
              Sejarah Teknologi Informasi dan Komunikasi, TIK (bahasa Inggris: Information and Communication Technologies /ICT). TIK mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Oleh karena itu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah dua buah konsep yang tidak terpisahkan. Jadi Teknologi Informasi dan Komunikasi mengandung pengertian luas yaitu segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media. 

              Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi, adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global. Pemanfaatan teknologi informasi dalam bidang pendidikan merupakan kelaziman untuk membantu menyediakan komputer dan jaringan yang menghubungkan rumah siswa dengan ruang kelas, guru, dan administrator sekolah. Semuanya dihubungkan ke Internet, dan para guru dilatih menggunakan komputer pribadi.

              Menghadapi era globalisasi dan kompetisi sebagai konsekuensi tak terhindarkan dari proses itu menuntut peningkatan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM). Persaingan era global telah dipenuhi segala teknologi canggih. Kita tahu bahwa kemajuan pendidikan step by step, sedangkan lajunya perkembangan teknologi jump by jump. Hampir semua bidang pendidikan harus bisa memberdayakan dan memanfaatkan kemajuan teknologi dalam upaya menghasilkan SDM yang berkualitas dan mampu bersaing dalam pencaturan global. 

              Fenomena globalisasi yang ditandai dengan kekuatan konvergensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mestinya dijadikan faktor mendasar menstranformasikan lembaga pendidikan. Pentingnya lembaga pendidikan membangun sistem yang mendukung terwujudnya lingkungan pembelajaran generasi baru alias Next Generation Learning Environment, yaitu dengan cara pemanfaatan teknologi TIK terkini untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, adminisrasi serta interaksi dan kolaborasi antar guru, siswa, orang tua, komunitas dan sekolah yang lebih efektif dan murah.

              Tugas yang besar bagi lembaga pendidikan di Indonesia untuk melakukan upaya-upaya terobosan dan progresif untuk meningkatkan kualitas tersebut. Sebab jika tidak, maka pengembangan SDM bangsa ini akan terus tertinggal. Kepentingan ini semakin mendesak mengingat dalam waktu yang tidak lama lagi, institusi pendidikan dari luar negeri dimungkinkan untuk diselenggarakan di Indonesia. Hal ini merupakan tantangan besar bagi institusi pendidikan dalam negeri untuk segera berbenah. Perkembangan teknologi informasi telah mengarah ke teknologi Web yang ditandai dengan berkembangnya sistem berbasis jejaring social (social networking) juga diwarnai teknologi yang memungkinkan berjalannya aplikasi web seperti aplikasi desktop, berkembangnya teknologi multimedia baik audio dan video streaming dan lain sebagainya.

              Pemanfaatan teknologi informasi dalam bidang pendidikan sudah merupakan suatu keharusan untuk memfasilitasi dan mempermudah proses pembelajaran. 

              Seperti menggunakan komputer atau notebook/netbook, liquid, crystal display (LCD), interconnection-networking (internet), Compact Disk (CD), flasdisk, dimana pemanfaatannya tersebut dapat membantu proses kegiatan belajar mengajar. Kemajuan teknologi informasi memang membawa dampak positif bagi dunia pendidikan. Teknologi informasi khususnya teknologi komputer dan internet, baik dalam hal perangkat keras maupun lunaknya, memberikan banyak tawaran dan pilihan bagi dunia pendidikan untuk menunjang proses pembelajaran peserta didik. Keunggulan yang ditawarkan bukan saja terletak pada faktor kecepatan untuk mendapatkan informasi namun juga fasilitas multimedia yang dapat membuat belajar lebih menarik, visual dan interaktif.

              Sejalan dengan perkembangan teknologi internet banyak kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi ini. Untuk selanjutnya pembelajaran melalui jalur internet kita sebut sebagai pembelajaran berbasis web. Harus diakui bahwa pembelajaran berbasis web ini dapat terlaksana karena pengembangan yang pesat di tiga bidang yaitu bidang pembelajaran jarak jauh, pembelajaran dengan menggunakan teknlogi komputer dan perkembangan yang sangat pesat dalam teknologi internet.

              Pembelajaran jarak jauh mempunyai sejarah yang sudah sangat lama. Pembelajaran jarak jauh dimulai dan dikenal masyarakat dunia sekitar pertengahan tahun 1800-an di Amerika Serikat, Perancis dan beberapa negara Eropa lainnya (Moore & Kearsley, 1996). Pada umumnya pembelajaran jarak jauh dilakukan melalui korespondensi menggunakan media kertas dan jasa pos. Namun kemudian kemajuan teknologi komputer berkembang sangat pesat dan ini membawa dampak luar biasa dalam memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk mengakses informasi untuk pembelajaran dengan lebih mudah, menarik, visual dan interaktif.

              Berbagai istilah pembelajaran dengan memanfaatkan komputer mulai dari komputer-aided instruction (CAI), komputer based training (CBT) sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sedangkan pembelajaran berbasis web mulai digunakan setelah teknologi internet berkembang pesat. Melalui internet banyak informasi yang dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Pengaksesan informasi menjadi relatif lebih cepat, murah dan mudah. Teknologi internet memberikan kemudahan bagi siapa saja untuk mendapatkan informasi apa saja dari mana saja dan kapan saja dengan mudah dan cepat. Informasi yang tersedia di berbagai pusat data di berbagai komputer di dunia, selama komputer-komputer tersebut saling terhubung dalam jaringan internet, dapat kita akses dari mana saja. Ini merupakan salah satu keuntungan belajar melalui media internet.

              Pembelajaran Secara Tatap Muka dan Virtual
              Sekalipun teknologi web memungkinkan pembelajaran dilakukan virtual secara penuh namun kesempatan itu tidak dapat dilakukan. Interaksi selama pembelajaran secara tatap muka masih tetap dibutuhkan. Ada tiga alasan mengapa forum tatap muka masih dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran ini. Tiga alasan tersebut adalah:
              1. perlunya forum untuk menjelaskan maksud dan mekanisme belajar yang akan dilalui bersama secara langsung dengan semua peserta didik,
              2. perlunya memberikan pemahaman sekaligus pengalaman belajar dengan mengerjakan tugas secara kelompok dan kolaboratif pada setiap peserta didik. Karena model pembelajaran yang dirancang menuntut kerja kelompok maka peserta didik perlu memiliki kompetensi dalam berkomunikasi,
              3. perlunya memberikan pelatihan menggunakan komputer yang akan digunakan sebagai media komunikasi berbasis web kepada setiap peserta didik.

              Pada sesi tatap muka guru menyampaikan pokok-pokok bahasan penting. Ceramah singkat dengan mengundang peserta didik untuk berpartisipasi langsung dalam diskusi sangat baik untuk dilakukan. Ini tentu saja membangun iklim partisipatoris dalam kelas. Mengerjakan tugas dalam kelompok maupun pribadi diberikan untuk melatih diri bekerja dalam kelompok. Sikap terbuka dan berani berekspresi merupakan sikap dasar dan penting yang dibutuhkan pada sesi diskusi virtual berikutnya.

              Interaksi secara virtual dilakukan untuk mendiskusikan topik-topik penting untuk dipahami bersama- sama. Mereka diharapkan untuk saling menyampaikan pikiran maupun mengkritisi pendapat lain atas sebuah topik yang telah ditentukan oleh guru maupun dipilih oleh mereka sendiri. Kerja dalam kelompok dan kolaborasi dilakukan melalui media atau forum khusus didedikasikan untuk masing-masing kelompok virtual yang ada. Forum diskusi tersebut dinamakan konferensi. Konferensi yang digunakan oleh setiap kelompok bersifat tertutup (private conference), artinya konferensi tersebut hanya dapat diakses oleh anggota kelompok itu saja dan guru (jika dikehendaki). Namun di samping itu, antar sesama peserta didik berbeda kelompok juga dapat saling berkomunikasi melalui sebuah konferensi kelas yang bersifat terbuka (opened conference).

              Semua peserta didik dapat mengakses konferensi terbuka ini tidak bergantung kelompok apa dia berasal. Ini sengaja dibuat dengan maksud agar setiap temuan, hasil kerja kelompok juga dapat dibagikan kepada kelompok lain. Kelompok lain dapat memberikan pendapat dan kritik atas pendapat kelompok lain melalui konferensi ini. 

              Model jalur komunikasi dalam kerja kelompok dan kolaborasi dapat dilihat pada gambar 38. Diskusi dilakukan antar kelompok dan pihak guru (gambar 3a) maupun antar individu peserta didik dan guru. Penugasan atas nama kelompok didiskusikan antar anggota kelompok tersebut untuk kemudian disampaikan kepada kelompok lain. Selain diskusi, seseorang dapat menyampaikan pertanyaan kepada guru atau kepada sesama peserta didik. Semangat belajar dari dan untuk sesama merupakan warna kegiatan pendidikan ini.

              Kompetensi Profesi Guru Berbasis ICT
              Berdasarkan definisi yang diberikan oleh UNESCO Asia and Pacific Regional Bureau for Education and Commonwealth of Learning, bahwa TIK adalah teknologi yang digunakan untuk berkomunikasi dan untuk membuat, mengelola dan mendistribusikan informasi. Dari definisi yang luas, TIK termasuk komputer, internet, telepon, televisi, radio, dan peralatan audiovisual (UNESCO, 2008). Bondan S. Prakoso dan Rakhmat Januardy (2005) mengemukakan bahwa program TIK di lingkungan Kemendikbud dirancang, disusun, dan dilaksanakan agar dapat memberikan sebesar- besarnya manfaat bagi semua pihak, khususnya komunitas.

              Banyak perubahan yang terjadi dalam pendidikan, dimana TIK merupakan salah satu kekuatan pendorongnya. Salah satu bentuk perubahan itu adalah meningkatnya akses ke TIK di kalangan siswa dan guru baik di rumah maupun di sekolah, tak terkecuali di Indonesia. Sebagaimana yang dilansir oleh Communication and Information Unit UNESCO Bangkok bahwa penggunaan TIK di lingkungan pendidikan di Indonesia yang telah teridentifikasi, yaitu: (1) penggunaan TIK yang paling dominan adalah untuk email; (2) TIK dimasukkan dalam kurikulum di beberapa sekolah; (3) pusat pelatihan swasta menawarkan kursus singkat terkait TIK (misalnya, MS Office, Desain web , animasi); (4) anggaran telah dialokasikan untuk fasilitas TIK dan koneksi internet di sekolah; dan (5) pelatihan komputer dasar disediakan untuk guru.

              Keterampilan TIK adalah kompetensi pada bidang pembelajaran, yang mencerminkan pemerataan yang luas dalam keterampilan penggunaan TIK. Keterampilan TIK di adaptasi, ditransfer, dan digunakan sebagai alat untuk membantu transformasi pembelajaran dalam hubungannya dengan keterampilan penting lainnya seperti membaca, berhitung dan pemecahan masalah (Mceetya, 2005). Hal senada dikemukakan oleh CETF bahwa keterampilan TIK/digital adalah kemampuan untuk menggunakan peralatan komunikasi dan teknologi digital dan atau jaringan untuk mengakses, mengelola, mengintegrasikan, mengevaluasi, membuat dan mengkomunikasikan informasi sesuai fungsi nya dalam masyarakat berpengetahuan.

              Dalam konteks Indonesia, UNESCO mengemukakan bahwa pada sejumlah sekolah di Indonesia TIK telah digunakan secara terpadu dalam pendidikan. Guru yang mempunyai kompetensi TIK ditunjuk sebagai koordinator TIK, yang bertanggung jawab atas pengelolaan penggunaan TIK di sekolah. Realitas yang ada adalah kebanyakan koordinator TIK tidak memiliki latar belakang pendidikan TIK. Oleh karena itu, melatih mereka dalam TIK yang berhubungan dengan keterampilan yang diperlukan. JIS (Jaringan Informasi Sekolah), sebuah program diprakarsai oleh Direktorat PSMK, bertujuan untuk memberikan pelatihan TIK bagi guru dalam jaringan.

              Sebagaimana dikemukakan oleh Pelgrum, bahwa hasil survey yang dilakukan terhadap sekolah di 24 negara menunjukkan hambatan serius yang dirasakan oleh praktisi pendidikan dalam upaya mewujudkan tujuan mereka terkait TIK, antara lain:1) kurangnya jumlah komputer; (2) guru tidak memiliki pengetahuan/keterampilan; (3) kesulitan untuk mengintegrasikan dalam pembelajaran;(4) supervisi dari staf tidak cukup; dan (5) tidak cukup kesempatan mengikuti pelatihan. 

              Rangkuman
              1. E-learning adalah sebuah proses pembelajaran yang berbasis elektronik. Salah satu media yang digunakan adalah jaringan komputer. Sistem e-learning ini tidak memiliki batasan akses. Inilah yang memungkinkan perkuliahan bisa dilakukan lebih banyak waktu, kapanpun mahasiswa bisa mengakses sistem ini.
              2. Pelaksanaan blended learning bertujuan untuk mendapatkan kualitas pembelajaran yang baik dimana metode pembelajaran tatap muka (face to face) memungkinkan untuk dilakukan pembelajaran interaktif, sedangkan metode online learning dapat memberikan materi secara online tanpa batas ruang dan waktu, namun masih memungkinkan mendapatkan bimbingan dan arahan untuk dicapai pembelajaran yang maksimal.
              3. Keterampilan TIK adalah kompetensi pada bidang pembelajaran, yang mencerminkan pemerataan yang luas dalam keterampilan penggunaan TIK. Keterampilan TIK diadaptasi, ditransfer, dan digunakan sebagai alat untuk membantu transformasi pembelajaran dalam hubungannya dengan keterampilan penting lainnya seperti membaca, berhitung dan pemecahan masalah.
              4. Paradigma Pendidikan di Abad-21 merumuskan 16 prinsip pembelajaran yang harus dipenuhi dalam proses pendidikan, yaitu: 1) dari berpusat pada guru menuju berpusat pada siswa; 2) dari satu arah menuju interaktif; 3) dari isolasi menuju lingkungan jejaring; 4) dari pasif menuju aktif menyelidiki; 5) dari maya/abstrak menuju konteks dunia nyata; 6) dari pribadi menuju pembelajaran berbasis tim; 7) dari luas menuju perilaku khas memberdayakan kaidah keterikatan; 8) dari stimulasi rasa tunggal menuju stimulasi ke segala penjuru; 9) dari alat tunggal menuju alat multimedia; 10) dari hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif; 11) dari produksi massa menuju kebutuhan pelanggan; 12) dari usaha sadar tunggal menuju jamak; 13) dari satu ilmu dan teknologi bergeser menuju pengetahuan disiplin jamak; 14) dari kontrol terpusat menuju otonomi dan kepercayaan; 15) dari pemikiran faktual menuju kritis, dan; 16) dari penyampaian pengetahuan menuju pertukaran pengetahuan.

                Download Berkas Mengenai Orientasi Pembelajaran Abad 21 - Buku Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam)

                Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Mengenai Orientasi Pembelajaran Abad 21 ini silahkan lihat file preview Buku Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam) atau download file pada link di bawah ini:

                Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam)



                Download File:
                Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam).pdf 

                Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Orientasi Pembelajaran Abad 21 - Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam). Semoga bisa bermanfaat.