Pedoman Penyusunan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skill)

Kontributor : On Rabu, Oktober 17, 2018

Berikut ini adalah arsip salah satu berkas mengenai Pedoman/Panduan Penyusunan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skill). Download file dalam format .pdf.

Pedoman Penyusunan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skill)
Pedoman Penyusunan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skill)

Pedoman Penyusunan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skill)

Lihat juga arsip berkas lainnya terkait dengan Penyusunan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skill):

Rasional
Permendikbud No. 59 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, menyatakan bahwa salah satu dasar penyempurnaan kurikulum adalah adanya tantangan internal dan eksternal. Tantangan eksternal antara lain terkait dengan arus globalisasi dan berbagai isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industri kreatif, budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional. 

Pengertian
Soal-soal HOTS merupakan instrumen pengukuran yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, 
  1. transfer satu konsep ke konsep lainnya,
  2. memproses dan menerapkan informasi,
  3. mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda,
  4. menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, dan
  5. menelaah ide dan informasi secara kritis.

Meskipun demikian, soal-soal yang berbasis HOTS tidak berarti soal yang lebih sulit daripada soal recall

Soal HOTS
Mengukur dimensi metakognitif, tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural saja.

Dimensi metakognitif menggambarkan kemampuan menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah (problem solving), memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru, berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat. 

Karakteristik Soal-Soal HOTS
  1. Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi menganalisis, merefleksi, memberikan argumen (alasan), menerapkan konsep pada situasi berbeda, menyusun, menciptakan. ..... The Australian Council for Educational Research (ACER).
  2. Berbasis permasalahan kontekstual menghubungkan (relate), menginterpretasikan (interprete), menerapkan (apply) dan mengintegrasikan (integrate).
  3. Menggunakan bentuk soal beragam. Pilihan ganda, Pilihan ganda kompleks (benar/salah, atau ya/tidak), Isian singkat atau melengkapi, Jawaban singkat atau pendek dan Uraian.

Bentuk Soal
Pilihan ganda
Pada umumnya soal-soal HOTS menggunakan stimulus yang bersumber pada situasi nyata
  1. pokok soal (stem) dan
  2. pilihan jawaban (option).
terdiri dari kunci jawaban dan pengecoh (distractor). Kunci jawaban ialah jawaban yang benar atau paling benar. Pengecoh merupakan jawaban yang tidak benar, namun memungkinkan seseorang terkecoh untuk memilihnya apabila tidak menguasai bahannya/ materi pelajarannya. Jawaban yang benar diberikan skor 1, dan jawaban yang salah diberikan skor 0. 

Pilihan ganda kompleks (benar/salah, atau ya/tidak)
Bertujuan untuk menguji pemahaman peserta didik terhadap suatu masalah secara komprehensif yang terkait antara pernyataan satu dengan yang lainnya. Memuat stimulus yang bersumber pada situasi kontekstual. Peserta didik diberikan beberapa pernyataan yang terkait dengan stilmulus/bacaan, Peserta didik diminta memilih benar/salah atau ya/tidak. Pernyataan-pernyataan yang diberikan tersebut terkait antara satu dengan yang lainnya. Susunan pernyataan benar dan pernyataan salah agar diacak secara random, tidak sistematis mengikuti pola tertentu.Susunan yang terpola sistematis dapat memberi petunjuk kepada jawaban yang benar. 

Isian singkat atau melengkapi
Soal yang menuntut peserta tes untuk mengisi jawaban singkat dengan cara mengisi kata, frase, angka, atau simbol.

Karakteristik soal isian singkat atau melengkapi adalah sebagai berikut:
  1. Bagian kalimat yang harus dilengkapi sebaiknya hanya satu bagian dalam ratio butir soal, dan paling banyak dua bagian supaya tidak membingungkan siswa;
  2. Jawaban yang dituntut oleh soal harus singkat dan pasti yaitu berupa kata, frase, angka, simbol, tempat, atau waktu. 

Jawaban singkat atau pendek
Soal yang jawabannya berupa kata, kalimat pendek, atau frase terhadap suatu pertanyaan.
Karakteristik soal jawaban singkat atau pendek adalah sebagai berikut:
  1. Menggunakan kalimat pertanyaan langsung atau kalimat perintah;
  2. Pertanyaan atau perintah harus jelas, agar mendapat jawaban yang singkat;
  3. Panjang kata atau kalimat yang harus dijawab oleh siswa pada semua soal diusahakan relatif sama;
  4. Hindari penggunaan kata, kalimat, atau frase yang diambil langsung dari buku teks, sebab akan mendorong siswa untuk sekadar mengingat atau menghafal apa yang tertulis di buku. 

Soal yang jawabannya menuntut siswa untuk mengorganisasikan gagasan atau hal-hal yang telah dipelajarinya dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut menggunakan kalimatnya sendiri dalam bentuk tertulis. 
  • ruang lingkup materi yang ditanyakan dan lingkup jawaban yang diharapkan
  • ruang lingkup tersebut harus tegas dan jelas tergambar dalam rumusan soalnya
  • adanya batasan sebagai ruang lingkup soal, 

Kemampuan berpikir tingkat tinggi
  1. kemampuan memecahkan masalah (problem solving),
  2. keterampilan berpikir kritis (critical thinking),
  3. kemampuan berpikir kreatif (creative thinking),
  4. kemampuan berargumen (reasoning), dan
  5. kemampuan mengambil keputusan (decision making

Kreativitas menyelesaikan permasalahan dalam HOTS,
  1. kemampuan menyelesaikan permasalahan yang tidak familiar;
  2. kemampuan mengevaluasi strategi yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda;
  3. menemukan model-model penyelesaian baru yang berbeda dengan cara-cara sebelumnya. 

    Download Pedoman Penyusunan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skill)

    Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Pedoman Penyusunan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skill) ini silahkan lihat pada file preview dan download file pada link di bawah ini:

    Pedoman Penyusunan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skill)



    Download File:
    Panduan Penyusunan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skill).pdf

    Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Pedoman Penyusunan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skill). Semoga bisa bermanfaat.

    Penerimaan Kepala dan Guru SILN (Sekolah Indonesia di Luar Negeri) Tahun Anggaran 2018

    Kontributor : On Senin, Oktober 15, 2018

    Berikut ini adalah arsip berkas Pengumuman Kemdikbud Nomor 70337/A.A3/KP/2018 Tentang Seleksi Bersama Penerimaan Kepala dan Guru Sekolah Indonesia di Luar Negeri Tahun Anggaran 2018. Download file PDF.

    Penerimaan Kepala dan Guru SILN (Sekolah Indonesia di Luar Negeri) Tahun Anggaran 2018
    Penerimaan Kepala dan Guru SILN (Sekolah Indonesia di Luar Negeri) Tahun Anggaran 2018

    Penerimaan Kepala dan Guru SILN (Sekolah Indonesia di Luar Negeri) Tahun Anggaran 2018

    Pengumuman Kemdikbud Nomor 70337/A.A3/KP/2018 Tentang Seleksi Bersama Penerimaan Kepala dan Guru Sekolah Indonesia di Luar Negeri Tahun Anggaran 2018.

    INFORMASI UMUM
    Dalam rangka memenuhi kebutuhan kepala dan guru Sekolah Indonesia di Luar Negeri, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuka kesempatan kembali bagi Kepala Sekolah berstatus PNS dan Guru berstatus bukan PNS yang memenuhi persyaratan dan berminat untuk dipekerjakan sebagai Kepala dan Guru Sekolah Indonesia di Luar Negeri (SILN).

    PERSYARATAN
    1. PERSYARATAN UMUM
    a. Warga Negara Indonesia (WNI). 
    b. Usia maksimal saat mendaftar:
    • 52 (lima puluh dua) tahun bagi pelamar kepala SILN
    • 40 (empat puluh) tahun bagi pelamar guru SILN
    c. Sehat jasmani, rohani dan bebas NARKOBA.
    d. Berkelakuan baik dan tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang memiliki kekuatan hukum tetap.
    e. Memiliki Sertifikat Pendidik 
    f. Bagi mantan Kepala S1LN dapat mengajukan lamaran kembali sebagai calon Kepala SILN setelah 4 (empat) tahun mengabdi di tanah air.
    g. Bagi pelamar guru S1LN tidak pernah diberhentikan tidak dengan hormat sebagai pegawai swasta serta tidak sedang menjalani perjanjian/kontrak kerja/ikatan dinas pada instansi pemerintah.

    2. PERSYARATAN KHUSUS
    a. KEPALA SEKOLAH
    1. Berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil.
    2. Pangkat serendah-rendahnya Pembina, golongan ruang IV/a.
    3. Memiliki kualifikasi Akademik Sarjana (S-1) Kependidikan, diutamakan berpendidikan Magister Pendidikan (S-2).
    4. Memiliki akumulasi pengalaman minimal 5 (lima) tahun sebagai Kepala Sekolah.
    5. Aktif berbahasa lnggris lisan dan tulis yang ditunjukkan dengan skor TOEFL internasional 500 atau institusional yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi negeri 550 atau IELTS 6,0 yang masih aktif dalam 2 (dua) tahun terakhir, kecuali bagi yang pernah mengikuti pendidikan gelar (degree) di negara berbahasa lnggris atau sesuai dengan negara yang dilamar.
    6. Memiliki nilai prestasi kerja PN5 minimal baik selama 2 (dua) tahun terakhir.
    7. Memiliki surat izin mengikuti seleksi dari Kepala Dinas Pendidikan Pemerintah Daerah Provinsi atau Kabupaten/Kota.
    8. Diutamakan aktif berbahasa Arab bagi calon Kepala S1LN Kairo dan Jeddah.

    b. GURU
    1. Berstatus sebagai Guru bukan Pegawai Negeri Sipil.
    2. Berijazah minimal S-1 sesuai bidang yang dibutuhkan dengan minimal IPK 2.75.
    3. Memiliki kecakapan dalam berbahasa lnggris dibuktikan dengan sertifikat TOEFL Prediction Score minimal 450 atau IELTS 5.0. Khusus calon guru Sekolah Indonesia Jeddah diutamakan memiliki kemampuan tambahan Bahasa Arab.
    4. Memiliki pengalaman mengajar sesuai bidang yang diampu minimal 2 (dua) tahun.
    5. Diutamakan memiliki sertifikat/penghargaan tingkat nasional sebagai keterampilan tambahan selain mengajar, seperti: Olahraga, Pramuka, Seni Budaya, Keagamaan, Prakarya, Teknologi lnformasi Komunikasi (ICT), Akuntansi/Keuangan dll.
    6. Bagi pelamar Guru Seni Budaya di Sekolah Indonesia Davao diutamakan menguasai alat seni musik modern dan tradisional.
    7. Bagi pelamar Guru Kelas 5ekolah Indonesia Tokyo, diutamakan laki-laki, dapat mengemudi kendaraan roda empat dan memiliki SIM A yang dikeluarkan lebih dari 6 bulan yang lalu.

    RENCANA PENJADWALAN *)
    1. Pengumuman Resmi Seleksi : 10 Oktober 2018
    2. Waktu Pendaftaran : 10 s.d. 31 Oktober 2018
    3. Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi : 5 November 2018
    4. Pelaksanaan Seleksi : 13 s.d 16 November 2018
    5. Pengumuman Hasil Seleksi : Minggu pertama bulan Desember 2018

    TATA CARA PENDAFTARAN
    Pendaftaran daring mulai tanggal 10 s.d 31 Oktober 2018 pukul 12.00 WIB, dengan mekanisme sebagai berikut:
    1. peserta seleksi wajib memiliki alamat surat elektronik yang aktif;
    2. peserta seleksi melakukan pendaftaran/registrasi awal secara daring melalui laman http://mutasi.sdm.kemdikbud.go.id/siln dengan cara memasukkan NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan) dan atau NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional), nama, tempat lahir, tanggal lahir, dan alamat surat elektronik;
    3. pendaftaran lanjutan dilakukan dengan cara login menggunakan username dan password yang dikirim oleh Sekretariat Panitia Seleksi Bersama melalui surat elektronik peserta seleksi. Tahapan pendaftaran lanjutan meliputi: a) Memilih jabatan yang akan dilamar; b) Bagi pelamar Kepala SILN dapat memilih 2 (dua) Sekolah Indonesia Luar Negeri; c) Mengisi informasi data diri pelamar meliputi: 1) Data pokok pelamar 2) Riwayat Pendidikan yang telah ditempuh 3) Riwayat jabatan/pengalaman jabatan yang pernah ditekuni 4) lnformasi pendidikan dan pelatihan yang pernah diikuti, d) Mengunggah hasil pindai dokumen/berkas yang dipersyaratkan sebagai berikut: 1) Pas foto ukuran 3x4 dengan besar file maksimal 500 Kb. 2) Surat lamaran yang ditandatangani di atas materai Rp. 6.000,- yang ditujukan kepada Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan tembusan kepada Pimpinan unit kerja yang bersangkutan (format dapat diunduh pada menu UNDUH). 3) Surat izin mengikuti proses seleksi yang ditandatangani oleh pimpinan institusi asal (pelamar Kepala SILN: Dinas Pendidikan Pemerintah Daerah Provinsi atau Kabupaten/Kota; pelamar guru SILN: sekolah/yayasan). 4) Sertifikat Profesi Pendidik 5) Kartu Tanda Penduduk dan Akte Lahir 6) ljazah pendidikan terakhir 7) SK Pangkat dan SK Jabatan terakhir, dan dokumen Penilaian Prestasl Kerja Pegawai 2 (dua) tahun terakhir bagi pelamar Kepala SILN. 8) SK Pengangkatan sebagai Kepala SILN bagi PNS yang pernah dipekerjakan sebagai Kepala SILN. 9) Surat keterangan mengajar dari yayasan yang menunjukkan akumulasi pengalaman mengajar sesuai dengan bidang yang diampu bagi pelamar guru SILN. 10) Surat rekomendasi berkelakuan baik dari pimpinan institusi (dinas pendidikan/sekolah/yayasan). 11) Sertifikat TOEFL Prediction Score internasional/institusional atau IELTS yang masih berlaku. 12) Sertifikat/penghargaan keterampilan tambahan selain mengajar, seperti: olahraga, pramuka, seni-budaya, keagamaan, prakarya, atau teknologi informasi komunikasi (ICT), akuntansi/keuangan, dll. 13) Surat Keterangan sehat dari Dokter Pemerintah. 14) Deskripsi diri, potensi dan motivasi menjadi kepala/guru SILN dalam Bahasa Indonesia dan lnggris masing-masing 1 lembar yang diketik menggunakan jenis huruf Arial ukuran 12 dengan spasi 1,15 ukuran kertas A4 dalam format PDF. e) Menandatangi surat pernyataan bermaterai Rp.6.000,- bahwa semua dokumen yang disampaikan adalah benar dan dapat dibuktikan keasliannya (format dapat diunduh pada menu UNDUH); f) Mencetak kartu peserta seleksi.
    4. Berkas lamaran asli sebagaimana diunggah pada angka 3 huruf d) disampaikan kepada panitia seleksi pada saat seleksi lanjutan bagi pelamar yang dinyatakan lulus seleksi administrasi.
    5. Panitia hanya akan memroses lamaran bagi pelamar yang mengunggah dokumen/berkas yang dipersyaratkan secara lengkap dan benar.

    PROSES SELEKSI
    1. Daftar nama pelamar dengan kualifikasi terbaik akan diumumkan pada portal resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
    2. Pelamar yang dinyatakan lulus administrasi dapat mengikuti proses Seleksi Kompetensi yang terdiri dari: a. Bagi calon Kepala SILN: Psikotes, Uji Kemahiran Bahasa Indonesia (UKBI), Tes Kemampuan Bahasa Asing, Leaderless Group Discussion (LGD), dan Wawancara. b. Bagi calon guru SILN: Psikotes, UKBI, Tes Kemampuan Bahasa Asing, Microteaching dan Wawancara.
    3. Daftar nama peserta Seleksi Kompetensi yang dinyatakan lulus akan diumumkan melalui portal resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

    PROSES PENETAPAN KEPALA DAN GURU SILN
    1. Dalam rangka proses penetapan Kepala/Guru SILN definitif, pelamar yang dinyatakan lulus diwajibkan untuk melengkapi berkas persyaratan sebagai berikut: a. Surat lzin penugasan sebagai Kepala SILN dari Gubernur/Bupati/ Walikota bagi calon Kepala SILN. b. Surat lzin Penugasan sebagai guru SILN dari pimpinan institusi (sekolah/yayasan) bagi calon guru SILN. c. Daftar riwayat hidup dilengkapi Pas Foto berwarna (pakaian formal) dengan latar belakang putih ukuran 4x6. d. Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) sesuai domisili. e. Surat keterangan sehat raga dan jiwa serta bebas narkoba dari RS Pemerintah.
    2. Menandatangani surat pernyataan bersedia ditugaskan sebagai Kepala SILN selama 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjangan sesuai peraturan yang berlaku.
    3. Menandatangani surat pernyataan tidak menuntut menjadi PNS dan bersedia ditugaskan menjadi Guru SILN berdasarkan perjanjian kerja selama 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang sesuai peraturan yang berlaku.

    PENENTUAN KELULUSAN
    1. Pengumuman akan dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di http://mutasi.sdm.kemdikbud.go.id/siln
    2. Jadwal pengumuman final direncanakan dilaksanakan pada Minggu pertama bulan Desember 2018.
    3. Penetapan/keputusan Panitia Seleksi Bersama tahun 2018 bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat.

    KETENTUAN LAIN
    1. Setiap pelamar wajib mematuhi dan mengikuti seluruh ketentuan yang ditetapkan.
    2. Apabila dikemudian hari pelamar terbukti memberikan data yang tidak sesuai dengan fakta atau melakukan manipulasi data baik pada setiap tahapan seleksi maupun setelah diangkat menjadi Kepala/Guru SILN maka kelulusan yang bersangkutan dinyatakan batal dan/atau yang bersangkutan diberhentikan sebagai Kepala/Guru SILN.
    3. Panitia Seleksi Bersama dapat merekomendasikan calon Kepala dan Guru SILN pada negara selain yang dilamar.
    4. Apabila pelamar telah dinyatakan lulus tetapi tidak menyampaikan kelengkapan berkas untuk penetapan sebagai Kepala/Guru SILN sampai batas waktu yang ditentukan, maka kelulusan yang bersangkutan dinyatakan batal dan/atau yang bersangkutan dianggap mengundurkan diri. 
    5. Panitia Seleksi Bersama tidak melayani komunikasi dengan pelamar dalam bentuk apapun. Pelamar diharapkan selalu memantau perkembangan informasi yang diumumkan pada portal resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
    6. Segala kerugian akibat kelalaian tidak memantau perkembangan informasi yang diumumkan pada laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjadi tanggung jawab pelamar.
    *) Rencana Penjadwalan bisa berubah sesuai dengan penetapan jadwal Panitia Seleksi Bersama.

      Download Pengumuman Kemdikbud Nomor 70337/A.A3/KP/2018 Tentang Seleksi Bersama Penerimaan Kepala dan Guru Sekolah Indonesia di Luar Negeri Tahun Anggaran 2018

      Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Pengumuman Kemdikbud Nomor 70337/A.A3/KP/2018 Tentang Seleksi Bersama Penerimaan Kepala dan Guru Sekolah Indonesia di Luar Negeri Tahun Anggaran 2018 ini silahkan lihat pada file preview dan download file pada link di bawah ini:



      Download File:
      Pengumuman Kemdikbud Nomor 70337/A.A3/KP/2018 Tentang Seleksi Bersama Penerimaan Kepala dan Guru Sekolah Indonesia di Luar Negeri Tahun Anggaran 2018.pdf
      Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Pengumuman Kemdikbud Nomor 70337/A.A3/KP/2018 Tentang Seleksi Bersama Penerimaan Kepala dan Guru Sekolah Indonesia di Luar Negeri Tahun Anggaran 2018. Semoga bisa bermanfaat.

      Berkas Rujukan Perhitungan Beban Kerja Guru untuk Membantu Kelengkapan Pengisian Validasi PTK Beban Kerja Guru

      Kontributor : On Minggu, Oktober 14, 2018

      Berikut ini adalah arsip Berkas Rujukan Perhitungan Beban Kerja Guru untuk Membantu Kelengkapan Pengisian Validasi PTK Beban Kerja Guru. Download file PDF. Berkas-berkas ini antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru, Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Permendiknas Nomor 25 Tahun 2008 Tentang Standar Tenaga Perpustakaan Sekolah/Madrasah, Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tetang Standar Isi.

      Berkas Rujukan Perhitungan Beban Kerja Guru untuk Membantu Kelengkapan Pengisian Validasi PTK Beban Kerja Guru
      Berkas Rujukan Perhitungan Beban Kerja Guru untuk Membantu Kelengkapan Pengisian Validasi PTK Beban Kerja Guru

      Rujukan Perhitungan Beban Kerja Guru untuk Membantu Kelengkapan Pengisian Validasi PTK Beban Kerja Guru

      Guru
      1. Guru tanpa tugas tambahan adalah 24 s.d 40 jam tatap muka dalam 1 minggu (Pasal 52 (2)), dilaksanakan minimal 6 jam tatap muka pada sekolah tempat tugas sebagai guru tetap (Pasal 52 (3)).
      2. Guru yang mendapat tugas tambahan: a) Kepala sekolah minimal 6 jam tatap muka dalam 1 minggu atau membimbing minimal 40 orang siswa bagi kepala sekolah yang berasal dari guru BK/Konselor (Pasal 54 (1)). b) Wakil kepala sekolah minimal 12 jam tatap muka dalam 1 minggu atau membimbing minimal 80 orang siswa bagi kepala sekolah yang berasal dari guru BK/Konselor (Pasal 54 (2)). c) Kepala program keahlian (SMK) minimal 12 jam tatap muka dalam 1 minggu (Pasal 54 (3)). d) Kepala perpustakaan minimal 12 jam tatap muka dalam 1 minggu (Pasal 54 (2)). e) Kepala laboratorium dan bengkel/unit produksi (SMK) minimal 12 jam tatap muka dalam 1 minggu (Pasal 54 (5)).
      3. Guru BK membimbing minimal 150 siswa per tahun pada satu atau lebih sekolah (Pasal 54 (5)).

      Wakil Kepala Sekolah
      1. Jumlah wakil kepala sekolah maksimal 4 orang yang terdiri dari Urusan Kurikulum, Urusan Kesiswaan, Urusan Sarana Prasarana, dan Urusan Hubungan Masyarakat (Instrumen PK tugas tambahan guru pada Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010).
      2. Berdasarkan Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 (Standar Pengelolaan): a) SD tidak memiliki wakil kepala sekolah. b) SMP memiliki 1 wakil kepala sekolah. c) SMA memiliki 3 wakil kepala sekolah (Kurikulum, Kesiswaan, dan Sarana Prasarana). d) SMK memiliki 4 wakil kepala sekolah (Kurikulum, Kesiswaan, Sarana Prasarana, dan Hubungan Industri).
      3. Berdasarkan SK Dirjen Dikdasmen Depdiknas RI Nomor 541/C.C3/Kep/MN/2004 tentang Pedoman Tipe SMP: a) Tipe A (= 27 rombel): memiliki 3 wakil kepala sekolah. b) Tipe A1 (24-26 rombel): memiliki 2 wakil kepala sekolah. c) Tipe A2 (21-24 rombel): memiliki 2 wakil kepala sekolah. d) Tipe B (18-20 rombel): memiliki 2 wakil kepala sekolah. e) Tipe B1 (15-19 rombel): memiliki 2 wakil kepala sekolah. f) Tipe B2 (12-14 rombel): memiliki 1 wakil kepala sekolah. g) Tipe C (9-11 rombel): memiliki 1 wakil kepala sekolah. h) Tipe C1 (6-8 rombel): tidak memiliki wakil kepala sekolah. j) Tipe C2 (3-5 rombel): tidak memiliki wakil kepala sekolah.
      4. Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 dan SK Dirjen Dikdasmen Depdiknas RI Nomor 541/C.C3/Kep/MN/2004: a) SMA/SMK memiliki 4 wakil kepala sekolah (Kurikulum, Kesiswaan, Sarana Prasarana, dan Hubungan Masyarakat). b) SMP berdasarkan tipe sekolah: (1) Tipe A (= 27 rombel): memiliki 4 wakil kepala sekolah. (2) Tipe A1 (24-26 rombel): memiliki 3 wakil kepala sekolah. (3) Tipe A2 (21-24 rombel): memiliki 3 wakil kepala sekolah. (4) Tipe B (18-20 rombel): memiliki 3 wakil kepala sekolah. (5) Tipe B1 (15-19 rombel): memiliki 3 wakil kepala sekolah. (6) Tipe B2 (12-14 rombel): memiliki 2 wakil kepala sekolah. (7) Tipe C (9-11 rombel): memiliki 2 wakil kepala sekolah. (8) Tipe C1 (6-8 rombel): memiliki 1 wakil kepala sekolah. (9) Tipe C2 (3-5 rombel): memiliki 1 wakil kepala sekolah. c) SD tidak memiliki wakil kepala sekolah.

      Kepala Perpustakaan
      Berdasarkan Permendiknas Nomor 25 Tahun 2008 Tentang Standar Tenaga Perpustakaan Sekolah/Madrasah, Setiap sekolah/madrasah untuk semua jenis dan jenjang dapat mengangkat kepala perpustakaan, jika memiliki:
      1. Tenaga perpustakaan sekolah/madrasah lebih dari satu orang, disepakati: minimal 1 orang.
      2. Rombongan belajar (rombel) lebih dari enam, disepakati: minimal 6 rombel.
      3. Koleksi minimal 1000 (seribu) judul materi perpustakaan, disepakati: minimal 500 judul.

      Kepala Laboratorium/Bengkel
      Berdasarkan Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Standar Sarana Prasarana:

      SD
      1. Laboratorium IPA dapat memanfaatkan ruang kelas.
      2. Sarana laboratorium IPA berfungsi sebagai alat bantu mendukung kegiatan dalam bentuk percobaan.
      3. Setiap satuan pendidikan dilengkapi sarana laboratorium IPA.

      SMP
      1. Ruang laboratorium IPA berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran IPA secara praktek yang memerlukan peralatan khusus.
      2. Ruang laboratorium IPA dapat menampung minimum satu rombongan belajar.
      3. Rasio minimum luas ruang laboratorium IPA 2,4 m/peserta didik. Untuk rombongan belajar dengan peserta didik kurang dari 20 orang, luas minimum ruang laboratorium 48 m2 termasuk luas ruang penyimpanan dan persiapan 18 m2. Lebar minimum ruang laboratorium IPA 5 m.
      4. Ruang laboratorium IPA dilengkapi dengan fasilitas untuk memberi pencahayaan yang memadai untuk membaca buku dan mengamati obyek percobaan.
      5. Tersedia air bersih.
      6. Ruang laboratorium IPA dilengkapi sarana.

      SMA
      A. Ruang Laboratorium Biologi
      1. Ruang laboratorium biologi berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran biologi secara praktek yang memerlukan peralatan khusus.
      2. Ruang laboratorium biologi dapat menampung minimum satu rombongan belajar.
      3. Rasio minimum ruang laboratorium biologi 2,4 m2/peserta didik. Untuk rombongan belajar dengan peserta didik kurang dari 20 orang, luas minimum ruang laboratorium 48 m2 termasuk luas ruang penyimpanan dan persiapan 18 m2. Lebar minimum ruang laboratorium biologi 5 m.
      4. Ruang laboratorium biologi memiliki fasilitas yang memungkinkan pencahayaan memadai untuk membaca buku dan mengamati obyek percobaan.
      5. Ruang laboratorium biologi dilengkapi sarana.

      B. Ruang Laboratorium Fisika
      1. Ruang laboratorium fisika berfungsi se bagai tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran fisika secara praktek yang memerlukan peralatan khusus.
      2. Ruang laboratorium fisika dapat menampung minimum satu rombongan belajar.
      3. Rasio minimum ruang laboratorium fisika 2,4 m2/peserta didik. Untuk rombongan belajar dengan peserta didik kurang dari 20 orang, luas minimum ruang laboratorium 48 m2 termasuk luas ruang penyimpanan dan persiapan 18 m2 . Lebar ruang laboratorium fisika minimum 5 m.
      4. Ruang laboratorium fisika memiliki fasilitas yang memungkinkan pencahayaan memadai untuk membaca buku dan mengamati obyek percobaan.
      5. Ruang laboratorium fisika dilengkapi sarana.

      C. Ruang Laboratorium Kimia
      1. Ruang laboratorium kimia berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran kimia secara praktek yang memerlukan peralatan khusus.
      2. Ruang laboratorium kimia dapat menampung minimum satu rombongan belajar.
      3. Rasio minimum ruang laboratorium kimia 2,4 m2 /peserta didik. Untuk rombongan belajar dengan peserta didik kurang dari 20 orang, luas minimum ruang laboratorium 48 m2 termasuk luas ruang penyimpanan dan persiapan 18 m2. Lebar ruang laboratorium kimia minimum 5 m.
      4. Ruang laboratorium kimia memiliki fasilitas yang memungkinkan pencahayaan memadai untuk membaca buku dan mengamati obyek percobaan.
      5. Ruang laboratorium kimia dilengkapi sarana.

      D. Ruang Laboratorium Komputer
      1. Ruang laboratorium komputer berfungsi sebagai tempat mengembangkan keterampilan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi.
      2. Ruang laboratorium komputer dapat menampung minimum satu rombongan belajar yang bekerja dalam kelompok @ 2 orang.
      3. Rasio minimum luas ruang laboratorium komputer 2 m2/peserta didik. Untuk rombongan belajar dengan peserta didik kurang dari 15 orang, luas minimum ruang laboratorium komputer 30 m2. Lebar minimum ruang laboratorium komputer 5 m.
      4. Ruang laboratorium komputer dilengkapi sarana.

      E. Ruang Laboratorium Bahasa
      1. Ruang laboratorium bahasa berfungsi sebagai tempat mengembangkan keterampilan berbahasa, khusus untuk sekolah yang mempunyai Jurusan Bahasa.
      2. Ruang laboratorium bahasa dapat menampung minimum satu rombongan belajar.
      3. Rasio minimum ruang laboratorium bahasa 2 m2/peserta didik. Untuk rombongan belajar dengan peserta didik kurang dari 15 orang, luas minimum ruang laboratorium 30 m2. Lebar minimum ruang laboratorium bahasa 5 m.
      4. Ruang laboratorium bahasa dilengkapi sarana.

      Hal hal yang menyangkut Laboratorium
      1. Di SMP/SMA/SMK jika terdapat laboratorium bahasa dan atau computer dapat diakui.
      2. Kepala Laboratorium diakui jika: a. Memiliki ruangan laboratorium tersendiri. b. Memiliki sarana dan prasarana sesuai SPM. c. Memiliki/menyelenggarakan administrasi laboratorium, seperti struktur. d. organisasi, buku agenda praktik, daftar inventaris/bahan lab, jadwalpemakaian ruang. e. Memiliki laboran dan atau teknisi lab.

      Penambahan Jam Pelajaran
      1. Penambahan jam pelajaran sesuai Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tetang Standar Isi maksimal 4 (empat) jam untuk seluruh mata pelajaran.
      2. Penambahan jam pelajaran berdasarkan kepentingan siswa (peserta didik) dan dilakukan setelah melalui analisis konteks.
      3. Penambahan jam pelajaran harus dimuat dalam dokumen kurikulum, memuat alasan penambahan jam diikuti perubahan jam dalam struktur kurikulum, silabus, dan RPP.

        Download Berkas Rujukan Perhitungan Beban Kerja Guru untuk Membantu Kelengkapan Pengisian Validasi PTK Beban Kerja Guru

        Selengkapnya mengenai susunan dan isi Berkas Rujukan Perhitungan Beban Kerja Guru untuk Membantu Kelengkapan Pengisian Validasi PTK Beban Kerja Guru ini silahkan lihat dan download file pada link di bawah ini:

        Download File:
        Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru.pdf 
        Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010 Tentang Juknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru Guru dan Angka Kreditnya.pdf 
        Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.pdf 
        Permendiknas Nomor 25 Tahun 2008 Tentang Standar Tenaga Perpustakaan Sekolah-Madrasah.pdf 
        Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Standar Sarana Prasarana.pdf 
        Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi.pdf

        Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Berkas Rujukan Perhitungan Beban Kerja Guru untuk Membantu Kelengkapan Pengisian Validasi PTK Beban Kerja Guru. Semoga bisa bermanfaat.

        Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru

        Kontributor : On Minggu, Oktober 14, 2018

        Berikut ini adalah arsip berkas Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru. Download file PDF.

        Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru
        Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru


        Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru

        Di bawah ini kutipan teks/keterangan dari isi Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru:

        Kualitas manusia yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia pada masa depan adalah mampu menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan bangsa lain di dunia. Kualitas manusia Indonesia tersebut dihasilkan melalui penyelenggaraan pendidikan yang bermutu oleh pendidik profesional. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional. Oleh karena itu, guru sebagai pendidik profesional mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis. Guru sebagai tenaga profesional mempunyai visi terwujudnya penyelenggaraan pembelajaran sesuai dengan prinsip-prinsip profesionalitas untuk memenuhi hak yang sama bagi setiap warga negara dalam memperoleh pendidikan yang bermutu.

        Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menegaskan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, dan memenuhi kualifikasi lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi tempat bertugas, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

        Untuk mewujudkan fungsi, peran, dan kedudukan tersebut, guru perlu memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik yang sesuai dengan standar pendidik. Guru yang profesional akan menghasilkan proses dan hasil pendidikan yang bermutu dalam rangka mewujudkan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

        Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru harus memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum sehingga memiliki kesempatan untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya. Selain itu, perlu dilakukan berbagai upaya untuk memaksimalkan fungsi dan peran strategis yang meliputi penegakan hak dan kewajiban guru, pembinaan dan pengembangan karir guru, perlindungan hukum, perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.

        Strategi untuk mewujudkan fungsi, peran, dan kedudukan guru meliputi:
        1. penyelenggaraan pendidikan untuk peningkatan kualifikasi akademik, kompetensi, dan pendidikan profesi untuk memperoleh sertifikat pendidik;
        2. pemenuhan hak dan kewajiban guru sebagai tenaga profesional sesuai dengan prinsip profesionalitas;
        3. penyelenggaraan kebijakan strategis dalam pengangkatan, penempatan, pemindahan, dan pemberhentian guru sesuai dengan kebutuhan, baik dalam jumlah, kualifikasi akademik, kompetensi, maupun sertifikasi yang dilakukan secara merata, objektif, transparan, dan akuntabel untuk menjamin keberlangsungan pendidikan;
        4. penyelenggaraan kebijakan strategis dalam pembinaan dan pengembangan profesi guru untuk meningkatkan profesionalitas dan pengabdian profesional;
        5. peningkatan pemberian penghargaan dan jaminan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas profesional;
        6. pengakuan yang sama antara guru yang bertugas pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dengan guru yang bertugas pada satuan pendidikan yang diselenggarakan Pemerintah dan Pemerintah Daerah;
        7. penguatan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam merealisasikan pencapaian anggaran pendidikan untuk memenuhi hak dan kewajiban guru sebagai pendidik profesional; dan
        8. peningkatan peran serta masyarakat dalam memenuhi hak dan kewajiban guru.

        Pengakuan kedudukan guru sebagai pendidik profesional merupakan bagian dari keseluruhan upaya pembaharuan dalam Sistem Pendidikan Nasional yang pelaksanaannya memperhatikan berbagai peraturan perundang-undangan, antara lain, tentang kepegawaian, ketenagakerjaan, keuangan, dan Pemerintahan Daerah.

        Sertifikat pendidik bagi guru dalam jabatan dapat diperoleh melalui pendidikan profesi atau uji kompetensi. Hal ini dilandasi oleh pertimbangan bahwa pemerolehan kompetensi dapat dilakukan melalui pendidikan, pelatihan, dan pengalaman langsung yang diinternalisasi secara reflektif.

        Untuk melaksanakan amanat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen perlu ditetapkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia tentang Guru.

        Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru ini terdiri dari 9 Bab yang berisi 68 Pasal, dengan point-point penting diantaranya:

        Bab I Ketentuan Umum.
        Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

        Bab II Kompetensi dan Sertifikasi.
        Guru wajib memiliki Kualifikasi Akademik, kompetensi, Sertifikat Pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi Guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Sertifikat Pendidik bagi Guru diperoleh melalui program pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi, baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah maupun Masyarakat, dan ditetapkan oleh Pemerintah.

        Bab III Hak.
        Guru yang memenuhi persyaratan berhak mendapat satu tunjangan profesi. Guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan tetap diberi tunjangan profesi Guru apabila yang bersangkutan tetap melaksanakan tugas sebagai pendidik.


        Bab IV Beban Kerja.
        Beban kerja Guru mencakup kegiatan pokok: (a) merencanakan pembelajaran; (b) melaksanakan pembelajaran; (c) menilai hasil pembelajaran; (d) membimbing dan melatih peserta didik; dan (e) melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok sesuai dengan beban kerja Guru.

        Bab V Wajib Kerja dan Pola Ikatan Dinas.
        Dalam keadaan darurat, Pemerintah dapat memberlakukan ketentuan wajib kerja kepada Guru dan/atau warga negara Indonesia lainnya yang memenuhi Kualifikasi Akademik dan kompetensi untuk melaksanakan tugas sebagai Guru di Daerah Khusus di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dapat menetapkan pola ikatan dinas bagi calon Guru untuk memenuhi kepentingan pembangunan pendidikan nasional atau kepentingan pembangunan daerah.

        Bab VI Pengangkatan, Penempatan, dan Pemindahan.
        Pengangkatan dan penempatan Guru yang diangkat oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Guru yang ditempatkan pada jabatan struktural kehilangan haknya untuk memperoleh tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan.

        Bab VII Sanksi.
        Guru yang tidak dapat memenuhi Kualifikasi Akademik, kompetensi, dan Sertifikat Pendidik kehilangan hak untuk mendapat tunjangan fungsional atau subsidi tunjangan fungsional, dan maslahat tambahan. Guru yang tidak dapat memenuhi kewajiban melaksanakan pembelajaran 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan tidak mendapat pengecualian dari Menteri dihilangkan haknya untuk mendapat tunjangan profesi, tunjangan fungsional atau subsidi tunjangan fungsional, dan maslahat tambahan.

        Bab VIII Ketentuan Peralihan.
        Guru Dalam Jabatan yang belum memiliki Sertifikat Pendidik memperoleh tunjangan fungsional atau subsidi tunjangan fungsional dan maslahat tambahan. Pengawas satuan pendidikan selain Guru yang diangkat sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini diberi kesempatan dalam waktu 5 (lima) tahun untuk memperoleh Sertifikat Pendidik.

        Bab IX Ketentuan Penutup, dan Penjelasan.

          Download Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru

          Rujukan Perhitungan Beban Kerja Guru untuk Membantu Kelengkapan Pengisian PTK Beban Kerja Guru. (Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008).
          1. Guru tanpa tugas tambahan adalah 24 s.d 40 jam tatap muka dalam 1 minggu (Pasal 52 (2)), dilaksanakan minimal 6 jam tatap muka pada sekolah tempat tugas sebagai guru tetap (Pasal 52 (3))
          2. Guru yang mendapat tugas tambahan: a) Kepala sekolah minimal 6 jam tatap muka dalam 1 minggu atau membimbing minimal 40 orang siswa bagi kepala sekolah yang berasal dari guru BK/konselor (Pasal 54 (1)). b) Wakil kepala sekolah minimal 12 jam tatap muka dalam 1 minggu atau membimbing minimal 80 orang siswa bagi kepala sekolah yang berasal dari guru BK/konselor (Pasal 54 (2)). c) Kepala program keahlian (SMK) minimal 12 jam tatap muka dalam 1 minggu (Pasal 54 (3)). d) Kepala perpustakaan minimal 12 jam tatap muka dalam 1 minggu (Pasal 54 (2). e) Kepala laboratorium dan bengkel/unit produksi (SMK) minimal 12 jam tatap muka dalam 1 minggu (Pasal 54 (5)).
          3. Guru BK membimbing minimal 150 siswa per tahun pada satu atau lebih sekolah (Pasal 54 (5))

          Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru ini silahkan lihat pada file preview dan download file pada link di bawah ini:

          Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru



          Download File:
          Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru.pdf

          Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru. Semoga bisa bermanfaat.

          Penerapan Massive Open Online Course (MOOC) berbasis Moodle sebagai Learning Management System (LMS)

          Kontributor : On Sabtu, Oktober 13, 2018

          Berikut ini adalah arsip berkas makalah mengenai Penerapan Massive Open Online Course (MOOC) berbasis Moodle sebagai Learning Management System (LMS). Download file PDF.

          Penerapan Massive Open Online Course (MOOC) berbasis Moodle sebagai Learning Management System (LMS)
          Penerapan Massive Open Online Course (MOOC) berbasis Moodle sebagai Learning Management System (LMS)

          Penerapan Massive Open Online Course (MOOC) berbasis Moodle sebagai Learning Management System (LMS)

          Di bawah ini kutipan teks/keterangan dari berkas mengenai Penerapan Massive Open Online Course (MOOC) berbasis Moodle sebagai Learning Management System (LMS):

          Penerapan Massive Open Online Course (MOOC) berbasis Moodle sebagai Learning Management System (LMS) *)
          oleh
          Wahyu Purnomo – P4TK BOE Malang

          Abstrak
          Massive Open Online Course (MOOC) akan menjadi teknologi pembelajaran yang terus berkembang di Indonesia dikarenakan jumlah penduduk yang besar, serta upaya meningkatkan akses masyarakat kepada pelatihan dan pendidikan. Moodle adalah salah satu Learning Management System (LMS) yang digunakan untuk MOOC. Dari studi studi kasus “Teaching with Moodle: An introduction” periode 2013 – 2016 disimpulkan bahwa Moodle menyelenggarakan dengan pendekatan “social constructionist” dan fitur yang digunakan untuk mendorong keaktifan peserta juga memudahkan fasilitator mengelola pembelajaran dengan jumlah peserta yang masif adalah Forum, Workshop, Glossary, Database, Wiki, dan Blog. Semoga tulisan ini dapat memberi gambaran dan masukan bagi PTP yang terlibat dalam penyelenggaraan diklat daring dengan platform MOOC.

          PENDAHULUAN
          Pada tanggal 17 Agustus 2015 telah diluncurkan sebuah program e-learning bernama IndonesiaX dengan alamat www.indonesiax.co.id. Program IndonesiaX adalah suatu inisiatif yang terfokus pada pengembangan edukasi dan pelatihan daring (Dalam Jaringan/Online) berkualitas di Indonesia. Tujuannya adalah untuk memperluas akses masyarakat kepada pendidikan dan keterampilan hidup yang berkualitas melalui sebuah platform kursus daring terbuka secara besar-besaran atau massive open online course (MOOC) dengan perangkat sistem manajemen belajar atau learning management system (LMS) tercanggih. LMS didesain khusus untuk masyarakat Indonesia dan disajikan dalam bahasa Indonesia. Hal ini dilakukan untuk mengaktualisasikan visi Pemerintah Indonesia dalam meningkatkan akses masyarakat kepada pelatihan bersertifikat dan pendidikan terbaik.

          Sejak tahun 2014 Kemendikbud juga sudah melakukan berbagai ujicoba serta piloting sebuah program yang menerapkan konsep MOOC, yaitu diklat daring bagi guru dengan skala besar bernama Diklat Interaksi Online (DIO) yang diharapkan dapat mewadahi lebih dari 3 juta guru. Program DIO dilanjutkan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan pada tahun 2016 dengan nama program Guru Pembelajar Moda Daring, yang diharapkan pada pertengahan tahun ini sudah bisa diterapkan untuk lebih dari 1 Juta Guru.

          MOOC sepertinya akan menjadi teknologi pembelajaran yang terus berkembang di Indonesia dikarenakan jumlah penduduk yang besar, tersebar di berbagai pulau, serta upaya meningkatkan akses masyarakat kepada pelatihan dan pendidikan. MOOC memerlukan perangkat sistem manajemen belajar atau learning management system (LMS) yang khusus untuk mengelola pembelajaran dengan jumlah peserta yang masif.

          Tulisan ini mencoba mengupas sebuah LMS yaitu Moodle yang sejak 2013 melaksanakan MOOC Teaching with Moodle, dengan studi kasus “Teaching with Moodle: An introduction” periode 2013 - 2016 yang pernah penulis ikuti. Bagaimana Moodle HQ menyelenggarakan MOOC ini: Model Pembelajaran apa yang digunakan? Serta fitur atau tools Moodle apa saja yang digunakan dalam MOOC?

          Harapannya tulisan ini dapat memberi gambaran dan masukan bagi Pengembang Teknologi Pembelajaran yang terlibat dalam penyelenggaraan diklat daring dengan platform MOOC.

          PEMBAHASAN

          MOOC
          Istilah MOOC pertama kali dikemukakan oleh Dave Cormier (Manager of Web Communication and Innovations di University of Prince Edward Island) dan Bryan Alexander (Senior Research Fellow of the National Institute for Technology in Liberal Education), dalam sebuah course terbuka yang diselenggarakan oleh George Siemens (Associate director, Technology Enhanced Knowledge Research Institute di Athabasca University) dan Stephen Downes (Senior Researcher di The National Research Council, Canada). Dimana sebuah kursus berjudul "Connectivism and Connective Knowledge" disampaikan kepada 25 siswa Extended Education di University of Manitoba ditambah 2300 siswa dari masyarakat umum yang mengambil kursus secara daring dan tidak berbayar.

          Massive Open Online Course (MOOC) adalah sistem pembelajaran berupa kursus daring secara besar-besaran dan terbuka dengan tujuan untuk memungkinkan partisipasi tak terbatas dan dapat diakses melalui web. Selain menyediakan materi kursus tradisional seperti video, bahan bacaan dan pembahasan masalah, MOOCs juga menyediakan forum pengguna interaktif yang membantu dalam membangun komunitas untuk siswa, pengajar, dan asisten pengajar. MOOCs merupakan perkembangan terbaru dalam hal pendidikan jarak jauh (e-Learning) .

          Untuk mengikuti MOOC relatif mudah. Kita hanya perlu mendaftar dan memilih jenis kursus yang diikuti. Pendaftaran dan proses kuliah dilakukan secara daring. Lembaga penyedia layanan MOOC di antaranya Coursera, edX, Canvas Network, dan Miriada. Keempatnya merupakan lembaga terkemuka dengan jumlah mahasiswa terbesar. Coursera misalnya, kini memiliki mahasiswa tak kurang dari 1,7 juta orang.

          Adapun di Indonesia, salah satu layanan edukasi daring menggunakan MOOC diselenggarakan oleh IndonesiaX. Platform pembelajarannya disediakan PT Education Technology Indonesia (ETI), dengan didukung sejumlah perguruan tinggi terkemuka. Di antaranya Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Surabaya (ITS), dan lembaga pendidikan lain. Lembaga ini menyediakan kursus daring gratis dengan didukung tokoh-tokoh pendidikan terkemuka. Di antaranya Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA (mantan Menteri Pendidikan dan mantan Rektor ITS), Prof. Rhenald Kasali, Ph.D (guru besar UI), Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met (Rektor dan guru besar UI), Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DE A (Rektor ITB) serta sejumlah tokoh terkemuka lain.

          Moodle
          Moodle adalah paket perangkat lunak untuk membuat dan mengelola pembelajaran daring berbasis web. Ini adalah proyek pengembangan yang dirancang untuk mendukung kerangka konstruksionis pendidikan secara global.

          Moodle ini disediakan secara bebas sebagai perangkat lunak Open Source (di bawah GNU /General Public License). Moodle dapat diunduh di alamat http://www.moodle.org. Pada dasarnya ini berarti Moodle adalah hak cipta terdaftar, tetapi memiliki kebebasan untuk memodifikasi. Diperbolehkan untuk menyalin, menggunakan dan memodifikasi Moodle dengan syarat bahwa setuju untuk: menyediakan sumber kepada orang lain, tidak mengubah atau menghapus lisensi asli dan hak cipta, dan menerapkan lisensi yang sama untuk setiap karya turunan. 

          Moodle dapat diinstal pada setiap komputer yang dapat menjalankan PHP, dan dapat mendukung tipe database SQL (misalnya MySQL). Hal ini dapat berjalan pada sistem operasi Windows dan Mac dan banyak distribusi Linux. Ada Moodle Partner yang memiliki banyak ahli untuk membantu, bahkan menyediakan hosting situs Moodle .

          Moodle awalnya merupakan singkatan dari Modular Object-Oriented Learning Environment. Aplikasi Moodle dikembangkan pertama kali oleh Martin Dougiamas pada Agustus 2002 dengan Moodle Versi 1.0. Saat ini Moodle dipakai oleh siapa saja secara Open Source. Dia adalah seorang ahli komputer dan pendidik yang menghabiskan sebagian waktunya untuk mengembangkan learning management sytem di salah satu perguruan tinggi di kota Perth, Australia.

          Moodle mulai dikembangkan pada tahun 1999 dan pertama kali dirilis pada 20 Agustus 2002 yaitu versi 1.0, dan sampai saat ini sudah dikembangkan versi 3.0. Nama Moodle telah memberikan banyak inspirasi bagi pengembangan e‐learning.

          Teaching with Moodle MOOC
          Teaching with Moodle: An Introduction diselenggarakan di situs Moodle – www.learn.moodle.net - dirancang dan dikembangkan oleh Moodle HQ untuk platform MOOCs. Kursus ini gratis bagi siapa saja yang ingin menggunakan platform pembelajaran Moodle untuk mengajar, apakah itu di sekolah, universitas, perusahaan atau hanya kepentingan pribadi. MOOC ini dirancang untuk memberikan dasar yang baik dan konteks untuk Moodle, tentu saja mencakup dasar-dasar dari platform pembelajaran open source, termasuk cara mengatur dan efektif menggunakan Moodle dalam mengajar.

          Periode September 2013 ada 9.522 orang dari lebih dari 150 negara di seluruh dunia berpartisipasi untuk mendaftar dan mengikuti kursus ini. Kursus ini diampu oleh 3 orang instruktur saja yaitu Mary Cooch, Helen Foster and Eamon Costello. Untuk periode Januari 2016 diikuti oleh 5.596 peserta, dan hanya diampu oleh Mary Cooch. 

          Meskipun MOOC itu disampaikan dalam bahasa Inggris, peserta didorong untuk posting di forum dan memasukkan data dalam kegiatan lain dalam bahasa mereka sendiri. Antarmuka Moodle diterjemahkan ke dalam lebih dari 100 bahasa dan peserta bisa memilih bahasa mereka sendiri dalam profil mereka. Ada 53 bahasa yang berbeda dipilih oleh peserta.

          Model Pembelajaran
          MOOC “Teaching with Moodle: An Introduction” berdurasi selama 4 minggu, dengan menawarkan program pembelajaran:
          • Terstruktur, sehingga peserta diharapkan mudah untuk memahami materi pembelajaran.
          • Ada pilihan sesi pengajaran langsung (live) setiap minggunya.
          • Kursus berbasis kegiatan pembelajaran (activity) di mana peserta membuat program mereka sendiri.
          • Tersedia tool penilaian, yaitu pada kegiatan seperti kuis, glosarium dan tugas.

          Sesi pembelajaran langsung (live) dilaksanakan setiap minggunya, dan sumber-sumber pembelajaran (teks dan video) tersedia juga bagi peserta. Sesi langsung (live) bersifat optional karena tentu tidak dapat diikuti oleh seluruh peserta karena perbedaan waktu geografis, sehingga sesi tersebut direkam, dan dapat diikuti pada waktu yng sesuai. Namun, kekuatan MOOC bukan pada konten yang statis tetapi dibangun dengan “social constructionist”, dengan peserta terhubung satu dengan yang lain dan belajar bersama membuat konten, tidak hanya membaca konten secara pasif.

          Pendiri Moodle yaitu Martin Dougiamas, mulai mengembangkan Moodle sebagai bagian dari proyek PhD-nya tentang “Improving the effectiveness of tools for Internet based education”. Dari awal, desain dan pengembangan Moodle telah dipandu oleh pedagogi sosial konstruksionis. Moodle menggunakan acuan konstruksionis untuk model keterlibatan peserta dengan konten dan satu sama lain. Lima acuan, yang dituangkan dalam dokumentasi Moodle di https://docs.moodle.org/30/en/Pedagogy, adalah konsep membimbing untuk membangun komunitas pembelajar dan dengan demikian membentuk dasar dari kegiatan yang digunakan dalam MOOC tersebut.

          Fitur-fitur Moodle
          Berbagai fitur atau alat digunakan dalam LMS Moodle untuk penyelenggaraan MOOC “Teaching with Moodle: An Introduction” ini. Semuanya diharapkan dapat mendorong keterlibatan peserta dengan konten dan satu sama lain, serta menunjukkan kursus ini berbasis kegiatan belajar (activity base).

          Sumber Belajar/Bahan Bacaan
          Fitur yang digunakan untuk sumber belajar/bahan bacaan adalah: Page, Book dan Lesson. Page adalah sebuah halaman berisi informasi di awal sesi, dan juga pada panduan singkat. Book adalah bahan bacaan yang terdiri dari beberapa halaman, namun yang disampaikan di sini tidak lebih dari 15 halaman pada setiap sesi, bahkan ada yang hanya 6 halaman. Sumber belajar lainnya berupa Lesson, yaitu seperti Book, tetapi di dalamnya langsung ada kegiatan belajar berupa quiz ataupun pertanyaan- pertanyaan terkait materi, sehingga lebih interaktif dibanding Book. Baik Page, Book dan Lesson, terkadang juga memuat video embedding yang ada di Youtube, untuk memberikan gambaran yang lebih jelas.

          Forum
          Fitur forum digunakan untuk diskusi, dan disediakan pada setiap sesi. Bagi pengguna Moodle yang baru, ini kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, agar mendapat jawaban dari yang lebih berpengalaman, dan peserta bebas berbagi apa yang telah mereka pelajari dan membuat saran untuk perbaikan ke orang lain.

          Meskipun ini adalah nilai dalam belajar kolaboratif, tetapi ada beberapa masalah dengan manajemen forum. Pengguna baru Moodle merasa frustrasi dengan volume email pemberitahuan forum dan berjuang dalam mencari melalui posting forum yang sesuai; semua peserta sama mengalami ketidakmampuan untuk berlangganan hanya satu thread forum; hal ini karena jumlah peserta yang sangat besar dan dari perspektif fasilitator, memiliki pilihan untuk menjaga diskusi tertentu agar selalu di bagian atas dan untuk dapat menutup diskusi yaitu mencegah balasan lebih panjang.

          Untuk menjawab permasalah di atas, pada forum ada fasilitas pencarian (search) dan juga fasilitas yang memungkinkan peserta berlangganan hanya satu thread forum, ini sebagai fitur baru dari Moodle (versi 2.8). Disinilah Moodle selalu terus berinovasi secara pedagogi. Penggunaan fitur forum inilah pedagogi sosial konstruksionis diterapkan.

          Workshop
          Fitur workshop pada Moodle memungkinkan untuk penilaian diri dan rekan (peer assessment). Mengingat kendala adanya waktu dan bahasa maka workshop pada MOOC “Teaching with Moodle: An Introduction” dibuat untuk tugas dengan instruksi yang sangat mudah, dengan gradasi rubrik yang sama. Peserta harus menulis tiga kalimat yang menggambarkan negara asal mereka dan menyertakan gambar dan link ke halaman Wikipedia tentang negara mereka.

          Glossary
          Fitur lain di Moodle yang dapat mengajak partisipasi aktif peserta adalah glossary (Glosarium). Peserta dapat menambahkan entri sebanyak yang mereka inginkan, berupa terminology atau istilah terkait materi, dan juga bisa mengomentari entri lain. Nilai tambah dari terminologi dalam glossary yang diisikan adalah dengan membuat secara otomatis hyperlink ke bagian lain dalam kursus di mana terminologi/kata itu digunakan (menggunakan glossary auto-linking filter). Namun, fitur ini menyebabkan beberapa gangguan dengan hyperlink dalam kata-kata tertentu (misalnya 'ID' dan “provide” akan auto-linked) jadi memang sangat sensitive dan harus hati-hati penggunaan glossary auto-linking filter

          Database
          Seperti glossary, peserta bisa menambahkan entri ke aktivitas database, dan juga menilai dan mengomentari entri lain. Bedanya dengan glossary adalah field (kolom) dari database dapat ditentukan sendiri oleh fasilitator. Pada MOOC “Teaching with Moodle: An Introduction” dibuat database tentang makanan para Moodler (pengguna moodle), mereka diminta memasukan makanan kesukaan, disertai foto serta resep makanan tersebut.

          Wiki
          Pelajaran dari aktivitas wiki pada Moodle bahwa tugas harus sangat jelas dan instruksi eksplisit diberikan kepada peserta seputar penggunaan wiki ini. Hal ini supaya menghindari masalah teknis dengan beberapa peserta mencoba untuk mengedit pada saat yang sama. 

          Blog
          Peserta didorong untuk menulis blog, baik dalam Moodle atau pada platform blogg ing yang biasa mereka gunakan seperti Blogger atau Wordpress, sebagai cara berbagi pengalaman serta sebagai refleksi pembelajaran ke publik atau sesasma peserta Selain itu juga dapat memberikan komentar pada postingan blog. Blog juga menjai fitur yang efektif untuk melibatkan peserta dalam kegiatan belajar berplatform MOOC. 

          Penghargaan bagi peserta
          Pada pelaksanaan MOOC “Teaching with Moodle: An Introduction” periode Januari 2016 ada 2 jenis penghargaan diberikan kepada peserta, yaitu Badge (lencana) dan Sertifikat.

          Badge atau lencana
          Lencana diberikan sebagai penghargaan kepada peserta atas partisipasi dan penyelesaian MOOC. Lencana berupa Mozilla Open Badges memberikan pengakuan atas prestasi, terintegrasi dengan Moodle dan merupakan cara populer memotivasi siswa/peserta dalam diklat daring di dunia.

          Peserta relatif mudah untuk mendapatkan lencana The Learn Moodle Participant. Sedangkan lencana The Learn Moodle completer itu hanya untuk peserta yang paling berkomitmen untuk menyelesaikan seluruh aktifitas kegiatan belajar.

          Moodle tidak menampilkan lencana The Learn Moodle completer apabila peserta sangat terlambat dalam penyelesaian kegiatan kursus. Ini memiliki bonus tambahan bagi peserta yang berkomitmen untuk menyelesaikan seluruh aktifitas


          PENUTUP
          Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa hal :
          • Kekuatan MOOC Moodle bukan pada konten yang statis tetapi dibangun dengan “social constructionist”, dengan peserta terhubung satu dengan yang lain dan belajar bersama membuat konten, tidak hanya membaca konten secara pasif. serta berbasis aktivitas atau kegiatan belajar.
          • Fitur-fitur dari Learning Management System Moodle yang digunakan untuk melibatkan seluruh peserta MOOC adalah Forum, Workshop, Glossary, Database, Wiki, dan Blog. Fitur ini selain dapat mendorong keaktifan peserta juga memudahkan fasilitator mengelola pembelajaran dengan jumlah peserta yang massif.
          • Moodle juga memiliki fitur Badge dan Certificate untuk memberikan penghargaan kepada peserta MOOC.
          • Moodle sangat sesuai digunakan sebagai Learning Management System dalam penyelenggaraan MOOC.

            Download berkas mengenai Penerapan Massive Open Online Course (MOOC) berbasis Moodle sebagai Learning Management System (LMS)

            Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas makalah mengenai Penerapan Massive Open Online Course (MOOC) berbasis Moodle sebagai Learning Management System (LMS) ini silahkan lihat pada file preview dan download file pada link di bawah ini:

            Penerapan Massive Open Online Course (MOOC) berbasis Moodle sebagai Learning Management System (LMS)



            Download File:
            Penerapan Massive Open Online Course (MOOC) berbasis Moodle sebagai Learning Management System (LMS).pdf

            Contoh Jurnal Membaca Harian Program Gerakan Literasi di Sekolah

            Kontributor : On Senin, Oktober 01, 2018

            Berikut ini adalah arsip berkas Contoh Jurnal Membaca Harian Program Gerakan Literasi di Sekolah. Download file dalam format .docx Microsoft Word.

            Contoh Jurnal Membaca Harian Program Gerakan Literasi di Sekolah
            Contoh Jurnal Membaca Harian Program Gerakan Literasi di Sekolah

            Contoh Jurnal Membaca Harian Program Gerakan Literasi di Sekolah

            Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Contoh Jurnal Membaca Harian Program Gerakan Literasi di Sekolah ini silahkan lihat pada file preview dan download pada link di bawah ini:

             


            Download File:
            Jurnal Membaca.docx 
            Rekapitulasi Jurnal Membaca.docx
            Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Contoh Jurnal Membaca Harian Program Gerakan Literasi di Sekolah. Semoga bisa bermanfaat.

            Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan

            Kontributor : On Rabu, September 26, 2018

            Berikut ini adalah arsip berkas Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan. Download file dalam format PDF.

            Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan
            Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan

            Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan

            Berikut ini kutipan teks/keterangan dari isi Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan.

            Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan - Dr. Tita Rosita, M.Pd.

            Dalam era otonomi daerah, pendidikan merupakan urusan wajib pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang membutuhkan peran serta aktif masyarakat. Dalam kaitan tersebut pendidikan memiliki program yang harus diselenggarakan secara berkesinambungan dengan memberdayakan seluruh sumber-sumber yang dimiliki oleh organisasi pendidikan. Mengingat pendidikan adalah kegiatan yang dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambungan serta melibatkan berbagai sumber daya dan kepentingan berbagai pihak maka penyelenggaraan pendidikan perlu direncanakan dengan baik.

            Sebagaimana kita pahami bersama, pendidikan sebagai upaya untuk mempercepat pengembangan sumber daya manusia agar mampu menjalankan tugasnya dan sampai saat ini, pendidikan masih disepakati sebagai salah satu faktor yang sangat penting dalam membangun kehidupan manusia di masa akan datang. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh proses pendidikan yang berperan sebagai sarana untuk membentuk manusia seutuhnya dan menumbuh kembangkan potensi yang ada sesuai dengan UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 yaitu bahwa penyelenggaraan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Di samping itu, pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri. 

            Pendekatan manajemen perencanaan yang terukur dan terarah di bidang pendidikan merupakan upaya strategis yang memungkinkan pendidikan dapat terselenggara dengan baik dan mencapai tujuan yang dicita-citakan. Perencanaan pendidikan memfokuskan perhatian pada langkah-langkah tertentu yang diambil oleh penyelenggara pendidikan untuk menjamin bahwa pendidikan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu dan ukuran keberhasilan yang sudah ditentukan.

            Sebagai bagian dari penyelenggaraan pendidikan, langkah perencanaan sangatlah penting, apalagi bidang yang direncanakan adalah bidang yang sangat subtansial yaitu pendidikan, yang merupakan langkah awal dalam pembentukan karakter sumber daya manusia. Dari pandangan ini, berarti diperlukan perencanaan terpadu secara horizontal [antarsektor] dan vertikal [antarjenjang – bottom-up dan top-down planning], pendidikan harus berorientasi pada peserta didik dan pendidikan harus bersifat multikultural serta pendidikan dengan perspektif global” (Fasli Jalal dalam Sanaky, 2003 dalam hooglemp.blogspot.com/ diunduh 4 Desember 2011).

            Sejalan dengan perkembangan kemajuan teknologi, khususnya di bidang informasi, perencanaan bidang pendidikan juga harus mengantisipasi perubahan kondisi seperti saat ini. Dalam kaitan ini perencanaan pendidikan harus lebih kreatif dalam beradaptasi dan berkembang sesuai dengan perkembangan dan kemajuan teknologi. Dengan kondisi perkembangan tersebut serta meningkatnya aspirasi masyarakat terhadap keberhasilan penyelenggaraan pendidikan maka pendidikan selalu dituntut untuk cepat tanggap atas perubahan yang terjadi dan melakukan upaya yang tepat secara normatif sesuai dengan harapan masyarakat.

            Dalam konteks masyarakat Indonesia, nilai-nilai, norma sosial, keunggulan ilmu pengetahuan dan kebangsaan senantiasa merupakan amanat yang harus disampaikan dalam pendidikan dari generasi ke generasi. Lebih dari itu, masyarakat secara umum juga mengharapkan hasil pendidikan bukan hanya berupa lulusan yang memiliki nilai akademik yang baik namun juga lulusan yang dapat diterima di masyarakat dan dapat memberikan sumbangan nyata bagi kemajuan bangsa. Dengan demikian, tugas pendidikan sangat berat dan kompleks sehingga peran perencanaan sangat penting untuk memberikan petunjuk tentang arah dan tindakan yang harus ditempuh oleh penyelenggaraan pendidikan guna mencapai tujuan pendidikan tersebut.

            Terkait dengan pemberdayaan sumber-sumber dalam penyelenggaraan pendidikan maka salah satu sumber yang sangat penting adalah sumber daya ekonomi termasuk di dalamnya sumber daya berupa biaya. Dalam kaitan ini, aspek ekonomi dalam pendidikan dipandang sebagai sumber daya kemajuan ekonomi suatu masyarakat, begitu juga sebaliknya, kemajuan pendidikan memerlukan dukungan ekonomi yang kuat (Sudomo, 1989). Bahkan pendidikan itu dalam bidang ekonomi dianggap sebagai human capital (Cohn, 1979; Becker 1975; Psacharopoulus, 1987; John, dkk, 1975; Bloug,

            1970), di samping juga sebagai investasi yang essensial bagi pertumbuhan ekonomi (Vembriarto, 1993). Para ahli ekonomi berpendapat bahwa pengeluaran untuk pendidikan, pelatihan, pelayanan kesehatan merupakan investasi dalam bentuk human capital. Ahli ekonomi menyebutnya sebagai human capital karena manusia tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan, keterampilan, kesehatan dan nilai-nilai yang dianutnya (Becker, 2008).

            Dalam konteks penyelenggaraan pendidikan, faktor biaya memegang peranan yang sangat penting dalam pembangunan pendidikan. Pentingnya pembiayaan pendidikan antara lain ditunjukkan dengan proses politik pada saat penentuan besarnya anggaran pendidikan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja dan Negara (APBN). Di samping itu, masalah alokasi pembiayaan juga diprioritaskan pada upaya meningkatkan mutu pendidikan, pemerataan, efisiensi, dan relevansi pendidikan. Secara nyata, semua upaya dalam perbaikan kualitas pendidikan pemikiran ini akan selalu dikaitkan dengan aspek biaya. Bahkan Undang-Undang telah mengamanatkan bahwa pembiayaan untuk sektor pendidikan harus mencapai 20% dari APBN. Dengan demikian, biaya pendidikan merupakan faktor input yang sangat penting dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan menjalankan fungsi pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

            Merujuk pada dua bidang kajian dalam manajemen pendidikan yaitu perencanaan dan pembiayaan pendidikan maka dibutuhkan suatu pemahaman yang menyeluruh dan terstruktur tentang bagaimana peranan dan fungsi perencanaan pendidikan serta peranan dan fungsi pembiayaan pendidikan. Modul ini merupakan pengantar dalam memahami berbagai kajian lain yang terkait dengan dua hal tersebut. Pada modul ini akan dibahas peranan dan fungsi perencanaan dalam manajemen pendidikan.

            Setelah mempelajari modul ini Anda diharapkan dapat memahami dan menjelaskan peranan dan fungsi perencanaan pendidikan serta pembiayaan pendidikan dalam konteks manajemen pendidikan.

            Adapun kompetensi khusus yang diharapkan dapat Anda capai setelah mempelajari modul ini yaitu: 
            1. menjelaskan pengertian manajemen pendidikan,
            2. menjelaskan unsur-unsur dalam manajemen pendidikan,
            3. menjelaskan peranan perencanaan dalam manajemen pendidikan,
            4. menjelaskan fungsi perencanaan dalam manajemen pendidikan,
            5. mengidentifikasi peranan perencanaan dalam konteks Manajemen Pendidikan dan Unsur Uang/Money sebagai sumber daya organisasi,
            6. menyusun perencanaan berdasarkan pendekatan 5 W dan 1 H, dan
            7. menghitung kebutuhan biaya pendidikan terkait dengan direct cost dan opportunity cost.

            Peranan dan Fungsi Perencanaan Pembiayaan Dalam Manajemen Pendidikan
            Konsep manajemen ilmiah Taylor menekankan pentingnya struktur dan desain dalam penyelesaian tugas organisasi. Penelitiannya memberi andil bagi pengembangan teknik manajemen dalam standarisasi kerja, perencanaan tugas, studi waktu dan gerak, piece rate, dan penghematan biaya dan terbentuknya bidang studi seperti pengawasan, teknik industri, manajemen industri, dan manajemen personal. Taylor mendeskripsikan manajemen ilmiah adalah ”penggunaan metode ilmiah untuk menentukan cara terbaik dalam menyelesaikan suatu pekerjaan”.

            Dalam kaitannya dengan penyelenggaraan manajemen pendidikan prinsip-prinsip manajemen ilmiah hal yang juga menjadi dasar dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan. Fungsi-fungsi manajemen pendidikan antara lain yakni:
            a. Fungsi Perencanaan (Planning)
            b. Fungsi Pengorganisasian (Organizing)
            c. Fungsi Pengarahan (Actuating)
            d. Fungsi Pengawasan (Controlling)

            Fungsi perencanaan adalah sebagai pedoman pelaksanaan dan pengendalian, sebagai alat bagi pengembangan quality assurance, menghindari pemborosan sumber daya dan sebagai upaya untuk memenuhi accountability kelembagaan. Jadi, hal yang terpenting di dalam menyusun suatu rencana adalah berhubungan dengan masa depan, seperangkat kegiatan, proses yang sistematis, dan hasil serta tujuan tertentu Tilaar (1997). Berdasarkan pendapat tersebut maka dengan melakukan perencanaan yang baik misalnya dengan memperhitungkan biaya yang dibutuhkan untuk suatu kegiatan dengan cermat maka upaya untuk mencapai efisiensi biaya dapat dicapai. Di samping itu, upaya tersebut juga menghindarkan pemborosan. Fungsi perencanaan sebagai akuntabilitas lembaga menunjukkan bahwa dengan adanya perencanaan maka pelaksanaan kegiatan dapat lebih dipertanggungjawabkan karena kegiatan tersebut dilakukan atas dasar perhitungan yang rinci, kesepakatan, dan memiliki kejelasan batasan dalam pelaksanaannya.

            Suatu perencanaan strategis diawali dengan adanya penentuan misi atau tujuan yang dilanjutkan dengan analisis lingkungan internal dan eksternal. Perencanaan strategis pada dasarnya merupakan falsafah, yaitu suatu sikap, a way of life, suatu proses berpikir dan suatu aktivitas intelektual (Steiner dalam J. Salusu 2002). Dengan demikian, rencana strategis merupakan pendekatan perencanaan yang bersifat situasional karena didasarkan pada kebutuhan, kondisi empiris dan tantangan yang dihadapi oleh organisasi. Keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan adalah informasi yang lengkap tentang kondisi internal dan eksternal organisasi.

            Pendidikan merupakan salah satu faktor penting untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Peningkatan kualitas pendidikan diharapkan dapat menghasilkan manfaat berupa peningkatan kualitas SDM. Di sisi lain, prioritas alokasi pembiayaan pendidikan seyogianya diorientasikan untuk mengatasi permasalahan dalam hal aksebilitas dan daya tampung. Oleh karena itu, dalam mengukur efektivitas pembiayaan pendidikan, terdapat sejumlah prasyarat yang perlu dipenuhi agar alokasi anggaran yang tersedia dapat terarah penggunaannya. 

            Menurut Adam Smith, Human Capital yang berupa kemampuan dan kecakapan yang diperoleh melalui Pendidikan, belajar sendiri, belajar sambil bekerja memerlukan biaya yang dikeluarkan oleh yang bersangkutan.

            Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya dan pembiayaan pendidikan sekolah hal ini dipengaruhi oleh:
            1. Kenaikan harga (rising prices)
            2. Perubahan relatif dalam gaji guru (teacher’s sallaries)
            3. Perubahan dalam populasi dan kenaikannya prosentasi anak di sekolah negeri
            4. Meningkatnya standar pendidikan (educational standards)
            5. Meningkatnya usia anak yang meninggalkan sekolah
            6. Meningkatnya tuntutan terhadap pendidikan lebih tinggi (higher education)
            Jenis- jenis pembiayaan pendidikan antara lain adalah:
            1. Biaya Langsung dan Tidak langsung (Direct and Indirect Cost)
            2. Biaya Rutin dan Biaya Pembangunan (Recurrent and Capital Cost)
            3. Biaya Pribadi dan Biaya Masyarakat (Private and Social Cost)
            4. Monetary Cost dan Non Monetery Cost

            Manajemen ilmiah merupakan manajemen yang berbagi dengan teori administrasi dan teori birokrasi yang menekankan pada sisi logika, perintah dan hierarki dalam organisasi. Frederick Winslow Taylor merupakan pendukung paling berpengaruh dalam perkembangan ilmu ini dengan menyumbangkan banyak pemikiran mengenai manajemen ilmiah, misalnya dalam Manajemen Ilmiah (1974), yang pertama dipublikasikan pada tahun 1911 dan studi di pabrik mesin Bethlehem Steel Corporation. Frank dan Lillian Gilbreth kemudian meneruskan perjuangan Taylor dan mereka menyempurnakan studi waktu dan gerak dalam ilmu pengetahuan yang menggunakan analisis gambar gerak untuk mengevaluasi kinerja pegawai.

            Fungsi perencanaan adalah sebagai pedoman pelaksanaan dan pengendalian, sebagai alat bagi pengembangan quality assurance, menghindari pemborosan sumber daya, menghindari pemborosan sumber daya, dan sebagai upaya untuk memenuhi accountability kelembagaan.

            Perencanaan merupakan tindakan menetapkan terlebih dahulu apa yang akan dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, apa yang harus dikerjakan dan siapa yang akan mengerjakannya. Untuk dalam menyusun sebuah perencanaan yang baik, seorang pemimpin harus benar-benar tanggap terhadap kondisi lingkungan sekitarnya dan bisa memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang mungkin muncul di masa yang akan datang. Lebih lanjut Roger A. Kauffman (1972) menjelaskan bahwa Perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dan menetapkan jalan serta sumber yang diperlukan untuk seefisien dan seefektif mungkin.

            Yang harus dirumuskan dalam penyusunan dokumen perencanaan sederhana adalah memuat:
            a. What : nama kegiatan yang akan dikerjakan.
            b. Why : alasan mengapa pekerjaan itu harus dilakukan/ latar belakang pelaksanaan.
            c. Who : siapa saja/apa saja yang dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
            d. When : Kapan pekerjaan tersebut dikerjakan 
            e. Where : Di mana pekerjaan itu dilakukan.
            f. How : Bagaimana cara mengerjakannya/ prosedur pelaksanaannya.

            Untuk dapat tercapai tujuan pendidikan yang optimal, maka hal yang paling penting adalah mengelola biaya dengan baik sesuai dengan kebutuhan dana yang diperlukan. Administrasi pembiayaan minimal mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Penyaluran anggaran perlu dilakukan secara strategis dan integratif antara stakeholder agar mewujudkan kondisi ini, perlu dibangun rasa saling percaya, baik internal pemerintah maupun antara pemerintah dengan masyarakat dan masyarakat dengan masyarakat itu sendiri dapat ditumbuhkan. Keterbukaan, partisipasi, akuntabilitas dalam penyelenggaraan pendidikan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan menjadi kata- kata kunci untuk mewujudkan efektivitas pembiayaan pendidikan.

            Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya dan pembiayaan pendidikan sekolah hal ini dipengaruhi oleh:
            a. Kenaikan harga (rising prices).
            b. Perubahan relatif dalam gaji guru (teacher’s sallaries).
            c. Perubahan dalam populasi dan kenaikannya prosentasi anak di sekolah negeri.
            d. Meningkatnya standar pendidikan (educational standards). 
            e. Meningkatnya usia anak yang meninggalkan sekolah.
            f. Meningkatnya tuntutan terhadap pendidikan lebih tinggi (higher education).

            Jenis- jenis pembiayaan pendidikan antara lain adalah:
            a. Biaya Langsung dan Tidak langsung (Direct and Indirect Cost).
            b. Biaya Rutin dan Biaya Pembangunan (Recurrent and Capital Cost).
            c. Biaya Pribadi dan Biaya Masyarakat (Private and Social Cost).
            d. Monetary Cost dan Non Monetery Cost.

              Download Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan

              Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan ini silahkan lihat file preview dan download pada link di bawah ini:

              Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan



              Download File:
              Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan - Dr. Tita Rosita, M.Pd..pdf

              Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Modul Peranan, Fungsi Perencanaan,dan Pembiayaan dalam Manajemen Pendidikan. Semoga bisa bermanfaat.