Modul Supervisi Akademik Diklat Fungsional Calon Pengawas Sekolah dan Penguatan Kompetensi Pengawas Sekolah 2018

Kontributor : On Minggu, November 18, 2018

Berikut ini adalah arsip berkas Modul Supervisi Akademik Diklat Fungsional Calon Pengawas Sekolah dan Penguatan Kompetensi Pengawas Sekolah 2018. Download file dalam format .pdf.

Modul Supervisi Akademik Diklat Fungsional Calon Pengawas Sekolah dan Penguatan Kompetensi Pengawas Sekolah 2018
Modul Supervisi Akademik Diklat Fungsional Calon Pengawas Sekolah dan Penguatan Kompetensi Pengawas Sekolah 2018

Modul Supervisi Akademik Diklat Fungsional Calon Pengawas Sekolah dan Penguatan Kompetensi Pengawas Sekolah 2018

Modul Supervisi Akademik untuk Pengawas Sekolah ini merupakan salah satu modul Diklat Fungsional Calon Pengawas Sekolah dan Penguatan Kompetensi Pengawas Sekolah, diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2018. Modul-modul tersebut antara lain terdiri dari:

  • Modul Pengelolaan Tugas Pokok dan Kode Etik Pengawas Sekolah
  • Modul Pengelolaan Supervisi Akademik Pengawas Sekolah
  • Modul Evaluasi Pendidikan Pengawas Sekolah
  • Modul Pengembangan Profesi Pengawas Sekolah
  • Modul Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil (PPKPNS) Bagi Guru, Kepala Sekolah, dan Tenaga Kependidikan Lainnya

Semua modul ini silahkan anda lihat atau download di:
Modul Diklat Fungsional Calon Pengawas Sekolah dan Penguatan Kompetensi Pengawas Sekolah Tahun 2018

Berikut ini kutipan teks/keterangan dari isi berkas Modul Supervisi Akademik Diklat Fungsional Calon Pengawas Sekolah dan Penguatan Kompetensi Pengawas Sekolah:

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 21 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya menyatakan bahwa tugas pokok pengawas sekolah adalah melaksanakan tugas pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan yang meliputi penyusunan program pengawasan, pelaksanaan pembinaan, pemantauan pelaksanaan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan, penilaian, pembimbingan dan pelatihan profesional guru, evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan, dan pelaksanaan tugas kepengawasan di daerah khusus. Tugas pokok pengawas sekolah tersebut harus dikelola dengan baik agar dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.

Salah satu tugas pokok yang sangat erat berkaitan dengan profesionalisme guru dan pembelajaran adalah pengawasan akademik. Pengawasan akademik merupakan fungsi pengawas yang berkenaan dengan pelaksanaan tugas pembinaan, pemantauan, penilaian, serta pembimbingan dan pelatihan profesional guru baik pada aspek kompetensi maupun tugas pokoknya. Untuk menjalankan tugas pengawasan akademik, seorang pengawas harus menguasai kompetensi supervisi akademik sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Pengawas Sekolah/Madrasah. 

Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu pendidik mengembangkan kemampuannya dalam mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Supervisi akademik bukan penilaian unjuk kerja pendidik melainkan membantu pendidik mengembangkan kemampuan profesionalismenya.

Tugas supervisi akademik pengawas sekolah meliputi pembinaan, pemantauan dan penilaian kinerja guru dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian hasil pembelajaran dan pembimbingan serta pelatihan peserta didik.

Kegiatan pembinaan dalam supervisi akademik terhadap guru menyangkut kemampuan pendidik dalam mengelola proses pembelajaran. Selanjutnya pemantauan fokus pada pelaksanaan standar isi, standar kompetensi lulusan, standar proses, dan standar penilaian. Pengawas sekolah sebagai supervisor dapat mengembangkan supervisi akademik dengan memberikan motivasi dan memberikan pelayanan supervisi akademik secara optimal kepada para pendidik sesuai kondisi pendidik yang ada di sekolah. Dari kegiatan ini diharapkan terjadi perubahan perilaku pendidik ke arah yang lebih berkualitas dan akan menimbulkan perilaku belajar peserta didik menjadi lebih baik. Proses pembelajaran yang berkualitas dan hasil belajar peserta didik yang baik merupakan satu indikator keberhasilan kinerja Pengawas Sekolah. Penguasaan kompetensi supervisi akademik merupakan bekal utama dalam melaksanakan tugas pengawasan. Untuk mencapai hal tersebut, calon pengawas sekolah diberi bekal melalui pelatihan membuat perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi serta tindak lanjut supervisi akademik.

Pengawas sekolah harus memiliki komitmen bersama untuk membina, membimbing dan mendampingi kepala sekolah, kemudian menggerakkan guru dan peserta didik agar mampu berpikir kritis, berkreasi, berinovasi, memecahkan masalah serta menciptakan pembelajaran aktif dan efektif. Dengan melaksanakan supervisi akademik secara terprogram dan berkesinambungan, akan tercapai layanan proses pembelajaran bermutu sesuai dengan tuntutan kebijakan implementasi kurikulum terkini (penguatan pendidikan karakater, literasi, HOTS, dan keterampilan abad 21). Pembelajaran yang dipimpin oleh guru yang berkualitas akan meningkatkan prestasi peserta didik. Pengawas sekolah dan kepala sekolah sebagai pembina harus menjadwalkan kegiatan supervisi akademik terhadap semua guru.


Target Kompetensi; Setelah mengikuti kegiatan diklat, peserta mampu:
  1. Merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru
  2. Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan, model dan teknik supervisi yang tepat
  3. Menyusun laporan dan tindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru. 

Indikator Pencapaian Kompetensi; Indikator pencapaian kompetensi pembelajaran diklat, peserta mampu:
  1. Memahami pengertian, tujuan, manfaat, dan prinsip supervisi akademik.
  2. Memahami pengertian, tujuan, prinsip, dan karakteristik supervisi klinis.
  3. Menyusun Rencana Pengawasan Akademik (RPA)/Rencana Pengawasan Bimbingan Konseling (RPBK).
  4. Memahami prosedur supervisi akademik dalam pembelajaran berorientasi HOTS.
  5. Memahami prosedur supervisi klinis dalam pembelajaran berorintasi HOTS.
  6. Mempraktekan pelaksanakan supervisi akademik (supervisi klinis) dalam pembelajaran berorientasi HOTS.
  7. Melakukan evaluasi hasil pelaksanaan supervisi akademik dalam pembelajaran berorinetasi HOTS.
  8. Menyusun laporan kegiatan supervisi akademik.
  9. Menyusun tindak lanjut supervisi akademik. 

Ruang Lingkup; Ruang lingkup dan pengorganisasian pembelajaran yang ada dalam modul ini meliputi; perencanaan program supervisi akademik, pelaksanaan supervisi akademik, dan pelaporan serta tindak lanjut supervisi akademik terhadap guru. Masing- masing topik dibahas secara berurutan pada kegiatan pembelajaran 1, 2, dan 3.

Melalui Modul Diklat Fungsional Calon Pengawas Sekolah ini, Saudara akan melakukan kegiatan pembelajaran perencanaan, pelaksanaan, penyusunan dan tindak supervisi akademik yang diawali dengan mempelajari pengantar supervisi akademik melalui beberapa kegiatan antara lain: curah pendapat, diskusi, studi kasus, bermain peran, dan simulasi, kemudian diakhiri dengan tes.

Pengorganisasian Pembelajaran; Kegiatan Pembelajaran dan Alokasi Waktu: 1) Perencanaan Supervisi Akademik 3JP, 2) Pelaksanaan Supervis Akademik 4JP, 3) Penyusunan Laporan dan Tindak Lanjut Supervisi Akademik 2JP. Total 9JP.

Cara Penggunaan Modul:
  1. Modul Supervisi Akademik berisi tentang: (1) Perencanaan Supervisi Akademik, (2) Pelaksanaan Supervisi Akademik; dan (3) Penyusunan Laporan dan Tindak Lanjut Supervisi Akademik.
  2. Setelah mempelajari modul ini, calon pengawas sekolah mampu: a. Memahami pengertian, tujuan, manfaat, dan prinsip supervisi akademik. b. Memahami pengertian, tujuan, prinsip, dan karakteristik supervisi klinis. c. Menyusun Rencana Pengawasan Akademik (RPA)/Rencana Pengawasan Bimbingan Konseling (RPBK). d. Memahami prosedur supervisi akademik pada pembelajaran berorientasi HOTS. e. Memahami prosedur supervisi klinis pada pembelajaran yang berorientasi HOTS. f. Mempraktekan pelaksanakan supervisi akademik (supervisi klinis) yang berorientasi HOTS. g. Melakukan evaluasi hasil pelaksanaan supervisi akademik. h. Menyusun laporan kegiatan supervisi akademik. i. Menyusun tindak lanjut supervisi akademik.
  3. Modul ini terdiri dari 4 (empat) bagian yaitu: (1) Penjelasan Umum Modul, (2) Kegiatan Pembelajaran In Service Training (IST), (3) Evaluasi, dan (4) Penutup.
  4. Sebelum mempelajari modul ini, Saudara harus memiliki dokumen-dokumen sebagai berikut: a. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah; b. Peraturan Menteri Negara Penertiban Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 21 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya ; c. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 143 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanan Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya.
  5. Waktu yang dipergunakan untuk mempelajari modul ini diperkirakan 9 Jam Pembelajaran (JP) dimana satu JP setara dengan 45 menit. Perkiraan waktu ini sangat fleksibel sehingga bisa disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan.
  6. Untuk melakukan kegiatan pembelajaran, Saudara sebaiknya mulai dengan membaca petunjuk dan pengantar modul ini, menyiapkan dokumen yang diperlukan, mengikuti tahap demi tahap kegiatan pembelajaran secara sistematis dan mengerjakan kegiatan pembelajaran pada Lembar Kerja (LK). Selama kegiatan pembelajaran akan dilakukan penilaian berbasis kelas oleh pengajar. Setiap menyelesaikan kegiatan pembelajaran di masing- masing modul. Saudara akan mengerjakan latihan soal dan penugasan lainnya. Untuk melengkapi pemahaman, Saudara dapat membaca sumber-sumber lain yang relevan.
  7. Dalam melaksanakan setiap kegiatan pada modul ini, Saudara harus mengintegrasikan nilai-nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), yang terdiri atas: 1) religiusitas, 2) nasionalisme, 3) kemandirian, 4) gotong royong, dan 5) integritas.
  8. Bagi calon pengawas setelah mengikuti IST selanjutnya mengerjakan tagihan dan harus dibawa pada OJT 2 adalah 1) program supervisi klinis 2) program pembimbingan dan pelatijan guru serta kaporan pematauan SNP ( standar isi, SKL, Proses dan penilaian)

    Download Modul Supervisi Akademik Diklat Fungsional Calon Pengawas Sekolah dan Penguatan Kompetensi Pengawas Sekolah 2018

    Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Modul Supervisi Akademik Diklat Fungsional Calon Pengawas Sekolah dan Penguatan Kompetensi Pengawas Sekolah 2018 ini silahkan lihat pada file preview  dan download file pada link di bawah ini:

    Modul Supervisi Akademik Diklat Fungsional Calon Pengawas Sekolah dan Penguatan Kompetensi Pengawas Sekolah 2018



    Download File:
    Modul Supervisi Akademik Diklat Fungsional Calon Pengawas Sekolah dan Penguatan Kompetensi Pengawas Sekolah 2018.pdf

    Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Modul Supervisi Akademik Diklat Fungsional Calon Pengawas Sekolah dan Penguatan Kompetensi Pengawas Sekolah 2018. Semoga bisa bermanfaat.

    Panduan Kurikulum 2013 SD Tahun 2018 - Modul Bimbingan Teknis Instruktur Kurikulum 2013 di SD Tahun 2018

    Kontributor : On Rabu, November 14, 2018

    Berikut ini adalah arsip berkas terkait dengan Panduan Kurikulum 2013 SD Tahun 2018. Modul Bimbingan Teknis Instruktur Kurikulum 2013 di SD (Sekolah Dasar) Tahun 2018. Download file format .pdf

    Modul Bimbingan Teknis Instruktur Kurikulum 2013 di SD Tahun 2018
    Modul Bimbingan Teknis Instruktur Kurikulum 2013 di SD Tahun 2018

    Modul Bimbingan Teknis Instruktur Kurikulum 2013 di SD Tahun 2018

    Berikut ini kutipan teks/keterangan dari isi berkas Panduan Kurikulum 2013 SD Tahun 2018 - Modul Bimbingan Teknis Instruktur Kurikulum 2013 di SD Tahun 2018.

    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2014 telah mengeluarkan kebijakan penataan implementasi Kurikulum 2013 melalui Permendikbud Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013. Berdasarkankebijakan tersebut implementasi Kurikulum 2013 dilaksanakan secara bertahap mulai tahun pelajaran 2014/2015 semester 2 sampai dengan tahun pelajaran 2018/2019.

    Sampai dengan tahun pelajaran 2017/2018, Kurikulum 2013 telah dilaksanakan di 93,892 (60%) sekolah dasar. Selanjutnya, untuk tahun pelajaran 2018/2019 implementasi Kurikulum 2013 diperluas menjadi 53.702 SD atau sekitar 40%. Dengan penambahan jumlah tersebut, ditargetkan seluruh SD (148,697) telah melaksanakan Kurikulum 2013.

    Tahun Pelajaran 2018/2019 akan dilaksanakan pelatihan Kurikulum 2013 dengan menggunakan perangkat pendukung Kurikulum 2013 yang telah disiapkan serta panduan teknis Kurikulum 2013. Seluruh perangkat tersebut merupakan revisi modul tahun 2017 dan dimaksudkan untuk memberikan pemahaman secara teknis tentang kebijakan dan substansi Kurikulum 2013, meningkatkan kompetensi pelaksana Kurikulum 2013, dan meningkatkan kompetensi guru dalam merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran dan penilaian di sekolah.

    Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) menuntut guru untuk melakukan penguatan karakter siswa yang menginternalisasikan nilai-nilai utama PPK yaitu relijiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong-royang dan integritas dalam setiap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Selain itu, untuk membangun generasi emas Indonesia, maka perlu dipersiapkan peserta didik yang memiliki keterampilan Abad 21 seperti khususnya keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah (critical thinking and problem solving skills), keterampilan untuk bekerjasama (collaboration skills), kemampuan untuk berkreativitas (creativities skills), dan kemampuan untuk berkomunikasi (commnication skills).

    PPK merupakan platform pendidikan nasional yang memperkuat Kurikulum 2013. Modul Pelatihan Kurikulum 2013 ini telah mengintegrasikan tiga strategi implementasi PPK yaitu pendidikan karakter berbasis kelas, pendidikan karakter berbasis budaya sekolah, dan pendidikan karakter berbasis masyarakat sehingga implementasi Kurikulum 2013 menjadi bagian integral dalam penguatan pendidikan karakter, kecakapan literasi, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi (high order thinking skills/HOTS).

    DAFTAR ISI

    KATA PENGANTAR
    BAB I PENDAHULUAN
    A. Rasional
    B. Tujuan
    C. Sasaran
    D. Prinsip-prinsip
    E. Struktur Bimbingan Teknis Implementasi Kurikulum 2013
    F. Cara Mempergunakan Unit
    G. Struktur Tiap Unit

    BAB II MATERI UMUM
    Unit I Kebijakan dan Dinamika Perkembangan Kurikulum
    Unit II Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) Unit III Penerapan Literasi Dalam Pembelajaran
    Unit IV Penyelenggaraan Pelatihan dan Pendampingan Kurikulum 2013 SD
    Unit V Penyusunan Soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional di Sekolah Dasar

    BAB III MATERI POKOK
    Unit VI Analisis SKL, KI, KD, Indikator, Silabus dan Pembelajaran Tematik Terpadu
    Unit VII Perancangan Pembelajaran
    VII.1. Praktik Penyusunan Prota, Prosem, Pemetaan KD, dan Silabus
    VII.2. Penyusunan RPP
    Unit VIII Perencanaan, Pelaksanaan, Pengolahan dan Pelaporan Hasil Belajar
    Unit IX Praktik penyusunan soal HOTS
    Unit X Inspirasi Tayangan Video Pembelajaran
    Unit XI Praktek Pembelajaran (Peer-Teaching)

    BAB IV MATERI PENDUKUNG
    Unit XII Pembukaan: Kebijakan Peningkatan Mutu Pendidikan
    Unit XIII Tes Awal
    Unit XIV Tes Akhir
    Unit XV Penutupan: Review dan Evalasi

    BAB V PENUTUP

    LAMPIRAN


    BAB I PENDAHULUAN

    A. Rasional
    Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013 pasal 4, dinyatakan bahwa: Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah dapat melaksanakan Kurikulum Tahun 2006 paling lama sampai dengan tahun pelajaran 2019/2020. Ketentuan ini memberi kesempatan kepada sekolah yang belum siap melaksanakan Kurikulum 2013 untuk tetap melaksanakan Kurikulum 2006 sambil melakukan persiapan-persiapan sehingga selambat-lambatnya pada tahun 2020 sekolah tersebut telah mengimplementasikan Kurikulum 2013 setelah mencapai kesiapan yang optimal. Sebagai langkah awal, yang telah dilakukan dalam rangka persiapan Pelaksanaan Kurikulum 2013 adalah melakukan bimbingan teknis (bimtek) bagi pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah serta unsur-unsur lain yang terlibat langsung dalam proses pendidikan.

    Sampai dengan tahun pelajaran 2017/2018, Kurikulum 2013 telah dilaksanakan di 93,892 (60%) sekolah dasar. Selanjutnya untuk tahun pelajaran 2018/2019, implementasi Kurikulum 2013 diperluas menjadi 53.702 SD atau sekitar 40%. Dengan penambahan jumlah tersebut, ditargetkan seluruh SD (148,697) telah melaksanakan Kurikulum 2013.

    Kurikulum 2013 sebagaimana dimaksud di atas berorientasi pada penguatan karakter siswa yang telah diperkuat oleh Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Dengan demikian guru dituntut untuk melakukan penguatan karakter siswa dengan menginternalisasikan nilai-nilai utama PPK yaitu religiusitas, nasionalisme, mandiri, gotong-royang dan integritas dalam setiap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Nilai Religiusitas, diantaranya: beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, taat beribadah, bersyukur, berdoa sebelum dan sesudah beraktivitas, dsb. Nilai Nasionalisme, diantaranya: cinta tanah air, semangat kebangsaan, menghargai kebhinekaan, menghayati lagu nasional dan lagu daerah, cinta produk Indonesia, cinta damai, rela berkorban, taat hukum, dsb. Nilai Kemandirian, diantaranya: disiplin, percaya diri, rasa ingin tahu, tangguh, bekerja keras, mandiri, kreatif- inovatif, pembelajar sepanjang hayat, dsb. Nilai Gotong Royong, diantaranya: suka menolong, bekerjasama, peduli sesama, toleransi, peduli lingkungan, kebersihan dan kerapian, kekeluargaan, aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, dsb. Nilai Integritas, diantaranya: jujur, rendah hati, santun, tanggung jawab, keteladanan, komitmen moral, cinta kebenaran, menepati janji, anti korupsi, dsb.

    Selain itu, untuk membangun generasi emas Indonesia, maka perlu dipersiapkan peserta didik yang memiliki keterampilan Abad 21 yaitu kualitas karakter, literasi dasar, dan kompetensi Abad 21 yaitu berpikir kritis dan memecahkan masalah (critical thinking and problem solving skills), bekerjasama (collaboration skills), kemampuan untuk berkreativitas (creativities skills), dan kemampuan untuk berkomunikasi (commnication skills). penguatan pendidikan Karakter merupakan platform pendidikan nasional yang memperkuat Kurikulum 2013.

    Sebagaimana dipaparkan di atas bahwa langkah awal untuk mempersiapkan 100% sekolah menerapkan Kurikulum 2013 adalah bimbingan teknis. Untuk kepentingan tersebut maka sebuah penyediaan modul bimtek yang memenuhi standar menjadi keniscayaan. Modul Bimtek Kurikulum 2013 ini dirancang dengan mengintegrasikan tiga strategi implementasi PPK yaitu pendidikan karakter berbasis kelas, pendidikan karakter berbasis budaya sekolah, dan pendidikan karakter berbasis masyarakat sehingga implementasi Kurikulum 2013 menjadi bagian integral dalam penguatan pendidikan karakter, kecakapan literasi, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi (high order thinking skills/HOTS).

    Dalam rangka mendukung pelaksanaan Kurikulum 2013 yang sarat dengan penguatan karakter siswa di sekolah dasar, seluruh guru SD memerlukan penyesuaian-penyesuaian. Untuk kepentingan tersebut, diperlukan updating (penyegaran) dalam bentuk bimtek secara menyeluruh yang diawali dengan pelatihan untuk Narasumber Nasional (NN), Instruktur Nasional (IN), Instruktur Provinsi (IP) dan instruktur kabupaten/kota (IK) yang penyebutannya sejak tahun  2017 disederhanakan menjadi Instruktur Kurikulum yang melakukan pembinaan, serta pendampingan terhadap pelaksana di tingkat satuan pendidikan, termasuk kepala sokolah, guru, serta pengawas. Melalui kegiatan ini, diharapkan terjadi peningkatan wawasan, pengetahuan dan keterampilan semua instruktur kurikulum dalam mengikuti dinamika perkembangan, kebijakan dan peraturan.

    Bimtek dan pelatihan pelaksanaan Kurikulum 2013 di sekolah dasar diselenggarakan secara terkoordinatif antara Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Dasar dan Menengah, Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota, LPMP, dan satuan pendidikan sesuai dengan tugas dan peran masing-masing.

    B. Tujuan
    Penyusunan Modul secara umum bertujuan untuk menyediakan acuan bagi semua pihak dalam melaksanakan bimtek instruktur Kurikulum 2013 sekolah dasar tahun 2018.

    Secara khusus penyusunan modul ini bertujuan untuk:
    1. Mengembangkan keterampilan peserta dalam menyiapkan perangkat pembelajaran yang menguatkan karakter siswa, kemampuan literasi, serta pengembangan keterampilan Abad 21 lainnya sesuai dengan Kurikulum 2013.
    2. Mengembangkan kemampuan peserta dalam memfasilitasi pelaksanaan pembelajaran dan penilaian yang menguatkan karakter siswa, kemampuan literasi, HOTS, serta pengembangan keterampilan Abad 21 lainnya sesuai dengan Kurikulum 2013.
    3. Meningkatkan kecakapan peserta dalam mengembangkan program/ aktivitas pembelajaran dengan mensinergikan tiga pusat pendidikan dan tiga jalur pendidikan (menggali dan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang ada di sekitarnya) untuk pembelajaran di kelas.
    4. Meningkatkan kecakapan instruktur Kurikulum 2013 dalam menyelengarakan Pelatihan Kurikulum 2013 di wilayah tugas masing-masing. 

    C. Sasaran
    Sasaran pengguna modul bimtek Kurikulum 2013 Tahun 2018 antara lain:
    1. Penyelenggara pelatihan instruktur pusat;
    2. Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar;
    3. Pusat Kurikulum dan Perbukuan;
    4. Pusat Penilaian Pendidikan;
    5. Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP);
    6. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota;
    7. Kepala sekolah dasar pelaksana Kurikulum 2013;

    D. Prinsip-Prinsip
    Selama melaksanakan bimtek Kurikulum 2013, peserta perlu memahami prinsip- prinsip dasar yang dipergunakan selama bimtek sehingga pelatihan itu sungguh menunjukkan keterlibatan peserta secara aktif dan partisipatif. Untuk itu, ada beberapa prinsip yang perlu dipahami oleh peserta agar acara pelatihan implementasi Kurikulum 2013 dapat berjalan dengan efektif. Prinsip pelaksanaan kegiatan pelatihan diuraikan berikut ini.

    a. Keterlibatan aktif. Keterlibatan aktif peserta sangat diharapkan. Karena itu, fasilitator mengusahakan agar setiap peserta memperoleh kesempatan untuk berbicara menyampaikan pendapat dan pengalamanannya.

    b. Kenyamanan. Perlu diperhatikan kenyamanan peserta sebelum memasuki kegiatan selanjutnya. Kenyamanan ini bisa berupa pengaturan tempat duduk, pencahayaan, dan pemaparan dalam presentasi yang dapat dilihat dan dibaca oleh semua peserta.

    c. Fokus pada tujuan. Fasilitator perlu fokus pada satu kegiatan agar tuntas. Setiap modul sudah dirancang secara lengkap, karena itu tahapan setiap modul mulai dari awal sampai evaluasi dan refleksi perlu dilakukan dengan baik dan tidak boleh dilewatkan.

    d. Perhatian pada dinamika peserta. Fasilitator perlu membiasakan diri dan cermat untuk memahami dinamika peserta sehingga seluruh pelatihan terlaksana dengan baik.

    e. Dokumentasi pendapat. Fasilitator perlu mencatat pendapat dan pengalaman peserta, baik saat melaksanakan sesi evaluasi maupun refleksi. 

    f. Rencana aksi. Setiap kegiatan bimtek diakhiri dengan penulisan rencana aksi. Ini adalah bagian penting untuk memperkuat pemahaman dan proses penyadaran yang terjadi serta untuk menunjukkan bahwa peserta menangkap maksud pelatihan yang diadakan.

    E. Struktur Bimbingan Teknis Implementasi Kurikulum 2013
    Struktur bimtek implementasi Kurikulum 2013 tahun 2018:

    Materi Umum:
    1. Kebijakan dan Dinamika Perkembangan Kurikulum
    2. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
    3. Penerapan Literasi Dalam Pembelajaran
    4. Penyelenggaraan Pelatihan dan Pendampingan Kurikulum 2013 SD
    5. Penyusunan Soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional di Sekolah Dasar

    Materi Pokok:
    1. Analisis SKL, KI, KD, Indikator, dan Silabus
    2. Perancangan Pembelajaran dan Penilaian
    3. Perencanaan, Pelaksanaan, Pengolahan dan Pelaporan Hasil Belajar
    4. Praktik penyusunan soal HOTS
    5. Inspirasi Tayangan Video Pembelajaran
    6. Praktek Pembelajaran (Peer Teaching)

    Materi Penunjang:
    1. Pembukaan: Kebijakan Peningkatan Mutu Pendidikan
    2. Penutupan: Review & Evaluasi Pelatihan

    F. Cara Mempergunakan Unit
    Modul pelatihan ini disusun sebagai panduan teknis bagi para pelatih dan peserta pelatihan Kurikulum 2013 yang di dalamnya berisi 3 materi utama yang mencakup materi umum, materi pokok, dan materi penunjang. Materi Umum meliputi unit 1-5 yaitu: (1) Kebijakan dan Dinamika Perkembangan Kurikulum, (2) Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), (3) Penerapan Literasi Dalam Pembelajaran, (4) Penyelenggaraan Pelatihan dan Pendampingan Kurikulum 2013 SD, dan (5) Penyusunan Soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional di Sekolah Dasar. Materi Pokok meliputi unit 6-11 terdiri dari: (6) Analisis, SKL, KI, KD, Indikator, dan Silabus; (7) Penyusunan Perancangan Pembelajaran dan Penilaian, (8) Perencanaan, Pelaksanaaan, Pengolahan dan Pelaporan Hasil Belajar; (9) Praktik Penyusunan Soal HOTS; (10) Inspirasi Tayangan Video Pembelajaran; dan (11) Praktik Pembelajaran (Peer Teaching). Materi Penunjang meliputi unit 12-13 terdiri dari: Pembukaan yang berupa Kebijakan Peningkatan Mutu Pendidikan, Tes Awal dan Tes Akhir, serta Penutupan yang berisi Review dan Evaluasi Pelatihan. Unit-unit modul tersebut pengalokasian waktunya sekitar 1 jam pelatihan (JP) dengan alokasi waktu per jam 60 menit. Cara mempergunakan buku ini berdasarkan pada dinamika proses pelatihan yang berlaku umum yaitu mengikuti alur sebagai berikut: kegiatan pendahuluan, materi inti, dan penutupan.

    Sebelum memulai sesi bimtek, fasilitator perlu memahami isi materi yang menjadi pokok bahasan dalam buku modul ini. Isi materi bisa berupa naskah, buku, bacaan, atau tulisan yang berada dalam lampiran modul ini. Para fasilitator perlu membaca materi-materi yang dibutuhkan sebelum melakukan bimtek. Tujuannya adalah untuk memahami inti materi dengan baik sehingga mudah menyampaikannya pada peserta.

    Tahap berikutnya fasilitator memahami langkah-langkah yang perlu dilakukan selama melakukan proses fasilitasi dan bimtek. Fasilitator bisa mengarahkan peserta untuk membuat rencana tindak lanjut setiap kali setelah menyelesaikan materi bimtek.

    G. Struktur Tiap Unit
    Setiap modul bimtek disusun mengikuti alur dan struktur yang sama, mulai dari rasional sampai skenario pembelajaran. Fasilitator perlu memahami struktur modul bimtek ini agar dapat mendapatkan gambaran yang utuh tentang bagaimana pengertian, tujuan, dan cara-cara yang perlu dilakukan untuk melaksanakan modul ini. 

    Adapun penjelasan dari masing-masing struktur unit itu adalah sebagai berikut.

    A. Rasional
    Rasional berisi deskripsi tentang mengapa unit yang dibahas itu penting, apakah relevan dan adakah keterkaitannya dengan materi yang akan diberikan. Rasional menjadi dasar pemikiran yang membantu fasilitator memahami relevansi bimtek sesuai dengan materi yang dibahas. Rasional merupakan petunjuk arah bagi fasilitator agar peserta dapat menangkap makna tiap unit.

    B. Tujuan
    Tujuan merupakan kemampuan yang ingin dicapai selama peserta menjalankan bimtek dalam unit tertentu.

    C. Hasil yang diharapkan
    Hasil-hasil yang diharapkan berupa hal-hal yang ingin dicapai oleh peserta setelah bimtek unit tertentu diberikan.

    D. Bahan Bacaan
    Bahan bacaan merupakan bahan-bahan/sumber pendukung yang menunjang berjalannya materi bimtek dengan baik.

    E. Deskripsi Materi
    Berisi penjelasan lebih detail tentang gagasan utama dalam unit yang perlu diperhatikan oleh fasilitator agar penyampaian mater dapat dipahami peserta dengan baik. Materi merupakan uraian ringkas tentang isi atau butir-butir penting bimtek sehingga pelatih dapat menangkap hal-hal penting berupa kata kunci yang perlu diperhatikan selama melaksanakan sebuah bimtek.

    F. Skenario
    Skenario bimtek merupakan langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh peserta secara bertahap untuk melatihkan sebuah unit.

    G. Lampiran-lampiran
    Lampiran-lampiran dapat berupa bahan-bahan pendukung seperti lembar kerja, presentasi dan lain sebagainya sebagai penunjang berjalannya bimtek dengan baik. 

    BAB III MATERI POKOK
    Materi pokok dan alokasi jam pelatihan (JP) dalam pelatihan Kurikulum 2013 tahun 2018 adalah sebagai berikut.

    Materi Pokok:
    1. Analisis SKL, KI, KD, Indikator, Silabus dan Pembelajaran Tematik Terpadu
    2. Perancangan Pembelajaran
    3. Praktik Penyusunan Prota, Prosem, Pemetaan KD, dan Silabus
    4. Penyusunan RPP
    5. Perencanaan, Pelaksanaan, Pengolahan dan Pelaporan Hasil Belajar
    6. Praktik penyusunan soal HOTS
    7. Inspirasi Tayangan Video Pembelajaran
    8. Praktek Pembelajaran (Peer Teaching)

      Download Modul Bimbingan Teknis Instruktur Kurikulum 2013 di SD Tahun 2018

      Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Modul Bimbingan Teknis Instruktur Kurikulum 2013 di SD Tahun 2018 Revisi ini silahkan lihat pada file preview dan download file pada link di bawah ini:

      Modul Bimbingan Teknis Instruktur Kurikulum 2013 di SD Tahun 2018



      Download File:
      Buku Bimtek K13 SD 2018 (Panduan Kurikulum 2013 SD Tahun 2018).pdf

      Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Modul Bimbingan Teknis Instruktur Kurikulum 2013 di SD Tahun 2018. Semoga bisa bermanfaat.

      Modul Panduan Penguatan Peran Guru BK dalam Implementasi Kurikulum 2013 SMA

      Kontributor : On Senin, November 12, 2018

      Berikut ini adalah arsip berkas Modul Panduan Penguatan Peran Guru BK (Bimbingan dan Konseling) dalam Implementasi Kurikulum 2013 SMA. Download file PDF.

      Modul Panduan Penguatan Peran Guru BK dalam Implementasi Kurikulum 2013 SMA
      Modul Panduan Penguatan Peran Guru BK dalam Implementasi Kurikulum 2013 SMA

      Modul Panduan Penguatan Peran Guru BK dalam Implementasi Kurikulum 2013 SMA

      Berikut ini kutipan teks/keterangan dari isi berkas Modul Panduan Penguatan Peran Guru BK (Bimbingan dan Konseling) dalam Implementasi Kurikulum 2013 SMA.

      Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2014 telah mengeluarkan kebijakan penataan implementasi Kurikulum 2013 melalui Permendikbud Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013. Berdasarkan kebijakan tersebut implementasi Kurikulum 2013 dilaksanakan secara bertahap mulai tahun pelajaran 2014/2015 semester 2 sampai dengan tahun pelajaran 2018/2019.

      Pada tahun pelajaran 2016/2017 jumlah SMA yang melaksanakan Kurikulum 2013 sebanyak 3.212 SMA (25%) yang tersebar di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota. Selanjutnya untuk tahun pelajaran 2017/2018, implementasi Kurikulum 2013 diperluas menjadi 7.666 SMA atau sekitar 60% dan pada tahun pelajaran 2018/2019 akan dituntaskan menjadi 100% SMA dengan penambahan sebanyak 4.220 SMA.

      Terhadap 4.220 SMA tersebut, pada tahun 2018 diberikan pembinaan dalam bentuk pelatihan dan pendampingan Kurikulum 2013. Pelatihan dan pendampingan bagi guru SMA dilakukan bersama oleh Direktorat Pembinaan SMA, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), dan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. Pelatihan dan pendampingan tersebut menggunakan modul bimbingan teknis Kurikulum 2013 tahun 2017 dengan mengintegrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagai implementasi dari Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017.

      Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) mendorong para guru untuk mampu merancang, melaksanakan, dan menilai pembelajaran untuk menguatkan karakter peserta didik dengan mengedepankan lima nilai utama karakter yaitu religiositas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong dan integritas. Dalam setiap kegiatan pembelajaran, lima nilai utama tersebut perlu dijadikan sebagai poros utama dalam membangun karakter peserta didik. Untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia para peserta didik perlu dibekali sejak dini dengan apa yang disebut kecakapan Abad 21, khususnya keterampilan 4C yakni berpikir kritis dan memecahkan masalah (critical thinking and problem solving), bekerjasama (collaboration), berkreativitas (creativities), dan berkomunikasi (communication).

      PPK merupakan platform pendidikan nasional yang memperkuat Kurikulum 2013. Modul pelatihan Kurikulum 2013 ini telah mengintegrasikan tiga strategi implementasi penguatan pendidikan karakter yaitu pendidikan karakter berbasis kelas, pendidikan karakter berbasis budaya sekolah, dan pendidikan karakter berbasis masyarakat. PPK menjadi bagian integral dalam implementasi Kurikulum 2013.

      Semoga naskah modul ini dapat berguna dan membantu guru matapelajaran dalam upaya peningkatan mutu pendidikan melalui implementasi Kurikulum 2013.

      DAFTAR ISI
      KATA PENGANTAR
      DAFTAR ISI
      DAFTAR GAMBAR
      DAFTAR TABEL
      DAFTAR LAMPIRAN

      BAB I PENDAHULUAN
      A. Latar Belakang
      B. Tujuan
      C. Hasil yang Diharapkan
      D. Sasaran
      E. Landasan

      BAB II KERANGKA KONSEPTUAL BIMBINGAN DAN KONSELING
      A. Pengertian Bimbingan dan Konseling
      B. Komponen dan Bidang Layanan Bimbingan dan Konseling
      C. Tugas Guru Bimbingan dan Konseling
      D. Fungsi dan Peranan Bimbingan dan Konseling dalam Implementasi Kurikulum 2013

      BAB III STRATEGI BIMBINGAN DAN KONSELING
      A. Prinsip Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling
      B. Peran Bimbingan dan Konseling dalam Impelementasi Kurikulum 2013

      BAB IV PENUTUP
      DAFTAR PUSTAKA

      DAFTAR LAMPIRAN
      Lampiran 1 Alternatif Program Peminatan
      Lampiran 2 Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di SMA
      Lampiran 3 Alternatif RPL Meningkatkan Critical Thingking
      Lampiran 4 Alternatif RPL Meningkatkan Kreativitas Kemampuan Verbal
      Lampiran 5 Alternatif RPL Meningkatkan Kemampuan Kerjasama Peserta Didik dengan Adventure Based Counseling
      Lampiran 6 Alternatif RPL Meningkatkan Kepedulian Peserta Didik dengan Bibliokonseling
      Lampiran 7 Alternatif RPL Meningkatkan Kemampuan Berpikir Positif
      Lampiran 8 Alternatif RPL Meningkatkan Kemampuan Literasi
      Lampiran 9 Alternatif Analisis Pencapaian Akademik dan Non Akademik
      Lampiran 10 Alternatif Pemetaan Minat Peserta Didik terhadap Jenis Perguruan Tinggi
      Lampiran 11 Alternatif Format Penyiapan Rencana Karir
      Lampiran 12 Alternatif Kartu Penjajakan Alumni

      BAB I PENDAHULUAN

      A. Latar Belakang
      Bimbingan dan konseling merupakan kegiatan layanan kemanusiaan yang bertujuan membantu individu dalam mencapai kemandirian dan perkembangan secara utuh dan optimal. Bimbingan dan konseling bertujuan membantu tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (Bab II, Pasal 3, UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas). Dalam penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah, tujuan umum Bimbingan dan Konseling adalah membantu peserta didik/konseli agar dapat mencapai kematangan dan kemandirian dalam kehidupannya serta menjalankan tugas-tugas perkembangannya yang mencakup aspek pribadi, sosial, belajar, karir secara utuh dan optimal (Permendikbud No 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah/BK PDPM).

      Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. Dalam pelaksanaannya terdapat beberapa kebijakan dan dinamika yang memerlukan layanan profesi Bimbingan dan Konseling sehingga penyelenggaraan pendidikan yang diberikan tepat sasaran, efektif dan efisien serta hasilnya optimal. Pertama, program peminatan peserta didik yang merupakan suatu proses pemilihan dan pengambilan keputusan oleh peserta didik yang didasarkan atas pemahaman potensi diri dan peluang yang ada pada satuan pendidikan. Muatan peminatan peserta didik meliputi peminatan kelompok mata pelajaran, mata pelajaran, lintas minat, pendalaman minat dan ekstra kurikuler. Dalam konteks tersebut, layanan bimbingan dan konseling membantu peserta didik untuk memahami, menerima, mengarahkan, mengambil keputusan, dan merealisasikan keputusan dirinya secara bertanggungjawab sehingga mencapai kesuksesan, kesejahteraan dan kebahagiaan dalam kehidupannya.

      Kedua, adanya proses pembelajaran dan penilaian yang mengacu pada abad 21 yakni High Order Thinking Skill (HOTS). Ketiga, penguatan pendidikan karakter. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) telah disusun oleh pemerintah dan dituangkan dalam bentuk Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 23 tahun 2015. Ada nilai- nilai utama karakter yang harus diperkuat antara lain: 1) religiositas, 2) nasionalisme, 3) kemandirian, 4) gotong royong, dan 5) integritas. PPK dilaksanakan dengan tiga cara yakni berbasis budaya sekolah, berbasis masyarakat (terutama keluarga) dan berbasis kelas (di tiap satuan jenjang pendidikan). Keempat, penerapan literasi dalam pembelajaran. Literasi merupakan landasan, wahana, dan syarat mutlak bagi peserta didik untuk belajar menggali dan menimba ilmu pengetahuan lebih lanjut. Tanpa penguasaan tersebut peserta didik akan mengalami kesulitan menguasai ilmu pengetahuan. Kemampuan literasi tidak tumbuh begitu saja, butuh tahapan waktu dengan beberapa target capaian.

      Kelima, layanan pembelajaran dengan Sistem Kredit Semester (SKS). Hal ini sebagaimana tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 19 ayat (1) menyebutkan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik, dan ayat (2) menegaskan bahwa beban belajar dapat dinyatakan dalam bentuk satuan kredit semester. Dalam kaitannya dengan ini, dalam Undang-Undang Sisdiknas Pasal 12 ayat (1) point f menyatakan bahwa peserta didik dapat menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan.

      Sistem Kredit Semester (SKS) merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan yang dirancang untuk memberikan layanan pendidikan yang memungkinkan peserta didik dapat menyelesaikan keseluruhan beban belajar sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan kecepatan belajarnya.

      Berkaitan pelaksanaan bimbingan dan konseling yang mendukung penyelenggaraan pendidikan supaya tepat sasaran, efektif dan efisien serta mempunyai hasil yang optimal tentunya perlu didukung oleh kinerja guru Bimbingan dan Konseling, hal ini berkaitan dengan pelaksanaan di satuan pendidikan masih banyak ditemukan adanya guru bimbingan dan konseling yang belum memenuhi standar perilaku sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Keterampilan melakukan analisis kebutuhan merupakan keterampilan dasar dalam menyusun program bimbingan dan konseling. Hal ini pun masih ditemukan adanya guru Bimbingan dan Konseling yang kurang mampu melakukannya; mulai dari menyusun instrumen, menganalisis, dan menafsirkan data.

      Dalam hubungannya dengan implementasi Kurikulum 2013, masih ada guru bimbingan dan konseling yang belum memahami konsep dan strategi layanan peminatan; mulai dari pemberian informasi, pengumpulan data, pemilihan dan penetapan peminatan, pendampingan, pengembangan dan penyaluran sampai kepada monitoring dan tindak lanjut.

      Dengan demikian dalam implementasi Kurikulum 2013, guru bimbingan dan konseling perlu dikuatkan dalam merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan melakukan tindak lanjut layanan bimbingan dan konseling. Disamping itu guru bimbingan dan konseling perlu penguatan strategi dalam melakukan layanan peminatan, mendukung pelaksanaan SKS, pelaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), Kecakapan Abad 21, Literasi, pembelajaran dengan Sistem Kredit Semeter (SKS) yang berimplikasi pada fungsi guru bimbingan dan konseling untuk mengatur strategi layanan sehingga SKS di satuan pendidikan berjalan efektif sesuai dengan panduan.

      Berdasarkan uraian tersebut, dalam upaya tercapainya tujuan penyelenggaraan pendidikan secara utuh dan optimal, maka Direktorat Pembinaan SMA Dikdasmen Kemendikbud menyusun Naskah Strategi Bimbingan dan Konseling dalam Implementasi Kurikulum 2013. Dalam pelaksanaan Kurikulum 2013, layanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada Naskah Strategi Bimbingan dan Konseling ini dan Pedoman Bimbingan dan konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah sebagaimana terdapat dalam lampiran Permendikbud No. 111 tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (BK PDPM) serta Panduan Operasional Penyelenggaraan (POP) Bimbingan dan konseling di SMA yang diterbitkan oleh Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Tahun 2016. 

      B. Tujuan
      1. Mengembangkan keterampilan bagi guru Bimbingan dan Konseling dalam menyusun program layanan kepada peserta didik.
      2. Mengembangkan kemampuan guru Bimbingan dan Konseling dalam memberikan layanan kepada peserta didik.
      3. Mengembangkan keterampilan guru Bimbingan dan Konseling dalam menyiapkan perangkat administrasi yang diperlukan dalam memberikan layanan.
      4. Meningkatkan kinerja guru Bimbingan dan Konseling dalam memberikan layanan kepada peserta didik terkait implementasi kurikulum 2013.
      5. Memberikan acuan atau arahan dalam penyelenggaraaan bimbingan dan konseling di satuan pendidikan.

      C. Hasil yang Diharapkan
      1. Guru Bimbingan dan Konseling memiliki keterampilan dalam meyusun program layanan dan menyiapkan perangkat administrasi untuk kebutuhan pelayanan kepada peserta didik.
      2. Guru Bimbingan dan Konseling mampu memberikan layanan kepada peserta didik.
      3. Guru Bimbingan dan Konseling mempunyai kecakapan dalam mengembangkan program layanan.

      Agar penggunaan panduan ini dapat mencapai keberhasilan dengan baik, terlebih dahulu baca dan ikuti petunjuk berikut ini.
      1. Persiapkan alat tulis dan kertas untuk membuat catatan-catatan.
      2. Gunakan waktu sefesien mungkin (36 jam pelajaran @ 60 menit).
      3. Silahkan berdiskusi dengan sesama guru, forum MGMP, atau forum komunitas yang relevan.

      D. Sasaran
      Panduan ini diperuntukkan bagi guru bimbingan dan konseling, Kepala Sekolah, Dinas Pendidikan, Pengawas Sekolah, Komite Sekolah.

      E. Landasan
      1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
      2. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Pertama atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
      3. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
      4. Peraturan Pemerintah RI No 19 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No 74 Tahun 2008 tentang Guru.
      5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.
      6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik Konselor.
      7. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 59 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah.
      8. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun 2014 tentang Peminatan pada Pendidikan Menengah.
      9. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.
      10. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 158 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Kredit Semester pada Pendidikan Dasar dan Menengah.
      11. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013.
      12. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 5 tahun 2015 tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik, Penyelenggaraan Ujian Nasional, dan Penyelenggaraan Ujian Sekolah/Madrasah/Pendidikan Kesetaraan pada SMP/MTs atau yang Sederajat dan SMA/MA/SMK atau yang Sederajat.
      13. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2015 tentang penilaian Budi Pekerti.
      14. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 53 tahun 2015 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.
      15. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di lingkungan sekolah.
      16. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan.
      17. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi.
      18. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses.
      19. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian.
      20. Panduan Operasional Penyelenggaraan (POP) Bimbingan dan Konseling di SMA, Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Tahun 2016 

      BAB II KERANGKA KONSEPTUAL BIMBINGAN DAN KONSELING

      A. Pengertian Bimbingan dan Konseling
      Bimbingan dan konseling adalah upaya sistematis, objektif, logis, dan berkelanjutan serta terprogram yang dilakukan oleh guru Bimbingan dan Konseling untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik dalam mencapai kemandirian. Bimbingan dan konseling merupakan komponen integral sistem pendidikan pada setiap satuan pendidikan, yang berupaya memfasilitasi dan memandirikan peserta didik agar mencapai perkembangan yang utuh dan optimal. Sebagai komponen dalam sistem pendidikan, bimbingan dan konseling memfasilitasi perkembangan peserta didik untuk mencapai kemandirian, dalam wujud kemampuan memahami diri dan lingkungan, menerima diri, mengarahkan diri, dan mengambil keputusan, serta merealisasikan diri secara bertanggung jawab, sehingga tercapai kebahagiaan dan kesejahteraan dalam kehidupannya.

      Bimbingan dan konseling menggunakan paradigma perkembangan individu, yang menekankan pada upaya mengembangkan potensi-potensi positif yang dimiliki individu. Semua peserta didik berhak mendapatkan layanan bimbingan dan konseling agar potensinya berkembang dan teraktualisasi secara positif. Meskipun demikian, paradigma perkembangan tidak mengabaikan layanan-layanan yang berorientasi pada pencegahan timbulnya masalah (preventif) dan pengentasan masalah (kuratif).

      B. Komponen dan Bidang Layanan Bimbingan dan Konseling

      1. Komponen program Bimbingan dan Konseling meliputi :

      a. Layanan Dasar
      Layanan dasar adalah proses pemberian bantuan kepada seluruh peserta didik melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis dalam rangka mengembangkan kemampuan penyesuaian diri yang efektif sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan (yang dituangkan sebagai standar kompetensi kemandirian peserta didik).

      b. Layanan Peminatan dan Perencanaan Individual.
      Layanan perencanaan individual dan peminatan adalah bantuan kepada peserta didik agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas-aktivitas sistematik yang berkaitan dengan perencanaan masa depan berdasarkan pemahaman tentang kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman terhadap peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya.

      c. Layanan Responsif
      Layanan responsif adalah pemberian bantuan kepada peserta didik yang menghadapi masalah dan memerlukan pertolongan dengan segera, agar peserta didik tidak mengalami hambatan dalam proses pencapaian tugas- tugas perkembangannya. Strategi layanan responsif diantaranya konseling individual, konseling kelompok, konsultasi, kolaborasi, kunjungan rumah, dan alih tangan kasus (referal). 

      d. Dukungan sistem
      Dukungan Sistem merupakan komponen pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja, infrastruktur (misalnya Teknologi Informasi dan Komunikasi), dan pengembangan kemampuan profesional guru bimbingan dan konseling secara berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada peserta didik atau memfasilitasi kelancaran perkembangan peserta didik dan mendukung efektivitas dan efisiensi pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling.

      2. Bidang Layanan Bimbingan dan Konseling

      Bidang layanan yang meliputi bimbingan dan konseling pribadi, sosial, belajar dan karir.

      a. Pribadi;
      Proses pemberian bantuan dari guru bimbingan dan konseling kepada peserta didik untuk memahami, menerima, mengarahkan, mengambil keputusan, dan merealisasikan keputusannya secara bertanggung jawab tentang perkembangan aspek pribadinya, sehingga dapat mencapai perkembangan pribadi yang optimal dan mencapai kemandirian, kebahagiaan, kesejahteraan dan keselamatan dalam kehidupannya. Aspek perkembangan peserta didik yang dikembangkan meliputi (1) memahami potensi diri dan memahami kelebihan dan kelemahannya, baik kondisi fisik maupun psikis, (2) mengembangkan potensi untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupannya, (3) menerima kelemahan kondisi diri dan mengatasinya secara baik, (4)mencapai keselarasan perkembangan antara cipta-rasa-karsa, (5)mencapai kematangan/kedewasaan cipta-rasa-karsa secara tepat dalam kehidupanya sesuai nilai-nilai luhur, dan (6) mengaktualisasikan dirinya sesuai dengan potensi diri secara optimal berdasarkan nilai-nilai luhur budaya dan agama.

      b. Sosial
      Proses pemberian bantuan dari guru bimbingan dan konseling kepada peserta didik untuk memahami lingkungannya dan dapat melakukan interaksi sosial secara positif, terampil berinteraksi sosial, mampu mengatasi masalah-masalah sosial yang dialaminya, mampu menyesuaikan diri dan memiliki keserasian hubungan dengan lingkungan sosialnya sehingga mencapai kebahagiaan dan kebermaknaan dalam kehidupannya. Aspek perkembangan peserta didik yang dikembangkan meliputi (1) berempati terhadap kondisi orang lain, (2) memahami keragaman latar sosial budaya, (3) menghormati dan menghargai orang lain, (4) menyesuaikan dengan nilai dan norma yang berlaku, (5) berinteraksi sosial yang efektif, (6) bekerjasama dengan orang lain secara bertanggungjawab dan (8) mengatasi konflik dengan orang lain berdasarkan prinsip yang saling menguntungkan.

      c. Belajar
      Proses pemberian bantuan guru bimbingan dan konseling kepada peserta didik antara lain adalah mengenali potensi diri untuk belajar, memiliki sikap dan keterampilan belajar, terampil merencanakan pendidikan, memiliki kesiapan menghadapi ujian, memiliki kebiasaan belajar teratur dan mencapai hasil belajar secara optimal sehingga dapat mencapai kesuksesan, kesejahteraan, dan kebahagiaan dalam kehidupannya. Aspek perkembangan yang dikembangkan meliputi;(1) menyadari potensi diri dalam aspek belajar dan memahami berbagai hambatan belajar; (2) memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif; (3) memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat; (4) memiliki keterampilan belajar yang efektif; (5) memiliki keterampilan perencanaan dan penetapan pendidikan lanjutan; dan (6) memiliki kesiapan menghadapi ujian.

      d. Karir
      Proses pemberian bantuan guru bimbingan dan konseling kepada peserta didik untuk memahami pertumbuhan, perkembangan, eksplorasi, aspirasi dan pengambilan keputusan karir sepanjang rentang hidupnya secara rasional dan realistis berdasar informasi potensi diri dan melihat kesempatan yang tersedia di lingkungan hidupnya untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupannya. Aspek perkembangan yang dikembangkan meliputi; (1) memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan; (2) memiliki pengetahuan mengenai duniakerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir; (3) memiliki sikap positif terhadap dunia kerja; (4) memahami relevansi kemampuan menguasai pelajaran dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karir di masa depan; (5) memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara mengenali ciri- ciri pekerjaan, persyaratan kemampuan yang dituntut, lingkungan sosio- psikologis pekerjaan, prospek kerja, kesejahteraan kerja; memiliki kemampuan merencanakan masa depan, berupa kemampuan merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi; membentuk pola-pola karir; mengenal keterampilan; serta memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir.

      C. Tugas Guru Bimbingan dan Konseling

      1. Perencanaan Kegiatan Pelayanan
      Dalam perencanaan program bimbingan dan konseling, terdapat dua tahapan, yaitu (1) tahap persiapan (preparing) dan (2) tahap perancangan (designing). Tahap persiapan (preparing) terdiri dari (1) melakukan asesmen kebutuhan, (2) aktivitas mendapatkan dukungan unsur lingkungan sekolah, dan (3)menetapkan dasar perencanaan. Tahap perancangan (designing) terdiri atas (1) menyusun rencana kerja, (2) menyusun program tahunan, dan (3) menyusun program semesteran. Sajian rinci tertuang dalam Bab III. POP BK di SMA yang diterbitkan oleh Ditjen GTK Kemendikbud Tahun 2016.

      Kegiatan asesmen kebutuhan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menemukan kondisi nyata peserta didik yang akan dijadikan dasar dalam merencanakan program dan layanan bimbingan dan konseling.

      Hasil asesmen kebutuhan peserta didik dijabarkan dalam bentuk narasi sebagai dasar empirik bagi guru bimbingan dan konseling dalam merencanakan program bimbingan dan konseling di sekolah.

      Langkah-langkah asesmen kebutuhan sebagai berikut:
      a. Mengidentifikasi data yang dibutuhkan untuk menyusun program layanan.
      Langkah awal dalam asesmen kebutuhan adalah menentukan data yang akan diukur/ diungkap untuk kepentingan penyusunan program layanan bimbingan dan konseling. Data yang perlu diungkap antara lain data tentang tugas-tugas perkembangan, permasalahan, dan atau prestasi peserta didik.

      b. Memilih instrumen pengukuran data sesuai kebutuhan.
      Terdapat berbagai instrumen yang dapat digunakan dalam asesmen kebutuhan, di antaranya adalah (1) asesmen dengan pendekatan masalah, seperti Alat Ungkap Masalah Umum (AUM-U), Alat Ungkap Masalah Prasyarat penguasaan materi pelajaran Keterampilan belajar Sarana belajar Keadaan diri pribadi Lingkungan belajar dan sosio emosional (AUM-PTSDL), Daftar Cek Masalah (DCM), (2) asesmen dengan pendekatan SKKPD yaitu Inventori Tugas Perkembangan (ITP), (3) assesmen dengan pendekatan empat bidang layanan (pribadi, sosial, belajar dan karier), observasi, wawancara, dan sosiometri. Guru Bimbingan dan Konseling dapat memilih instrumen yang digunakan berdasarkan salah satu dari tiga pendekatan yang telah disebutkan di atas.

      c. Mengumpulkan, mengolah, menganalisis, dan menginterpretasi data hasil asesmen kebutuhan.
      Dalam mengumpulkan data perlu memperhatikan ketersediaan instrumen, waktu, dan setiap peserta didik harus mendapatkan kesempatan untuk mengisi instrumen pengumpulan data. Guru Bimbingan dan Konseling hendaknya memahami penggunaan instrumen pengumpulan data. Pengolahan dan analisis data serta interpretasi hasil asesmen menggunakan manual instrumen yang digunakan.

      Hasil asesmen kebutuhan peserta didik dapat digunakan untuk membuat profil individu, kelompok dan atau profil kelas. Dalam pembuatan profil sangat dipengaruhi oleh jenis data berdasarkan data instrumen dan manual yang digunakan dalam analisis. Profil dapat disajikan dalam bentuk matriks atau grafik. Hasil asesmen dipergunakan sebagai dasar penyusunan program dan pemberian layanan bimbingan dan konseling. Dalam memberikan layanan perlu juga memahami tentang perkembangan peserta didik antara meliputi yang meliputi aspek fisik, kognitif, sosial, emosi, moral, dan religius. Program disusun untuk tahunan dan semesteran. Struktur komponen program tahunan bimbingan dan konseling terdiri atas : rasional, dasar hukum, visi dan misi, deskripsi kebutuhan, tujuan, komponen program, bidang layanan, rencana operasional, pengembangan tema/topik, evaluasi, pelaporan dan tindak lanjut, sarana dan prasarana dan anggaran biaya. Perlu diperhatikan bahwa dalam sajian tentang deskripsi kebutuhan akan berkait erat dengan rumusan tujuan program, pengembangan topik/ tema, dan penyusunan RPL Sedangkan Program Semesteran Bimbingan dan Konseling disajikan dalam bentuk matriks kegiatan.

      2. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling
      Pelaksanaan bimbingan dan konseling didasarkan kepada tujuan, prinsip, fungsi, dan azas bimbingan dan konseling. Kegiatannya mencakup semua komponen dan bidang layanan melalui layanan langsung, media, kegiatan administrasi, serta kegiatan tambahan dan pengembangan keprofesian guru bimbingan dan konseling. Sajian rinci tentang pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling disajikan dalam Bab IV. POP BK di SMA yang diterbitkan oleh Ditjen GTK Kemendikbud Tahun 2016. Secara ringkas, berikut ini disajikan pemetaan kaitan antara komponen program, cara pemberian layanan serta strategi kegiatan layanan bimbingan dan konseling.

      3. Evaluasi Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling
      Evaluasi program bimbingan dan konseling merupakan suatu kegiatan yang berkesinambungan sebagai suatu siklus yang tidak berhenti sampai terkumpulnya data atau informasi. Data atau informasi itu digunakan sebagai dasar kebijakan atau keputusan dalam pengembangan program bimbingan dan konseling selanjutnya. Prosedur evaluasi program bimbingan dan konseling dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
      a. Penyusunan Rencana Evaluasi
      b. Pengumpulan Data
      c. Analisis dan Interpretasi Data
      d. Pengambilan Keputusan dan Rekomendasi

      4. Pelaporan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling
      Pelaporan pada hakikatnya merupakan kegiatan menyusun dan mendeskripsikan seluruh hasil yang telah dicapai dalam evaluasi proses maupun hasil dalam format laporan yang dapat memberikan informasi kepada seluruh pihak yang terlibat tentang keberhasilan dan kekurangan dari program bimbingan dan konseling yang telah dilakukan.

      5. Tindak Lanjut Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling
      Tindak lanjut dalam evaluasi program bimbingan dan konseling dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu tindak lanjut sebagai bagian utuh dari pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling dan tindak lanjut sebagai tahap akhir dari kegiatan evaluasi.

      Tindak lanjut dalam pelaksanaan layanan dapat dimunculkan sebagai bentuk respon cepat terhadap refleksi yang dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling atas permasalahan-permasalahan yang teridentifikasi selama proses pemberian layanan. Adapun tindak lanjut yang akan diuraikan pada bagian ini adalah tindak lanjut sebagai bagian dari evaluasi program bimbingan dan konseling. Evaluasi, format laporan dan tindak lanjut kegiatan layanan Bimbingan dan Konseling disajikan dalam Bab V POP BK di SMA yang diterbitkan oleh Ditjen GTK Kemendikbud 2016.

      6. Kerjasama layanan Bimbingan dan Konseling dengan pihak terkait
      Dalam penyelenggaraan kegiatan layanan bimbingan dan konseling, guru bimbingan dan konseling perlu bekerja sama dengan berbagai pihak di dalam satuan pendidikan (wali kelas, guru mata pelajaran, wakil kepala sekolah, dan tenaga kependidikan) dan di luar satuan pendidikan (pengawas pendidikan, komite sekolah, orang tua, organisasi profesi bimbingan dan konseling, dan profesi lain yang relevan). Kerja sama dengan berbagai pihak dilakukan atas dasar prinsip kesetaraan, saling pengertian, saling menghargai dan saling mendukung untuk tercapai tujuan pendidikan nasional pada umumnya, khususnya tercapainya mencapai perkembangan yang optimal dalam aspek perkembangan pribadi, sosial, belajar dan karirnya.

      D. Fungsi dan Peranan Bimbingan dan Konseling dalam Implementasi Kurikulum 2013
      Fungsi bimbingan dan konseling dalam implementasi kurikulum 2013 sebagai komponen integral dalam penyelenggaraan pendidikan, membantu tercapainya tujuan pendidikan nasional, dan memfasilitasi tercapainya kemandirian dan perkembangan secara utuh dan optimal aspek pribadi, sosial, belajar dan karir. Peranan bimbingan dan konseling dalam impelementasi kurikulum 2013 adalah membantu terealisasinya kebijakan dan tercapainya tujuan pendidikan dengan memperhatikan kebijakan yang diberlakukan semenjak tahun 2013. Kebijakan tersebut meliputi peminatan peserta didik, penguatan pendidikan karakter (PPK), penerapan literasi, Kecakapan Abad 21 (thinking skills), penerapan SKS dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran tuntas dan remidi. Pada prinsipnya bimbingan dan konseling menyelenggarakan layanan yang mendukung kelancaran dan tercapainya tujuan pendidikan berdasarkan kebijakan yang diterapkan.

      Layanan bimbingan dan konseling diarahkan pada pengembangan karakter, sehingga karakter peserta didik terbentuk menjadi pribadi yang religius, jujur, toleran, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, memiliki rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab (Sumber: Pusat Kurikulum, Pengembangan dan Pendidikan Budaya, Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah. 2009: 9-10). Di tahun 2017 fokus utama penguatan pendidikan karakter (PPK) ada 5 (lima) nilai karakter yang hendak diperkuat yakni; 1) religius, 2) nasionalisme, 3) mandiri, 4) gotong royong, dan 5) integritas.

      Layanan bimbingan dan konseling diarahkan pada program Literasi di SMA merupakan sebuah proses agar peserta didik menjadi literat, warga sekolah menjadi literat, yang akhirnya literat menjadi kultur atau budaya yang dimiliki individu atau sekolah tersebut. Implementasi Gerakan Literasi Sekolah di SMA dilaksanakan melalui tiga tahap, (1) tahap pembiasaan, (2) tahap pengembangan, dan (3) tahap pembelajaran. 

      Layanan bimbingan dan konseling diarahkan pada Aspek-aspek kecakapan berpikir abad 21 (thinking skills) yang hendaknya dikembangkan dalam implementasi kurikulum 2013 adalah berpikir kritis (critical thinking), kreativitas (creative), kolaborasi (colaboration), dan komunatif (communicative).

      Layanan bimbingan dan konseling yang diarahkan pada peminatan peserta didik SMA merupakan proses pemilihan dan penetapan kelompok peminatan/kelompok mata pelajaran, mata pelajaran, lintas minat atau pendalaman minat yang didasarkan atas potensi diri (kecerdasan umum, bakat, minat, cita-cita), dukungan orang tua/wali, dan peluang yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan;

      Peminatan peserta didik dalam Kurikulum 2013 mengandung makna: (1) suatu pembelajaran berbasis minat peserta didik sesuai kesempatan belajar yang ada dalam satuan pendidikan; (2) suatu proses pemilihan dan penetapan peminatan peserta didik pada kelompok mata pelajaran, lintas mata pelajaran, dan pendalaman mata pelajaran (akademik atau vokasi) yang ditawarkan oleh satuan pendidikan; (3) suatu proses pengambilan pilihan dan keputusan oleh peserta didik tentang peminatan kelompok mata pelajaran, peminatan lintas mata pelajaran, peminatan pendalaman mata pelajaran (akademik atau vokasi) yang didasarkan atas pemahaman potensi diri dan peluang yang diselenggarakan pada satuan pendidikan; (4) dan suatu proses yang berkesinambungan untuk memfasilitasi peserta didik mencapai keberhasilan proses dan hasil belajar serta perkembangan optimal dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

      Tujuan dari pelayanan peminatan adalah memberikan kesempatan kepada peserta didik mengembangkan kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan peserta didik sesuai dengan minat, bakat dan/atau kemampuan akademik dalam sekelompok mata pelajaran keilmuan.

      Layanan bimbingan dan konseling di satuan pendidikan yang menerapkan SKS salah satu perannya dengan melakukan pengumpulan data prestasi akademik untuk rekam jejak penyelesaian UKBM (Unit Kegiatan Belajar Mandiri). Data tersebut digunakan sebagai dasar penyusunan program layanan perencanaan individual. 

        Download Modul Panduan Penguatan Peran Guru BK dalam Implementasi Kurikulum 2013 SMA

        Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Modul Panduan Penguatan Peran Guru BK (Bimbingan dan Konseling) dalam Implementasi Kurikulum 2013 SMA ini silahkan lihat pada file preview dan download file pada link di bawah ini:

        Modul Panduan Penguatan Peran Guru BK dalam Implementasi Kurikulum 2013 SMA



        Download File:
        Modul Panduan Penguatan Peran Guru BK dalam Implementasi Kurikulum 2013 SMA.pdf

        Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Modul Panduan Penguatan Peran Guru BK (Bimbingan dan Konseling) dalam Implementasi Kurikulum 2013 SMA. Semoga bisa bermanfaat.

        Modul Pelatihan Guru Sejarah SMA Kurikulum 2013

        Kontributor : On Senin, November 12, 2018

        Berikut ini adalah arsip berkas Modul Pelatihan Guru Sejarah SMA Kurikulum 2013. Download file dalam format .pdf.

        Modul Pelatihan Guru Sejarah Kurikulum 2013
        Modul Pelatihan Guru Sejarah SMA Kurikulum 2013

        Modul Pelatihan Guru Sejarah SMA Kurikulum 2013

        Modul Pelatihan Guru Sejarah SMA Kurikulum 2013 ini diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2018. Berikut ini kutipan teks/keterangan dari isi berkas Modul Pelatihan Guru Sejarah SMA Kurikulum 2013.

        Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2014 telah mengeluarkan kebijakan penataan implementasi Kurikulum 2013 melalui Permendikbud Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013. Berdasarkan kebijakan tersebut implementasi Kurikulum 2013 dilaksanakan secara bertahap mulai tahun pelajaran 2014/2015 semester 2 sampai dengan tahun pelajaran 2018/2019.

        Pada tahun pelajaran 2016/2017 jumlah SMA yang melaksanakan Kurikulum 2013 sebanyak 3.212 SMA (25%) yang tersebar di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota. Selanjutnya untuk tahun pelajaran 2017/2018, implementasi Kurikulum 2013 diperluas menjadi 7.666 SMA atau sekitar 60% dan pada tahun pelajaran 2018/2019 akan dituntaskan menjadi 100% SMA dengan penambahan sebanyak 4.220 SMA.

        Terhadap 4.220 SMA tersebut, pada tahun 2018 diberikan pembinaan dalam bentuk pelatihan dan pendampingan Kurikulum 2013. Pelatihan dan pendampingan bagi guru SMA dilakukan bersama oleh Direktorat Pembinaan SMA, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), dan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. Pelatihan dan pendampingan tersebut menggunakan modul bimbingan teknis Kurikulum 2013 tahun 2017 dengan mengintegrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagai implementasi dari Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017.

        Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) mendorong para guru untuk mampu merancang, melaksanakan, dan menilai pembelajaran untuk menguatkan karakter peserta didik dengan mengedepankan lima nilai utama karakter yaitu religiositas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong dan integritas. Dalam setiap kegiatan pembelajaran, lima nilai utama tersebut perlu dijadikan sebagai poros utama dalam membangun karakter peserta didik. Untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia para peserta didik perlu dibekali sejak dini dengan apa yang disebut kecakapan Abad 21, khususnya keterampilan 4C yakni berpikir kritis dan memecahkan masalah (critical thinking and problem solving), bekerjasama (collaboration), berkreativitas (creativities), dan berkomunikasi (communication).

        PPK merupakan platform pendidikan nasional yang memperkuat Kurikulum 2013. Modul pelatihan Kurikulum 2013 ini telah mengintegrasikan tiga strategi implementasi penguatan pendidikan karakter yaitu pendidikan karakter berbasis kelas, pendidikan karakter berbasis budaya sekolah, dan pendidikan karakter berbasis masyarakat. PPK menjadi bagian integral dalam implementasi Kurikulum 2013.

        Semoga naskah modul ini dapat berguna dan membantu guru mata pelajaran dalam upaya peningkatan mutu pendidikan melalui implementasi Kurikulum 2013.

        DAFTAR ISI

        KATA PENGANTAR
        DAFTAR ISI
        STRUKTUR PROGRAM PELATIHAN
        IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 SMA TAHUN 2018
        ALUR PENYAJIAN MATERI PELATIHAN
        IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 SMA TAHUN 2018
        A. PENDAHULUAN
        B. RASIONAL
        C. BAHAN BACAAN
        D. TUJUAN
        E. HASIL YANG DIHARAPKAN
        F. ALUR PENYAJIAN MATERI MODUL

        MODUL 1
        ANALISIS KOMPETENSI, PEMBELAJARAN, DAN PENILAIAN
        FOKUS MODUL

        UNIT 1
        ANALISIS SKL, KI-KD, SILABUS, DAN PEDOMAN MATA PELAJARAN
        A. URAIAN SINGKAT MATERI
        B. PENUGASAN
        C. REFLEKSI

        UNIT 2
        ANALISIS MATERI DALAM BUKU TEKS PELAJARAN
        A. URAIAN SINGKAT MATERI
        B. PENUGASAN
        C. REFLEKSI

        UNIT 3
        ANALISIS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN
        A. URAIAN SINGKAT MATERI
        B. PENUGASAN
        C. REFLEKSI

        UNIT 4
        ANALISIS PENILAIAN HASIL BELAJAR
        A. URAIAN SINGKAT MATERI. 34
        B. PENUGASAN
        C. REFLEKSI

        MODUL 2
        PERANCANGAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
        A. FOKUS MODUL
        B. URAIAN SINGKAT MATERI
        C. PENUGASAN
        D. REFLEKSI

        MODUL 3
        PRAKTIK PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN
        A. FOKUS MODUL
        B. URAIAN SINGKAT MATERI
        C. REVIEW VIDEO PEMBELAJARAN
        D. PENUGASAN
        E. REFLEKSI

        MODUL 4
        PRAKTIK PENGOLAHAN DAN PELAPORAN PENILAIAN HASIL BELAJAR
        A. FOKUS MODUL
        B. URAIAN SINGKAT
        C. PENUGASAN
        D. REFLEKSI

        STRUKTUR PROGRAM
        PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 SMA TAHUN 2018

        A. Materi Umum (8 jam)
        1. Kebijakan dan Dinamika Perkembangan Kurikulum
        2. Penguatan Pendidikan Karakter
        3. Penerapan Literasi dalam Pembelajaran
        4. Penyelenggaraan Pelatihan dan Pendampingan

        B. Materi Pokok (40 jam)
        1. Kompetensi, Materi, Pembelajaran, dan Penilaian
        2. Analisis Kompetensi, Pembelajaran, dan Penilaian; a. Analisis Dokumen; SKL, KI-KD, Silabus, dan Pedoman Mapel, b. Analisis Materi Dalam Buku Teks Pelajaran, c. Analisis Penerapan Model Pembelajaran, d. Analisis Penilaian Hasil belajar.
        3. Perancangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
        4. Praktik Pembelajaran dan Penilaian; a. Praktik Pembelajaran dan Penilaian, b. Review Hasil Praktik
        5. Praktik Pengolahan dan Pelaporan Hasil Belajar

        C. Materi Penunjang (4 jam)
        1. Pembukaan; Kebijakan Peningkatan Mutu Pendidikan
        2. Tes Awal
        3. Tes Akhir
        4. Penutupan: Review dan Evaluasi Pelatihan

        MODUL PELATIHAN MATA PELAJARAN SEJARAH

        A. PENDAHULUAN
        Modul Bimbingan Teknis Guru Sejarah SMA Kurikulum 2013. Modul ini terdiri atas 4 (empat) seri modul yang disusun sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan guru dalam melaksanakan Kurikulum 2013 sesuai dengan konsep dan pelaksanaannya. Masing-masing modul terdiri atas uraian singkat materi, fokus modul, penugasan, dan refleksi.

        Modul-modul tersebut adalah;
        1. Modul 1: Analisis Kompetensi, Materi, Pembelajaran, dan Penilaian
        2. Modul 2: Perancangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
        3. Modul 3: Praktek Pembelajaran dan Penilaian
        4. Modul 4: Praktek Pengolahan dan Pelaporan Penilaian Hasil Belajar

        B. RASIONAL
        Kurikulum 2013 mengalami beberapa perkembangan dan perbaikan sejak digulirkannya pada tahun 2013. Perbaikan kurikulum tersebut berlandaskan pada landasan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 160 tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013. Pelaksanaan perbaikannya juga atas dasar masukan dari berbagai lapisan publik (masyarakat sipil, asosiasi profesi, perguruan tinggi, dunia persekolahan) terhadap ide, dokumen, dan implementasi kurikulum yang diperoleh melalui monitoring dan evaluasi dari berbagai media. Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi serta masukan publik tersebut, terdapat beberapa masukan umum, antara lain adanya pemahaman yang kurang tepat oleh masyarakat yang diakibatkan oleh format penyajian dan nomenklatur dalam Kurikulum 2013: (1) Kompetensi Dasar (KD) pada Kompetensi Inti 1 (KI-1) dan KD pada KI-2 yang dianggap kurang logis dikaitkan dengan karakteristik mata pelaajaran; (2) terindikasi adanya inkonsistensi antara KD dalam silabus dan buku teks (baik lingkup materi maupun urutannya); (3) belum ada pernyataan eksplisit dalam dokumen kurikulum tentang perlunya peserta didik lebih melek teknologi; (4) format penilaian dianggap terlalu rumit dan perlu penyederhanaan; (5) penegasan kembali pengertian pembelajaran saintifik yang bukan satu-satunya pendekatan dalam proses pembelajaran di kelas; (6) penyelerasan dan perbaikan teknis buku teks pelajaran agar mudah dipelajari oleh peserta didik.

        Secara umum, perbaikan Kurikulum 2013 bertujuan agar selaras antara ide, desain, dokumen, dan pelaksanaannya. Secara khusus, perbaikan Kurikulum 2013 bertujuan menyelaraskan antara SKL, KI, KD, pembelajaran, penilaian, dan buku teks.

        Perbaikan tersebut pada tahun 2017 disesuaikan dengan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan melibatkan dan kerjasama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai gerakan nasional revolusi mental (Pasal 1 ayat [1]). PPK mengedepankan lima nilai utama karakter yaitu religiositas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong dan integritas. Penguatan lima nilai karakter tersebut akan dapat mendorong peserta didik untuk memiliki keterampilan Abad 21 yang dibutuhkan dalam meniti kehidupan, seperti keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving), keterampilan berkolaborasi (collaboration skills), keterampilan berkreasi (creativities skills), dan keterampilan berkomunikasi (communication skills).

        Perbaikan tersebut di atas dilaksanakan berdasarkan prinsip perbaikan kurikulum sebagai berikut.

        1. Keselarasan (Alignment)
        Antara dokumen SKL, KI, KD, , Buku Teks Pelajaran, Pembelajaran, dan Penilaian Hasil Belajar harus selaras dari aspek kompetensi lingkup materi, nilai-nilai karakter, literasi dan keterampilan Abad 21 lainnya.

        2. Mudah Dipelajari (Learnable)
        Lingkup Kompetensi dan Materi yang dirumuskan dalam KD mudah dipelajari oleh peserta didik sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis dan aspek pedagogis.

        3. Mudah Diajarkan (Teachable)
        Lingkup Kompetensi dan Materi yang dirumuskan pada KD mudah diajarkan oleh guru sesuai dengan gaya belajar peserta didik, karakteristik mata pelajaran, karakteristik kompetensi, dan sumber belajar yang ada di lingkungan, sehingga dapat menguatkan karakter dan meningkatkan keterampilan Abad 21 pada peserta didik.

        4. Terukur (Measurable)
        Kompetensi dan materi yang diajarkan terukur melalui indikator yang mudah dirumuskan dan layak dilaksanakan.

        5. Bermakna untuk Dipelajari (Worth to be learnt)
        Kompetensi dan materi yang diajarkan mempunyai kebermaknaan bagi peserta didik sebagai bekal kehidupan. 

        Memperhatikan perekembangan perbaikan Kurikulum di atas, maka diperlukan beberapa contoh praktis yang dibutuhkan guru untuk dapat mengimplementasikan Kurikulum 2013 dengan tepat yang berkaitan dengan pembelajaran dan penilaian, serta unsur penunjang lainnya. Untuk membantu guru dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 tersebut, maka Direktorat PSMA menyusun Modul Pelatihan Guru yang berisi petunjuk atau panduan, contoh praktis untuk setiap mata pelajaran serta uraian tugas yang harus dikerjakan oleh peserta pelatihan. Modul tersebut disusun dalam 4 (empat) seri modul yang saling terkait dengan harapan dapat membantu Anda dalam mengembangkan rencana dan pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013.

        C. BAHAN BACAAN
        Untuk lebih memahami modul ini, Anda sangat dianjurkan untuk membaca Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang berkaitan dengan Kurikulum 2013, serta lampiran-lampirannya antara lain KI, KD, Silabus, dan Pedoman Mata Pelajaran.

        Selain itu Anda dianjurkan juga untuk memahami buku teks Sejarah, Panduan Penguatan Pendidikan Karakter dan naskah-naskah yang diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan SMA, antara lain sebagai berikut.
        1. Panduan Penyusunan RPP
        2. Panduan Analisis Kompetensi
        3. Model-Model Pembelajaran
        4. Panduan Muatan Lokal
        5. Panduan Penilaian
        6. Implementasi Kecakapan Abad 21 dalam Pembelajaran Kurikulum 2013

        D. TUJUAN
        Modul pelatihan ini bertujuan untuk:
        1. Mengembangkan keterampilan guru dalam menyiapkan perangkat pembelajaran yang menguatan karakter peserta didik, kemampuan berliterasi, serta pengembangan keterampilan Abad 21 sesuai dengan Kurikulum 2013.
        2. Mengembangkan kemampuan guru dalam memfasilitasi pelaksanaan pembelajaran dan penilaian yang menguatan karakter peserta didik, kemampuan literasi, HOTS, serta pengembangan keterampilan Abad 21 sesuai dengan Kurikulum 2013.
        3. Meningkatkan kecakapan guru dalam mengembangkan program/aktivitas pembelajaran dengan mensinergikan tiga pusat pendidikan dan tiga jalur pendidikan (menggali dan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang ada di sekitarnya) untuk pembelajaran Sejarah.

        E. HASIL YANG DIHARAPKAN
        Hasil yang diharapkan dari pelatihan ini adalah:
        1. Guru Sejarah yang memiliki keterampilan dalam menyiapkan perangkat pembelajaran yang menguatan karakter peserta didik, kemampuan berliterasi, serta pengembangan keterampilan Abad 21 sesuai dengan Kurikulum 2013.
        2. Guru Sejarah yang mampu memfasiltasi pembelajaran dan penilaian yang menguatan karakter peserta didik, kemampuan literasi, HOTS, serta pengembangan keterampilan Abad 21 sesuai dengan Kurikulum 2013.
        3. Guru Sejarah yang memiliki kecakapan dalam mengembangkan program/aktivitas pembelajaran yang mensinergikan tiga pusat pendidikan dan tiga jalur pendidikan (menggali dan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang ada di sekitarnya) untuk pembelajaran Sejarah.

        Agar penggunaan modul ini dapat mencapai hasil yang baik, terlebih dahulu baca dan ikuti petunjuk berikut ini.
        1. Persiapkan alat tulis dan kertas untuk membuat catatan-catatan.
        2. Gunakan waktu seefesien mungkin (52 jam pelajaran @ 45 menit).
        3. Silahkan berdiskusi dengan sesama guru, forum MGMP, atau forum komunitas yang relevan.

          Download Modul Pelatihan Guru Sejarah SMA Kurikulum 2013

          Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Modul Pelatihan Guru Sejarah SMA Kurikulum 2013 ini silahkan lihat pada file preview dan download file pada link di bawah ini:

          Modul Pelatihan Guru Sejarah SMA Kurikulum 2013



          Download File:
          Modul Pelatihan Guru Sejarah SMA Kurikulum 2013.pdf
          Sumber: https://psma.kemdikbud.go.id

          Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Modul Pelatihan Guru Sejarah SMA Kurikulum 2013. Semoga bisa bermanfaat.